30/12/2022
Bukan rahasia umum lagi jika harga properti selalu naik tiap tahun (bahkan per tiga bulan), meski kondisi perekonomian suatu negara tengah kurang stabil. Inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan para investor dan spekulan untuk terjun ke bisnis properti.
Alasan lainnya, keuntungan yang didapatkan dari sektor bisnis ini juga berganda, dari kenaikan harga tanah atau capital gain dan kenaikan harga penggunaan atau sewa pertahun (rental yield).
Namun di tengah optimisme pasar properti yang diperkirakan reborn pada tahun depan, terungkap beberapa penyebab yang patut dipertimbangkan kenapa investasi properti lebih menjanjikan ‘cuan’ dibanding unit investasi lain.
Suplai Tanah Tak Pernah Meningkat
Kebutuhan terhadap tempat tinggal terus bertambah dari tahun ke tahun. Namun, pasokan tanah di muka bumi tidak bertambah, bahkan berkurang. Oleh karena itu, sesuai hukum supply and demand, situasi tersebut membuat kenaikan kebutuhan dan harga-harga properti dari tahun ke tahun.
Bertambahnya Jumlah Penduduk
Jumlah populasi manusia di bumi yang terus membengkak dan tidak dibarengi dengan perluasan tanah membuat harga properti terus naik dari tahun ke tahun. Begitu juga populasi di kota-kota besar di Indonesia.
Inflasi dan Efek Infrastruktur
Setiap tahun terjadi inflasi. Meski presentasenya berbeda-beda tetapi memengaruhi sektor-sektor lain seperti tingkat suku bunga, percepatan kredit pinjaman, harga bahan bakar, harga-harga kebutuhan pokok, tak terkecuali harga properti.
Di kawasan Cikeas, Bogor, harga properti juga terkerek naik akibat hadirnya infrastruktur baru. Peningkatannya mencapai 15-20% per tahun. Saat ini, harga tanah di Cikeas Bogor dan Cibubur sudah berada di kisaran Rp3 juta – Rp5 juta per meter persegi tergantung lokasinya.
Buktinya harga rumah di Andalusia Residence Syariah, saat pertama kali diperkenalkan pada 2020, unit tipe 40 di klaster ini dijual dengan harga Rp350 juta. Pada Juni 2021, harga berubah drastis menjadi Rp400 juta atau naik 12.5%