2N - Kids Story

2N - Kids Story 2N — Dua Anak Sholeh
Belajar sambil bermain, ceria tiap hari!

9Overprotectiv Belum Tentu Setia"Kok cuma seratus juta sih Pa? Ish... buat apa coba? Buat sewa rukonya aja ini mah buat ...
20/07/2026

9

Overprotectiv Belum Tentu Setia

"Kok cuma seratus juta sih Pa? Ish... buat apa coba? Buat sewa rukonya aja ini mah buat dua tahun, buat modalnya mana? Apa aki pinjam ke temenku saja modalnya? Atau pinjam sama Bu RT? Pasti deh dikasih sama mereka..." ucapku sambil pura-pura merajuk.

Aku yakin juga dia pasti menambahkan uang untuk modal ini, ya karena dia ini gengsian. Pasti malulah kalau aku sampai pinjam uang ke teman apa lagi tetangga.

"Seratus juta itu emang buat rukonya saja Ma...nanti modalnya kutransfer lagi pas ruko sudah selesai direhab, gitu Ma," jawabnya menjelaskan.

"Nggak mau ah kelamaan, modalnya kirim saja sekalian kan aku juga pingin langsung belanja, jadi pas udah selesai langsung tinggal masukin barang dan opening deh. Atau aku langsung telepon Bu Rt saja nih, pinjam uang," ancamku sambil pura-pura akan menelepon.

"Apaan sih Ma, kamu kok sekarang jadi s**a maksa gini. Kutransfer sekarang, tapi jangan pernah pinjam-pinjam uang , apa lagi sama tetangga, malu-maluin saja..." ucapnya sambil kembali mengutak-atik handphonenya, "tapi yang lima ratus juta ini aku pinjemin saja loh Ma, enam bulan wajib di kembalikan, Ok?!"

"Oke deh oke...gampang itu mah, enam bulan itu juga masih lama kok. Yang penting bisa buat modal dulu, aku yakin kok, usahaku nanti juga bakal maju banget," ucapku tersenyum karena melihat uang senilai lima ratus juta itu sudah masuk ke rekeningku.

Suami macam apa sih Mas Satrio ini? Istri minta modal usaha kok malah di hutangin, disuruh balikin enam bulan lagi, sedangkan untuk gundiknya uang berapapun habis tak bersisa. Memang kamu itu nggak layak banget untuk di pertahanin. Berjuang denganku, eh ngrayain kemenangannya untuk yang lain.

"Ingat jangan buat aneh-aneh. Khusus buat usaha, dan meskipun sudah punya butik, kamu tetap nggak boleh dandan dan wajib tetap sederhana loh, Ma. Nanti kalau kamu dandan dan sering keluar rumah, ujung-ujungnya pasti selingkuh!" ucapnya sebal, dan hanya kutanggapi dengan senyuman.

Egois sekali memang suamiku ini, mungkin benar kata temanku, sesungguhnya pasangan yang terlalu overprotective itu, belum tentu benar-benar baik sama kita, malah kadang dia melakukan banyak kecurangan di luar, dan segala batasan yang diberikan hanya untuk menutupi semua kebus**anya saja.

Tapi semua itu tak perlu kurisaukan lagi, toh sebentar lagi aku juga akan segera mengajukan gugatan cerai padanya, besok tepatnya, mangkanya aku sangat senang sekali ketika dia balik lagi keluar kota katanya.

Setelah berenang, Mas Satrio mengajak kami jalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan, tentu saja hal ini sangat menyenangkan untuk Rangga. Dan saat di mall seperti ini, putraku itu pasti minta ke arena gamezone, dan hal itu bisa menghabiskan waktu hingga satu jam lamanya.

Ketika Mas Satrio dan Bik Nurma sedang menemani Rangga, aku hanya menunggu di tempat duduk yang sudah disediakan di depan arena, capek juga habis belanja dan tadi sudah menemani Rangga main basket. Sebuah pesan chat masuk ke handphoneku.
Ketika kubuka ternyata dari Karen, langsung saja kubuka pesan itu.

