Ziyya faqih

Ziyya faqih Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Ziyya faqih, Real Estate, kalsel, .

30/07/2024

“Kenapa kalian_”

“Mas, ke kamar sebentar yuk!”

El menyeretku ke kamarku, tak peduli dengan gerutuan dan umpatan yang keluar dari mulutku, bahkan El langsung mengunci pintu begitu saja. “Maksudmu apa mengaku hamil, huh?” bentakku. “Yang hamil itu Yara, istri keduaku. Kalau kamu memang hamil, berarti kamu selingkuh!”

“El memang nggak hamil.” El berkata dengan sangat santai, terlalu santai menanggapi amarahku yang berkobar. “Tapi anak yang istri simpananmu itu kandung akan menjadi anak El kelak!” tegasnya dengan tatapan nyalang.

Aku terperangah, tak pernah menyangka ternyata El seberani ini.

“Lagi p**a Mas Al ini aneh, benci ayahmu karena selingkuh tapi Mas Al sendiri selingkuh.” Aku tidak tahu seperti apa ekspresi El sekarang tapi matanya melemparkan tatapan sinis padaku.

“Aku nggak merasa selingkuh karena pernikahan kita hasil paksaan," sanggahku. “Aku dan Yara saling mencintai. Hanya dia yang berhak menjadi istriku dan aku akan segera membawanya ke sini."

“El setuju.”

“APA?” Aku memekik tak percaya, tak sedikit pun terdapat keraguan dalam jawaban El.

“Asal Mas pertemukan El dengan keluarga wanita itu, El ingin melihat seperti apa keluarga wanita pelakor yang berselingkuh dengan suami orang!”

“El_”

“El belum selesai!” El mengangkat tangan yang seketika membuatku bungkam. “Mas Al tidak akan pernah bisa menyingkirkan El gitu aja, bukan karena El ngebet ingin menjadi istri Mas Al tapi El nggak mau Papa kembali terluka karena kelakuan Mas Al. El mau hubungan Mas Al dan Papa baik-baik saja."

“Alasan konyol!” sergahku.

“Mas?” El menarik tanganku yang langsung kutepis, tetapi dia tak menyerah dan kembali menariknya, lalu menggenggam dengan erat. “El akan pergi dari hidup Mas Al jika Mas Al bersedia memaafkan Papa dan menerima Tante Hanum sebagai ibu. Mereka sangat sayang pada Mas Al.”

Seketika ingatanku berputar pada kejadian 10 tahun yang lalu, tepat sehari setelah kematian ibuku, Papa membawa seorang wanita masuk ke rumah kami dan memperkenalkannya sebagai ibu tiriku. Tentu saja aku sangat marah dan sampai mati pun tak akan mau menerimanya sebagai ibu.

“Nggak sudi aku memaafkan mereka!” Aku mendesis tajam.

“Kalau begitu, Mas Al nggak akan pernah bisa menyingkirkan El.”

“Kamu menantangku?”

El mengangguk tanpa ragu.

“Baik, kamu pasti akan segera angkat kaki dari rumah ini sambil menangis darah. Tunggu saja tanggal mainnya!"

“El akan menunggu dengan sabar kok, Mas, sesabar El menunggu Mas Al mencintai El.” El terkekeh dengan santai yang justru membuatku semakin geram. “Oh ya, Mas Al masih nggak mau melihat wajah El?” El maju selangkah, mempersempit jarak yang ada, dia mendongak hingga tatapan kami beradu. “Mungkin Mas Al akan menyukai El setelah melihat wajah cantik El.”

“Cih! Nggak akan." Aku mendorong pundaknya hingga dia menjauh. “Seingatku, wajahmu itu jelek, Yara jauh lebih cantik.”

“Oh ya?” El masih meremehkan ucapanku.

“Iya,” sahutku yakin. “Kalau memang wajahmu cantik, lalu kenapa kamu selalu memakai cadar meskipun di rumah? Padahal nggak ada orang di sini selain kita berdua."

