21/11/2025
“Kalau Barisan Runtuh, Jangan Sibuk Menyalahkan yang Pergi, Lihat Dulu yang Mendorong”
Kadang… ujian itu bukan datang dari luar barisan.
Bukan p**a datang dari kerasnya dunia.
Sering kali… ujian itu justru datang dari tingkah kita sendiri yang merasa paling layak berdiri di depan.
Bukan karena lemahnya hujjah orang lain,
tapi karena kerasnya lidah kita…
dinginnya sikap kita…
dan retaknya empati yang entah kapan terakhir kita rawat.
Ada orang yang mundur bukan karena imannya turun…
Tapi karena kita sibuk merasa paling penting,
paling pantas dianggap,
paling layak diprioritaskan—
sampai lupa bahwa mereka juga manusia yang punya hati.
Ada yang pergi bukan karena niatnya buruk,
tapi karena kita terlalu pelit untuk sekadar menghargai.
Terlalu sibuk menjadi “pengemban dakwah senior”,
hingga lupa bahwa dakwah itu bukan panggung kompetisi siapa yang paling suci.
Padahal dulu, mereka datang dengan semangat penuh.
Membawa jiwa, waktu, tenaga…
yang sering kita pakai, tapi jarang kita hargai.
Dan ketika luka kecil mereka tak pernah kita perhatikan,
ketika kecewa mereka kita anggap lebay,
ketika hati mereka dipatahkan oleh sikap dingin kita sendiri…
mereka menjauh.
Lalu kita sok bijak berkata,
“Jika benar berjuang karena Allah, kenapa harus mundur karena manusia?”
Padahal, kalau mau jujur…
kita juga harus bertanya:
“Jika benar kita berjuang karena Allah, kenapa perlakuan kita justru melukai manusia?”
Kalau benar ikhlas,
kenapa sulit menyapa?
Kenapa pelit memberi apresiasi?
Kenapa ringan meremehkan, tapi berat menguatkan?
Kalau cinta jalan ini karena Allah,
mestinya hati kita pun lembut kepada hamba-hamba-Nya.
Karena orang yang terluka bukan hanya diuji…
Tapi kita juga diuji lewat cara kita memperlakukannya.
Ingat…
Manusia bisa mundur karena kecewa.
Dan sering kali, penyebab kecewanya bukan takdir,
bukan setan,
bukan dunia…
tapi kita yang gagal menjadi saudara.
Maka jika barisan mulai rapuh,
jangan buru-buru menyalahkan yang pergi.
Barangkali yang seharusnya bertaubat dulu justru yang masih tinggal.
Mari jaga adab,
karena adab yang buruk jauh lebih mematikan dari kurangnya ilmu.
Dan jangan sampai, di hari perhitungan nanti,
kita terkejut melihat pahala dakwah kita berpindah
kepada orang yang pernah kita remehkan.
Sahabatmu Fawatifu Syu'ara