[Kak, ini aku sudah dirumah dan sudah kukirim shareloknya barusan. Lihat benar-benar, jangan sampai kesasar pas hari H-nya yah. Ingat tanggal dua puluh bulan ini loh.]

[Pasti nggak akan lupa kok Kak, tenang saja, hehehe. Oke kulihat sebentar ya shareloknya.]

Gegas kubuka sharelok itu, ternyata letaknya tak terlalu jauh dari rumahku, kayaknya nggak sampai satu jam perjalanan untuk menuju ke rumah si Karen ini. Masih dalam satu kota sih, tapi beda kecamatan saja, rumahnya ada di perbatasan dengan kota sebelah.

Aku jadi ingat, bahwa aku juga punya teman SMA di sana, Delia, sahabat tepatnya. Dulu kami tiga tahun selalu satu kelas, kemanapun ada dia pasti ada aku. Ketika lulus kami berpisah, karena berbeda tempat kuliah. Lumayan nih buat cari-cari info, kebetulan aku juga masih menyimpan nomornya, besok atau nanti malam saja akan kuhubungi saat Mas Satrio sudah tak ada lagi di rumah.

[Sudah Kak, aku tahu kok tempatnya dan yakin banget nggak mungkin kesasar, hehehe. Udah berapa persen nih persiapan nikahannya Kak?]

[Ok, ditunggu ya Kak. Persiapannya ya belum ada tiga puluh persen sih Kak, kan mendadak, jadi semuanya akan di kebut mulai hari ini. Kak Rury punya kenalan tukang souvenir pernikahan nggak sih? Yang ekslusif gitu?]

Wah ada peluang baru nih, lumayan juga nanti souvenirnya bisa kukerjain dan pasti membuat mereka terkejut nantinya.

[Ada kok Kak, temanku sering sekali mendapat pesanan souvenir, harganya juga miring kok. Kalau mau kukasih nomor teleponnya deh Kak.]

[Iya mau, Kak. Harga nggak jadi soal, yang penting sesuai dengan pesanananku.]

[Oke, aku kirim kontaknya ya Kak, nanti chat saja sendiri saja ya.]

[Oke, terima kasih Kak.]

[Sama-sama]

Aku kemudian mengirim nomer teleponku yang satunya, kebetulan memang di handphone ini aku pakai dua kartu dan juga dua akun wa, ternyata ada gunanya juga ya sekarang. Saat menunggu chat dari Karen, suamiku ternyata sudah selesai main dengan Rangga.

Saat akan keluar dari mall, di ujung ada sebuah toko perhiasan, aku akan mencoba meminta pada Mas Satrio, lumayan kan untuk tambahan pemas**an hari ini.

"Pa, beliin perhiasan baru d**g, satu set aja gitu, sudah lama loh aku nggak punya perhiasan baru, kalau pas arisan gitu s**a malu, masak iya istri kontraktor Satrio Bimo nggak punya banyak perhiasan," ucapku sambil menggandeng tangganya.

"Ya sudah ayo, tapi nanti pas arisan langsung di pakai ya Ma, dan jangan lupa bilang pada mereka kalau ini baru gitu, Ok! " ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya

"Siap Pa, nanti aku akan puji-puji Papa juga di depan mereka, suami terbaik deh pokoknya...Bik, tolong jagain Rangga sebentar ya," kataku yang dibalas anggukan Bik Nurma.

Kami pun langsung masuk ke toko itu, dan aku memilih satu set perhiasan dari berlian seharga tiga ratus juga, dan Mas Satrio pun mengiyakan saja pilihanku itu. Aku yakin sekali, jika Karen pun telah banyak meminta perhiasan dari suamiku ini.

"Kalau perlu pas asrisan, bawa bukti pembayarannya Ma, agar teman-temanmu itu tahu, kalau perhiasan ini berlian asli," ucap Mas Satrio saat selesai melalukan pembayaran.

Enak juga sih punya suami gengsinya tinggi, bisa di porotin, dan hal-hal ini membuatku makin semangat untuk melanjutkan misi-misi lainnya.

**Cerita ini sudah tamat di aplikasi KBM .
JUDUL : Kumiskinkan Dulu Kamu Mas!
Penulis: Anggrek Bulan

Klik Link untuk baca selengkapnya ya.

