14/05/2026
AKU PURA-PURA PERGI KE LUAR NEGERI, PADAHAL SEBENARNYA AKU BERSEMBUNYI DI RUANG RAHASIA DI DALAM MANSION UNTUK MENGAWASI BAGAIMANA TUNANGANKU MEMPERLAKUKAN KETIGA ANAKKU. APA YANG KUSAKSIKAN DALAM KEGELAPAN BENAR-BENAR MENGHANCURKAN HATIKU DAN MEMBANGUNKAN MONSTER DALAM DIRIKU YANG AKHIRNYA MENGHANCURKAN HIDUP WANITA ITU.
Duda dan Anak-Anak Yatim
Namaku Don Gabriel Valderama, empat puluh tahun, CEO konglomerat investasi dan properti terbesar di Asia. Tiga tahun lalu, istriku meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis. Aku ditinggalkan bersama tiga anak kami—putra sulungku Leo (8 tahun), serta si kembar Maya dan Lucas (5 tahun).
Anak-anakku adalah seluruh duniaku. Namun karena aku selalu sibuk dengan perusahaan, aku sadar mereka membutuhkan sosok ibu. Di situlah aku mengenal Stella, seorang sosialita cantik dan terkenal.
Di depanku, Stella tampak seperti malaikat. Dia selalu membawa hadiah untuk anak-anak, memeluk mereka, dan menjanjikan masa depan yang indah.
“Jangan khawatir, Gabriel. Aku akan menyayangi mereka seperti darah dagingku sendiri,” janji Stella dengan manis.
Karena percaya kepadanya, aku memberinya akses ke kekayaanku dan membiarkannya tinggal di mansion kami sambil mempersiapkan pernikahan kami.
Namun dalam beberapa bulan terakhir, aku melihat perubahan besar pada anak-anakku. Anak-anak yang dulu ceria dan berisik kini menjadi pendiam dan selalu menunduk. Setiap kali Stella mendekat, Maya gemetar dan bersembunyi di belakang Leo. Bahkan suatu kali, aku melihat memar di lengan Lucas.
“Oh babe, mereka cuma jatuh di taman. Anak-anak terlalu aktif,” alasan Stella.
Ruang Rahasia
Sebagai seorang ayah, naluriku tidak tenang. Aku ingin mengetahui kebenarannya.
Suatu hari, aku berpamitan kepada Stella dan anak-anak bahwa aku harus melakukan perjalanan bisnis selama seminggu ke Dubai.
“Have a safe flight, babe! Biar aku yang urus anak-anak,” kata Stella sambil tersenyum dan mencium bibirku.
Mobilku benar-benar pergi menuju bandara, tetapi di tengah perjalanan aku memerintahkan sopirku untuk membawaku kembali ke mansion melalui parkiran bawah tanah rahasia rumah kami.
Tidak ada yang tahu—bahkan Stella maupun para pelayan—bahwa mansion itu memiliki panic room atau ruang rahasia di balik rak buku besar di kantorku. Ruangan itu memiliki kaca satu arah yang bisa melihat seluruh ruang tamu dan akses ke semua CCTV tersembunyi di rumah.
Aku masuk ke ruangan rahasia itu. Sambil membawa kopi, aku diam-diam memperhatikan monitor-monitor CCTV.
Di hari pertama, Stella menyuruh semua pelayan libur. Dan keesokan harinya, warna aslinya yang mengerikan akhirnya muncul.
Iblis di Balik Malaikat
Pukul delapan malam.
Stella duduk di ruang tamu sambil memegang segelas wine dan berbicara dengan temannya lewat telepon.
“Girl, tunanganku yang bodoh itu bakal pulang minggu depan. Aku harus pura-pura jadi ibu yang baik lagi buat anak-anak menyebalkan ini,” kata Stella sambil tertawa. “Iya, begitu kami menikah dan aku mendapatkan semua hartanya, aku akan langsung mengirim ketiga bocah itu ke boarding school paling jauh di Eropa. Biar mereka membusuk di sana.”
Saat Stella berbicara, Leo, Maya, dan Lucas perlahan keluar dari dapur. Mereka menunduk dan tubuh mereka gemetar...
Ini baru sebagian dari cerita. ...