“El tidak akan membuka cadar sampai Mas Al mengatakan ingin melihat wajah El. Mas Al yang harus membuka cadar El."

Seketika aku tertawa sumbang. Selain pandai bersilat lidah dan bersandiwara, rupanya El juga punya rasa percaya diri yang tinggi.

“Sampai kiamat kurang dua hari pun itu nggak akan terjadi!” tegasku.

“Kalau begitu El masih punya banyak waktu karena kiamat masih lama,” balasnya.

Aku sudah membuka mulut untuk kembali melampiaskan kekesalanku tapi El langsung keluar dari kamar. Si4l, ternyata istriku modelan begini.

Tidak bisa d1t1nd4s.

***

Judul : Di Balik Cadar Istriku (Istri Yang Kuduakan Ternyata ....)
Penulis : SkySal_Alfaarr25

30/07/2024

“Sayang, aku sudah memberi tahu wanita itu soal pernikahan kita dan kehamilanmu,” ujarku yang langsung membuat pupil mata Yara melebar.

“Al, kamu udah janji akan merahasiakan pernikahan kita,” protesnya. “Aku tahu kamu nggak cinta sama dia tapi bukan berarti aku mau menyakiti dia, Al, dia pasti terluka dan menangis. Aku nggak mau menjadi penyebab air mata wanita lain.”

“Sayang ….” Aku menangkup kedua pipinya dengan lembut. “Kamu juga istriku dan sekarang kamu sedang mengandung anakku, aku nggak akan menyembunyikan kamu lebih lama lagi karena kamu berhak dikenal dunia sebagai istri dari Alfath Zuhair.”

Yara menyambut penuturanku dengan senyum sumringah sedang dalam hati aku berkata, “Lebih tepatnya, kamu harus muncul ke permukaan agar bisa menyingkirkan El Mazaaya. Maafkan aku, Yara, setelah semua yang kamu berikan aku masih memanfaatkanmu. Tapi aku janji, aku tidak akan menceraikanmu walau tak ada cinta di hati untukmu.”

“Oh ya, aku harus bekerja.” Aku beranjak berdiri lalu memberikan kecupan di keningnya.

“Nanti ke sini lagi seperti biasa, kan?” tanyanya penuh harap. Namun, aku menggeleng.

“Hari ini mungkin aku akan lembur, Sayang."

“Baiklah.” Yara mengangguk mengerti.

Aku kembali ke klinikku, klinik kecantikan yang kubangun dua tahun silam. Namun, hari ini aku tak bisa bekerja seperti biasa karena pikiranku masih kacau, terus terngiang akan reaksi tak wajar El saat tahu diam-diam aku menikah dan menghamili wanita lain.

Setelah bekerja, biasanya aku memang p**ang ke apartemen Yara dan menghabiskan waktu dengannya tanpa ragu, seolah dia bukan istri simpananku melainkan istri sahku. Semua itu sengaja kulakukan agar El semakin merasakan bahwa keberadaannya tak pernah kuanggap.

Namun, hari ini berbeda. Aku p**ang ke rumahku karena ingin bertemu dengan El. Aku yakin, seharian ini wanita itu pasti merenung dan bersedih, pasti dia menimbang keputusan untuk meminta cerai dariku walau tadi pagi reaksinya sangat tak wajar. Itu pasti hanya sandiwara.

Ah, memikirkan semua itu membuat hatiku berbunga-bunga. Namun, bunga di hatiku layu seketika saat melihat rumahku ramai. Ada Papa, Hanum, Rayyan, bahkan kedua sahabatku yang menjadi saksi pernikahanku dan Yara, Afif dan Adam.

“Mas Al, akhirnya kamu p**ang juga,” kata El yang langsung berlari kecil menghampiriku. Aku tak tahu apa yang ada di balik cadar yang menutupi sebagian wajahnya tapi jika dilihat dari matanya, aku yakin El sedang tersenyum lebar. Semua orang juga menatapku dengan tatapan yang tak biasa, bahkan mereka semua tersenyum membuatku bingung, bertanya-tanya ada apa?