Nn

(6)KUBANGKRUTKAN AYAH DAN GUND*KNYA “Saya mau ... Bapak membatalkan supply daging dan ayam, satu hari sebelum hari H? Bi...
20/07/2026

(6)KUBANGKRUTKAN AYAH DAN GUND*KNYA

“Saya mau ... Bapak membatalkan supply daging dan ayam, satu hari sebelum hari H? Bisa?”

“Waduh ... kenapa, Mbak? Nanti kami dinilai gak professional sama Bu Risma.”

Pak Joko terlihat panik. Pak Subur tampak shock juga.

“Ini justru demi menyelamatkan Ibu saya, Pak.”

Pak Joko dan Pak Subur tampak menautkan alis. Keduanya saling bertukar pandangan dengan wajah penuh kebingungan.

“Menyelamatkan gimana, Mbak? Bukannya yang ada justru bikin hancur nama cateringnya Ibunya Mbak Risa kalau kayak gini?”

“Iya loh, Mbak. Pak Han itu pelanggan lama. Dia sering repeat order loh, Mbak. Dan besok itu kalo nggak salah acaranya pertunangan anak sulungnya sama anak Pak Wali kota. Saya nggak berani Mbak Risa.”

Pak Joko terlihat panik. Wajahnya pucat. Begitupun Pak Subur, dia ikut menimpali.

“Saya juga nggak berani, Mbak Risa. Duh takut dituntut nanti gimana?”

Aku sudah memprediksi. Lalu perlahan aku mengeluarkan satu dokumen. Pesanan pembelian dari keluarga Pak Han. Lalu mengeluarkan pesanan pembelian yang dibuat Ibu.

“Pak Joko dan Pak Subur baca ini dulu. Nanti saya jelaskan.”

Keduanya menautkan alis. Namun tak urung membaca dua lembar kertas yang aku letakkan di depan mereka.

“Apa ini, Mbak? Kita disuruh baca apa?”

Aku membuang napas kasar, “Itu pesanan pembelian, Pak.”

“Hmmm, ya, kami tahu. Lalu kenapa?”

“Baca detail-detailnya pelan-pelan.” Aku bersandar sambil memperhatikan raut bingung wajah Pak Joko dan Pak Subur.

Keduanya membaca dokumen itu lagi pelan-pelan.

“Hmmm, gak ada yang aneh, Mbak.”

“Itu dua dokumen yang berbeda. Di dokumen pertama, dokumen open PO yang ditandatangani Ibu. Jelas Bapak terikat supply daging dan ayam kepada Welas Asih Catering.”

“Iya, betul.”

“Nah sedangkan, di dokumen pesanan pembelian dengan Pak Han, disitu tertera yang mengadakan perjanjian dengan Pak Han itu adalah Welas Kasih Catering Premium.”

“Loh, iya, ya? Beda ternyata.”

“Bener, Pak Subur. Saya baru ngeh juga. Namanya mirip.”

Aku pelan-pelan menjelaskan dengan hati-hati. Tidak mungkin menjelaskan kalau perijinan Ibu dibalik nama. Akan terlalu banyak pertanyaan nantinya. Aku mengambil jalan yang lebih mudah. Semoga saja mereka tak lebih banyak bertanya.

“Jadi, sebetulnya ... yang dapatkan orderan cateringan dari Pak Han itu, perusahaannya Tante Silvia yang didirikan diam-diam. Mendirikan perusahaan di dalam perusahaan. Dia menyerobot pelanggan Ibu satu per satu ketika Ibu terbaring di rumah sakit dan gak bisa ngontrol.”

“Astaghfirulloh ... Saya ingat betul, dulu Bu Risma mempekerjakan Bu Silvia karena mau menolong. Dia sudah tak punya suami. Kok tega, ya?”

Pak Subur tampak terkejut. Aku sedikit lega. Rupanya Pak Subur sempat tahu alasan perekrutan itu.

“Oalah ... pagar makan tanaman, ya. Kenapa gak dipecat saja sih, Mbak ... duri dalam daging jadinya.”

Aku tersenyum getir. Dipecat?

