RGB ✅️duniaviral

Kenapa harus MBG? Yang anggran 15 ribu tiap menu tp nyatanya⁉️
23/01/2026

Kenapa harus MBG? Yang anggran 15 ribu tiap menu tp nyatanya⁉️

Jagat maya sedang panas dingin melihat kasus di Jawa Barat yang viral ini.Seorang pemilik warung yang menjadi korban pen...
19/01/2026

Jagat maya sedang panas dingin melihat kasus di Jawa Barat yang viral ini.

Seorang pemilik warung yang menjadi korban pencurian justru nasibnya berakhir tragis.

Sudah rugi barang dicuri, kini statusnya malah naik pangkat jadi Tersangka.

Penyebabnya sepele tapi fatal, yaitu sebuah "keplakan" (pukulan ringan di kepala) yang mendarat di kepala si bocah maling.

Drama bermula saat si pemilik warung memergoki seorang bocah melakukan aksi panjang tangan.

- Bukannya mengaku dan minta maaf, si bocah justru denial alias menyangkal habis-habisan meski sudah ketahuan.

- Karena kesal si bocah ngeyel, pemilik warung secara refleks mendaratkan satu kali "keplakan" di kepala si bocah, mungkin niatnya untuk "me-reset" isi kepala biar jujur, tapi dampaknya justru fatal secara hukum.

Alih-alih datang untuk menjewer anaknya yang nakal dan minta maaf ke pemilik warung, keluarga si bocah justru melihat "peluang bisnis" dari kejadian ini.

- Tak terima anaknya dikeplak (tapi lupa anaknya maling), keluarga melaporkan pemilik warung atas dugaan penganiayaan/kekerasan anak.

- Korban mengaku diintimidasi dan dimintai uang damai puluhan juta rupiah, bayangkan barang yang dicuri mungkin tak seberapa, tapi "denda" keplaknya seharga motor baru.

Polisi bertindak cepat, namun arahnya membuat netizen bingung.

- Berdasarkan laporan tersebut, pemilik warung resmi ditetapkan sebagai
- Warganet mengamuk, mereka menilai ini adalah bentuk kriminalisasi.

Logika netizen: "Masa maling dilindungi, yang punya barang malah mau dipenjara cuma gara-gara noyor kepala?"

Merasa diperlakukan tidak adil dan ditekan sana-sini, korban akhirnya curhat dan mengadukan nasibnya langsung ke Gubernur Jawa Barat.

Ia berharap ada keadilan restoratif yang masuk akal, bukan pemerasan berkedok hukum.

Kasus ini menjadi pelajaran mahal (seharga puluhan juta), di zaman sekarang, menghadapi bocah nakal itu serba salah.

Dibiarkan rugi, dikeplak sedikit langsung kena pasal perlindungan anak plus "tagihan" damai.

Semoga Kang Dedi Mulyadi bisa meluruskan logika yang bengkok ini.

Parman (46), anggota Satpol PP Kota Surabaya ini sama sekali tidak menyangka, saat melakukan razia di sebuah hotel, mend...
19/01/2026

Parman (46), anggota Satpol PP Kota Surabaya ini sama sekali tidak menyangka, saat melakukan razia di sebuah hotel, mendapati anaknya sendiri, Yani (19) sedang berduaan dengan sang pacar, Bandy (24). Marah dan menanggung malu di depan rekan-rekannya, sang anak dan pacarnya pun dimarahi habis-habisan.
Ironis memang, sang anak ternyata masih bandel dan ingin tetap berada di kamar bersama pacarnya. Ketika digerebek memang sang anak dan pacarnya belum berbuat m3sum. Mereka hanya sempat duduk-duduk saja di dalam kamar. Namun Parman tetap tidak bisa menyembunyikan kemarahannya.
Dia mengancam dan meminta Bandy untuk segera menemuinya di rumah nanti. Mereka berdua diminta untuk segera pulang ke rumah saat itu juga, namun Yani sang anak mokong, tidak bersedia pulang.

Parman yang memuncak emosinya pun langsung menggendong anak perempuannya tersebut untuk dibawa keluar dari kamar hotel. Aksi itu sempat jadi bahan tertawaan rekan-rekan Satpol PP yang melakukan razia. Yani yang sudah menginjak dewasa itu hanya bisa meronta-ronta seperti anak kecil sambil menutupi wajahnya karena malu. “Saya tidak menyangka dan kaget sekali bertemu anak saya sendiri di hotel tersebut. Saya malu dan marah sekali melihat hal itu,” ujar Parman.

Parman sendiri mengaku secepatnya akan menyelesaikan masalah anaknya tersebut dengan Bandy. Mereka kan segera mengundang orang tua Bandy untuk bertemu membicarakan nasib anak-anak.

“Ini kita lakukan untuk menjaga agar tidak terjadi fitnah dan akan membicarakan atas kelakuan mereka secara kekeluargaan," pungkas Parman..😅

18/01/2026

Riyanto Bun*h tetangga yang memp3rk0sa ibunya Karna tidak mendapat ke4dilan..Di balik selembar penutup wajah hitam, tida...
18/01/2026

Riyanto Bun*h tetangga yang memp3rk0sa ibunya Karna tidak mendapat ke4dilan..
Di balik selembar penutup wajah hitam, tidak ada tunduk lesu atau isak tangis penyesalan. Maulud Riyanto (18) berdiri tegak di depan sorotan kamera dengan tatapan yang dingin. Kalimat yang
meluncur dari bibirnya pun sanggup membuat bulu kuduk merinding:
"Saya m3mbun*h tetangga saya. Tidak menyesal, justru saya merasa lega."
Ini bukan sekadar pengakuan kriminal biasa. Ini adalah jeritan dari sebuah batin yang sudah mati rasa, sebuah dendam kesumat yang dipelihara dengan rapi sejak ia masih mengenakan seragam merah putih.
Luka yang Dipaksa Sembuh oleh Kata "Damai"
Bayangkan seorang anak kecil di bangku Sekolah Dasar harus menyaksikan dunianya runtuh dalam sekejap. Maulud melihat ibunya, sosok pelindung utamanya, menjadi korban pem3rk0s4an oleh tetangganya sendiri, Yasin Fadilah.
Namun, yang lebih menyakitkan dari kejadian itu adalah apa yang terjadi setelahnya. Alih-alih mendapatkan keadilan hukum, kasus tersebut diselesaikan secara "kekeluargaan" oleh perangkat desa. Kata "damai" yang tertulis di atas kertas justru menjadi vonis penderitaan seumur hidup bagi Maulud dan ibunya.
Selama bertahun-tahun, Maulud tumbuh dalam bayang-bayang ejekan. Ia dicemooh karena tragedi ibunya, sementara si pelaku melenggang bebas seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Di sinilah "keadilan" versi masyarakat gagal total, dan bara dendam mulai ditiup menjadi api.
"Waktu itu saya tak punya daya, saya lemah. Kami sudah mel4por, tapi tidak ditindaklanjuti. Masyarakat diam." 🙏😔

Address

Jalan Narawita
Bandung
40395

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when RGB posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to RGB:

Share