“Jangan lari, Sayang!” seru Papa dengan mimik wajah seperti khawatir. “Nanti kehamilanmu kenapa-kenapa lagi, itu cucu pertama Papa lho.”

“APA???!!!”

******

“Katanya nggak tertarik sama sekali walaupun istrinya nggak pakai sehelai benang pun, eh rupa-rupanya dibuntingin juga.” Adam mencibir yang langsung didukung oleh Afif. Saat ini kedua sahabatku itu menarikku ke pojokan, aku pikir ada apa ternyata mereka hanya ingin mengolok-olokku.

“Padahal aku sudah menyiapkan diri menunggu jandanya El, eh udah bunting dia sama suami yang selalu bilang istrinya nggak nafsuin sampai diam-diam menikah lagi" Afif menimpali sambil mencebikkan bibir.

Aku tak bisa melakukan apa pun selain melotot tajam pada El yang duduk di karpet dan sibuk membuka berbagai hadiah entah dari siapa, tetapi semua yang dia keluarkan adalah barang-barang bayi. Aku juga masih shock karena apa yang El lakukan sangat di luar dugaan. Wanita itu mengaku hamil.

What the f….

Aku bahkan tak pernah tertarik untuk melihat wajahnya apalagi mengajaknya bercinta. Apa ini caranya untuk mempertahankan pernikahan kami?

Next?

Judul : Di Balik Cadar Istriku (Istri Yang Kuduakan Ternyata....)
Penulis: SkySal_Alfaarr25

゚viral

29/07/2024

“Kamu pengertian banget sih, Al, jadi makin tambah cinta.” Yara tampak sangat senang karena aku membawa teh jahe, dia langsung mengambil gelas lalu meminumnya. “Aku memang mual tapi nggak tahu harus minum apa biar enakan.” Lanjutnya setelah hampir menghabiskan satu gelas air jahe itu. “Oh ya, emang istrimu nggak curiga kenapa kamu bawa ini dari rumah?” Yara mencicit.

Yara memang tahu bahwa aku sudah menikah, aku mengakuinya tepat setelah kami bergumul indah dalam kenikmatan duniawi walau sama-sama tahu bahwa kenikmatan tersebut adalah sebuah dosa besar. Aku gelap mata karena amarah akibat dipaksa menikah dengan El Mazaaya, selain itu aku terjebak oleh nafsu karena berada di tempat yang sepi dan hanya berdua saja dengan Yara, setan pasti berpesta pora karena berhasil menggoda anak manusia dengan iman setipis tissue sepertiku.

Sementara Yara tampak sangat menyesali perbuatan kami dan aku jauh lebih menyesal ketika mendapati Yara masih perawan, gadis itu masih suci dan aku merenggut kesuciannya begitu saja hanya karena ingin mencari pelarian.

Aku merayunya, mengatakan akan bertanggung jawab apalagi pernikahanku dan El atas dasar paksaan. Aku juga mengaku bahwa tak tertarik pada istriku, tak pernah menyentuhnya atau melihat wajahnya karena sangat membencinya. Namun, Yara tetap tak mau menerimaku. Dia menghilang begitu saja setelah malam itu, apertemennya kosong dan aku tak bisa menghubunginya sama sekali.

Akan tetapi, sekitar satu bulan yang lalu dia kembali menghubungiku. Saat itu aku pikir dia datang membawa kabar kehamilannya, aku sudah sangat takut tapi ternyata Yara mengatakan sangat merindukanku dan ingin tetap bersamaku walau tahu aku sudah menikah.

Masih merasa bersalah karena telah merenggut kesuciannya, aku pun mengajaknya menikah. Selain untuk bertanggung jawab pada Yara, pernikahan ini juga bisa menjadi alasan agar El terluka sehingga dia pasti akan meninggalkanku.

Aku juga ingin Yara hamil, sebab kehamilannya akan semakin menghancurkan El. Ketika seminggu yang lalu dia mengabarkan apa yang kutunggu, aku sungguh girang tapi bukan karena akan menjadi ayah, melainkan karena El akan segera tersingkir dari hidupku.