Andai semua kepemilikan perijinan belum dirubah, aku bisa melakukannya. Namun, sekarang ... semua terlambat. Aku terlalu terlambat tahunya. Jika sekarang dipecat. Dia akan dengan mudah mencuri semua pelanggan Ibu. Mencuri semua pekerja Ibu. Mencuri semua resep Ibu dan mendirikan cateringan baru dengan damai dan aman.

Sekarang, tidak ada pilihan lagi selain membiarkan dia terlena. Aku ingin melihat sendiri bagaimana dia hancur lebur dan tak ada celah lagi untuk bangun.

“Jadi, gimana? Pak Joko? Pak Subur? Kalau dilihat dari dokumen ini ... Bapak gak ada keterikatan dengan Welas Kasih Catering Premium, ‘kan?”

“Iya, Mbak. Secara dokumen nggak ada. Cuma ... nanti kalau ada masalah apa-apa gimana, ya? Kami tetap saja takut.”

“Kalau ada masalah. Saya yang tanggung. Bapak suruh saja Tante Silvia cari saya.”

Keduanya kembali terdiam dan saling bertukar pandang.

“Jadi, apakah Bapak bersedia membantu saya? Saya tidak rela, orang yang sudah Ibu saya tolong, menusuk Ibu diam-diam saat dia sedang terkapar di rumah sakit tak berdaya.”

Keduanya tampak kembali terdiam. Aku paham. Mereka pasti melihat dari sisi keuntungan yang besar. Orderan Pak Han, ribuan porsi. Dan aku yakin, Tante Silvia memesan daging dan ayam kualitas terbaik untuk nanti.

“Hmmm ... mungkin kalau dilihat dari keuntungan, Bapak memang kehilangan kesempatan besar saat ini. Namun, Bapak tolong pertimbangkan jangka panjang. Andai Bapak tetap mendukung Tante Silvia mensabotase orderan catering Ibu. Saya sendiri akan mencoret Bapak dari daftar supplier utama catering kami. Jadi tidak ada lagi kerja sama jangka panjang.”

Keduanya tampak terkejut. Sepertinya, aku berhasil membaca isi pikiran mereka.

“Baik, Mbak. Kami paham. Kami akan membantu Mbak Risa.”

“Akan saya pertimbangkan, Mbak.”

Aku menyipit menatap Pak Joko. Pertimbangkan? Apa dia akan tetap mengirim ayam itu untuk Tante Silvia? Namun, aku tak bisa lagi menekannya lagi. Pak Joko buru-buru berpamitan karena ada urusan lain katanya. Lalu Pak Subur pun sama.

Hanya saja, baru beberapa langkah, aku lihat Pak Subur menoleh ke belakang lalu berbisik-bisik dengan Pak Joko. Setelahnya, tampak Pak Joko mengangguk-angguk, lalu tampak langsung menelpon seseorang.

Aku termangu, menatap mereka. Semoga saja mereka benar-benar bisa diajak kerja sama.

Pertemuan hari itu pun selesai. Aku menarik napas kasar. Semoga benar dua orang itu mau membantuku juga. Setidaknya, hanya tinggal beberapa tahapan lagi dan semua rencana akan berjalan sempurna.

Ah, semoga.

Aku baru hendak bangun ketika sebuah pesan dari nomor yang kusimpan dengan nama Tukang Palak, muncul.

Ck, dia lagi. Dengan malas aku mengusap layar gawai. Lalu tampilan foto lelaki dengan rambut sebahu yang sedang bermain gitar muncul dan sederet pesan yang ia kirimkan.

[Elo ganti cincin apaan ini? Yang elo ilangin cincin berlian asli lima karat.]

[Besok temuin gue di Cafe Sentosa. Jam dua siang.]

Aku menelan saliva susah payah? Apa? Cincin berlian putih lima karat? Waduh kalau memang benar, berarti aku benar-benar ada dalam masalah. Harga cincin berlian putih lima karat kan kisaran harganya hampir 1 M.

Duh aku harus gimana?