Akan tetapi, reaksi yang El berikan kala aku mengakui perselingkuhan itu jauh di luar dugaan dan di luar nalar. Jadi, apa arti kehadiran Yara dan janin dalam rahimnya sekarang? Mereka adalah senjataku untuk mengoyak hidup El tapi sekarang mereka menjadi senjata tumpul.

“Al?” Yara menarik lengann kemejaku. “Kok melamun? Mikirin istrimu ya?” Dia merengut, menampakkan kecemburuan yang menurutku sangat tidak perlu.

“Buat apa aku mikirin wanita nggak jelas itu?” Aku merangkul pundak Yara sambil memberikan kecupan mesra di pipinya. Jujur saja, aku tak merasa mencintai wanita ini entah dulu atau sekarang. Aku memang tertarik akan kecantikannya, hubungan ranjang kami juga sangat baik, tentu saja, aku pria normal apalagi Yara tak pernah sungkan merayuku, menyeretku ke ranjang untuk menyelami kenikmatan surga dunia, tapi sampai detik ini aku masih tak merasa ada getaran cinta di hati.

“Sudah tiga bulan kalian bersama, bagaimana bisa kamu bilang dia wanita nggak jelas?” Yara bersender manja di pundakku, jari jemarinya menyentuh dadaku, membuat gerakan abstrak di sana dan itu adalah kebiasaannya saat kami sedang mengobrol. “Setidaknya saat diranjang_”

“Harus berapa kali aku bilang, Sayang, aku nggak pernah berbagi kamar apalagi berbagi ranjang dengannya. Sejak menikah sampai sekarang, aku masih enggan melihat wajahnya. Bagiku, dia tidak lebih dari sebuah bayangan yang menumpang di rumah. Aku bahkan tidak pernah memberinya nafkah lahir apalagi nafkah batin."

“Ck! Masa sih? Tiga bulan loh kalian bersama.”

“Tiga ratus bulan pun aku tetap akan menganggapnya bayangan," kataku yakin. Senyum Yara langsung mengembang sempurna di bibirnya, membuatnya semakin cantik.

Jika El tersenyum, apakah dia juga cant_oh tidak! Mengapa aku harus memikirkan gadis tak jelas itu?

Di Balik Cadar Istriku (Istri Yang Kuduakan Ternyata...)
Penulis: SkySal_Alfaar25

29/07/2024

"Sampai kapan kamu akan bertahan menjadi istriku tanpa nafkah lahir dan batin dariku?" Aku tersenyum sinis saat mengajukan pertanyaan tersebut. "Lagi p**a sampai kapan pun kamu nggak akan mendapatkan dua hal itu, jadi mau sampai kapan kamu bertahan di rumah ini?"

"El akan bertahan semampu El, Mas," sahutnya dengan nada yang begitu lembut, tak sedikit pun terdengar nada kecemasan di sana seolah wanita itu sudah sangat mantap dengan keputusannya.

Aku mendekati El yang sedang sibuk di depan kompor lalu meletakkan sebuah kartu nama dari pengacara perceraian-kenalanku. "Mungkin kamu akan membutuhkannya, jangan khawatir soal biaya."

El hanya melirik benda kecil dan tipis itu sekilas lalu kembali sibuk dengan aktivitasnya. "Aku sudah menikah lagi dan istri keduaku sedang hamil sekarang," terangku tanpa ragu. Akan tetapi, El tak merespon sama sekali.

Apa dia tidak mendengarku? Bukankah seharusnya dia sangat terkejut karena aku mendua padahal usia pernikahan kami baru berjalan tiga bulan?

"Usia kehamilannya sudah satu bulan." Aku melanjutkan masih diiringi senyum tipis, yakin kabar ini akan membuat hati El remuk redam. Bahkan aku tak sabar ingin melihat air mata mengalir di wajahnya yang tak pernah kulihat.

Walaupun sudah menjadi suami istri sejak tiga bulan lalu tapi sampai detik ini aku tak pernah berminat melihat wajahnya yang selalu ditutupi cadar itu. Kami tinggal satu rumah tapi tidak satu kamar, bahkan kami tak pernah mengobrol seperti sepasang pengantin lainnya atau sebagai sesama penghuni rumah. Semua itu bisa terjadi karena aku yang selalu menganggapnya tak ada.

Aku masih menunggu reaksi El tapi wanita itu justru sibuk mencoba menggapai termos yang terletak di kabinet atas dapur. Aku berdecak sambil meraih benda itu sambil berkata,

"Sekarang dia memang istriku." Aku kembali melanjutkan seraya menyerahkan termos tersebut yang langsung El terima. "Tapi aku sudah tidur dengannya sejak lama." Aku kembali menyunggingkan senyum miring, semakin tak sabar menunggu raungan tangisnya. Namun, El justru sibuk mengisi termos dengan air jahe yang sudah mendidih.

Apa dia sakit?

"Lebih tepatnya kami tidur bersama di malam pernikahan kita!" tegasku, yakin pengakuan ini akan mengoyak hati dan jiwanya.

Akan tetapi, harapan tinggal harapan ketika El justru dengan santainya menyerahkan termos yang sudah dimasukkan ke dalam tas itu padaku sambil berkata, "Berikan pada istri kedua Mas Al, mungkin ini bisa mengurangi mualnya karena wanita yang hamil muda itu biasanya mengalami mual yang cukup parah."

"HUH?!"

Tunggu, apa dia sungguh mengatakan apa yang kudengar?

Oh, jelas tidak mungkin. Aku pasti salah dengar atau El salah bicara.

Aku menatap wajah El lekat-lekat yang kini memasukkan roti ke toaster. Untuk kali pertama, aku sangat penasaran dengan apa yang ada di balik cadar istriku yang bernama El Mazaaya ini.

Seperti apa ekspresi wajahnya sekarang? Sedih? Ah, sudah pasti dia sangat sedih. Sejak menikah, aku tak pernah menganggapnya ada apalagi menyentuhnya. Aku tak pernah memberikan nafkah lahir atau batin, aku benar-benar menganggapnya tak ada di rumah ini. Bahkan, kali ini aku berbicara dengannya, mengakui semua yang kulakukan hanya agar wanita itu meminta cerai dariku karena aku tak bisa menceraikannya.

Namun, apa yang kudapatkan?

Tanpa sadar, aku menahan napas ketika memandangi wanita itu yang tak menunjukkan gejala patah hati.

Apa mungkin dia tidak sakit hati karena pernikahan ini hanya didasari perjodohan semata? Tak ada cinta antara kami, tapi tetap saja rasanya sangat tidak wajar dengan reaksi tenangnya itu.

Apa dia punya kekasih? Rasanya tak mungkin.

Atau jangan-jangan dia mati rasa?

Uh, aku bisa gila dengan semua praduga yang menari liar dalam benakku.

"Mas Alfath mau selai apa?" tanyanya yang masih dengan nada lembut. "Mas?"

"Eh ... ah?" Aku gelagapan saat El melambaikan tangannya di depan wajahku.

Si4l! Kenapa jadi begini?

Judul : Di Balik Cadar Istriku (Istri Yang Kuduakan Ternyata ....)
Penulis: SkySal_Alfaarr25

゚viral

04/09/2023

Menu sederhana tapi selalu nikmat

seharihari dan bersyukur

03/09/2023

Coba deh bikin seperti ini, agak bakal nyesel

putih # enak

02/09/2023

Jalan jalan sambil berziarah ke makam habib basirih di banjar masin

habib masin

30/08/2023

Ayam geprek sambel jaruk

jeruk enak

28/08/2023

Masak ikan tongkol suwir

enak

26/08/2023

Masak menu sederhana ala rumahan

sederhana

25/08/2023

Bikin es lumut isi mutiara

lummut

24/08/2023

Dadar gulung isi mutiara

Address

Kalsel

Telephone

+6282352724938

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ziyya faqih posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

  • Want your business to be the top-listed Realtor/realty Service?

Share