Judul : KUBANGKRUTKAN AYAH DAN GUND*KNYA
Author : EVIE YUZUMA
Selengkapnya yuk baca di KBM App

Setelah lima tahun menikah aku mencer4ikan istriku setelah meny4kitinya dengan cara menikah lagi, sebab ia tak kunjung h...
20/07/2026

Setelah lima tahun menikah aku mencer4ikan istriku setelah meny4kitinya dengan cara menikah lagi, sebab ia tak kunjung h4mil. Lima tahun berlalu aku kembali dipertemukan dengannya dan dia membawa ....

***

“Alana,” suara Gavin bergetar, ketika melihat sosok dihadapannya benar-benar Alana.

Setelah lima tahun tak mendapat kabar tentang Alana, kini ia menemukan perempuan yang masih mengisi hatinya dengan keadaan yang jauh berbeda dengan kehidupannya dulu.

“Maafkan Mas, Al!” tanpa diduga Gavin langsung menghambur ke pelukan Alana membuat perempuan itu tercengang dengan kelakuan Gavin.

“Maafkan, Mas, Al. Mas menyesal sudah menc e r a i kan kamu.” Alana tersenyum getir mendengar ucapan Gavin.

Alana tak tahu kejadian seperti apa yang telah menimpa Gavin, sehingga lelaki yang sudah tega mem b u a n gnya kini menangis dan meminta maaf.

***
“Al, ini beberan kamu ‘kan?” Gavin mengguncang t u b u h Alana karena sedari tadi perempuan itu hanya berdiri mematung.

“Al, Mas menyesal. Mas, benar-benar rindu, Mas minta maaf karena sudah menc e r a i kan kamu dalam keadaan emosi.” Alana masih diam dalam posisinya, ia tak berniat menimpali ucapan Gavin.

“Al, mari kita memulainya dari awal lagi. Mas ingin perbaiki pernikahan kita, sampai saat ini kamu masih istri Mas secara hukum. Mas, tak pernah mendaftarkan per c e r a i an kita. Kita hanya perlu melakukan akad kedua,” bujuk Gavin dengan percaya diri dan tak tahu malu.

“Al, bagaimana? Kamu mau ‘kan sayang? Mas, masih sangat mencintaimu sayang.” Gavin terus mengiba. Sejujurnya ia memang masih sangat mencintai Alana. Gavin tak ingin kehilangan Alana lagi, terlebih saat melihat Reyhan sangat begitu dekat dengan Alana. Ia merasa tak rela dan berniat merebut kembali wanita yang diyakini masih mencintai dirinya.

“Mas, aku memang sudah memaafkanmu, tetapi ... aku tak bisa kembali lagi padamu,” ucap Alana setelah sekian lama bungkam.

“Kenapa Al? Mas, yakin kamu masih sangat mencintai Mas!” ucap Gavin dengan yakin. Alana terkekeh mendengar kalimat yang diucapkan Gavin.

“Kamu salah Mas, lima tahun waktu yang cukup untuk aku bisa melupakanmu dan cinta untukmu sudah benar-benar hilang tak bersisa.” Gavin merasa lemas mendengar pengakuan Alana.

Lima tahun ia hidup dalam penyesalan, lima tahun ia mencari Alana dan merasa yakin jika perempuan itu masih sangat mencintainya. Namun, keyakinannya luruh ketika mendengar jawaban dari Alana dan sorot mata perempuan itu tak lagi penuh cinta. Yang ada hanya tatapan terluka dan penuh keb e n c i a n.

Judul : LIMA TAHUN SETELAH BERPISAH
Penulis : Zaqia Firdaus
Sudah tamat di KBMApp

( #6) *"*Sore menjelang, bias sinar matahari yang kemerahan menerpa depan toko yang menghadap ke barat. Kulihat mobil Na...
20/07/2026

( #6)

*"*

Sore menjelang, bias sinar matahari yang kemerahan menerpa depan toko yang menghadap ke barat. Kulihat mobil Nayla memasuki garasi mobil, dia turun tanpa menoleh ke arahku yang memperhatikannya dari tepi toko.
Hari ini dia p**ang lebih awal dari biasanya. Saatnya aku harus menyelesaikan semuanya sekarang. Sudah habis kesabaranku selalu mengalah dan membiarkan Nayla dengan kelakuannya yang semakin hari semakin keterlaluan.
Satu bulan ... Ya, satu bulan aku diabaikan dalam nafkah batin. Padahal aku punya istri, normal dan tidak dalam fase melahirkan. Wajar d**g aku emosi dan menuntut hakku sebagian suami yang wajib dilayani. Sekaligus aku akan menanyainya perihal o b at tersebut. Aku pamit pada Mamad dan bergegas masuk ke dalam rumah.

"Mbok Nah, tolong bawa Anggina main di k a mar ya, mbok. Dan kalau boleh kali ini Mbok telat p**ang, ya," Pintaku pada Mbok Nah yang tengah main di teras samping. Dia mengangguk mengerti dan membimbing Anggina menuju kamar. Segera kunaiki anak tangga menuju kamar kami.

Kuketuk pintu berulang kali, tapi tak ada sahutan dari dalam.

"Buka pintu ini, Nay, kalau tidak kudobrak pintu ini," T e r iakku menakutinya.

Seketika pintu terbuka menampakkan wajah Nayla yang bersimbah air mata.

"Akting apa lagi yang akan kamu lakukan untuk menolakku lagi?" ujarku sambil men d orong Nayla hingga terjerembab ke r 4 nj4ng. Aku menutup pintu dan men i n dihnya dalam kukungan tanganku.

"Maafkan aku, Mas. Aku betul betul minta maaf. A-aku tak bisa." Nayla tersedu-sedu menutup wajahnya.

Demi melihat Nayla seperti ini aku luluh. H 4-sratku menguap bersama angin sore yang berhembus masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka. Aku bangkit dari atas t u buhnya, memukul dinding melepaskan semua kekesalanku.

"Jelaskan, Nay, ada apa denganmu. " Pintaku menahan emosi di dada.

"Aku tahu aku bersalah, mas. Sudah hampir satu bulan aku mengabaikanmu tak memberi nafkah batin padamu, tapi semua bukan kemauanku, mas. Ini semua kulakukan demi kebaikanmu juga."

Tangis Nayla semakin kencang, belum sempat Nayla menjelaskan lebih lanjut, terdengar panggilan panik serta ketukan pintu yang kencang dari bawah. Seperti suara Ayu yang minta tolong.

Bergegas aku meniggalkan Nayla yang masih menangis, mengabaikan panggilannya dan berlari menuruni a n ak tangga.

"Maaf, Mas, saya mengganggu." Ayu berdiri gemetar di depan pintu saat pintu terbuka lebar.

"Ada apa, Yu?" Kulihat lebam biru di sudut matanya. Bibirnya gemetar berucap, entah ketakutan atau karena s a kit yang berasal dari celah bi b ir nya yang berd a r ah.

"Suami saya ... Suami saya p i ngsan, tolong dia, mas! " Pinta Ayu dengan napas ngos-ngosan.

"Kok bisa? Ayolah, kita bawa dia ke klinik terdekat."

Bergegas aku keluar mengikuti Ayu. Sesampai di rumah Ayu, kulihat laki laki yang masih berpakaian dinas itu tertekungkup di lantai. Dibantu Ayu dan Mamad yang baru muncul di depan pintu, aku memapah nya menuju mobil.

*"*

Suami Ayu langsung ditangani di ruang IGD sebuah klinik yang tidak jauh dari komplek.

"Bapak, Ibu silahkan menunggu di ruang tunggu," ujar perawat instalasi darurat itu.

Aku duduk di kursi pengunjung diikuti Ayu. Perempuan itu masih menangis. Entah apa yang ditangiskannya, sudah jelas laki laki itu telah melakukan kekerasan fisik padanya. Lebam biru di bawah mata dan b i birnya yang pecah itu sudah merupakan bukti ke k eja man suaminya.

"Apa yang dilakukan suamimu itu, Ayu? Terus kenapa dia yang p i ngsan?"

Ayu nampak kaget dengan pertanyaanku. Buru buru dia menutup wajahnya dengan jilbab instan panjang yang di kenakannya.

"Aku sudah melihat, untuk apa kamu sembunyikan. Dia memukulmu, Kan?"

Ayu hanya diam, sesekali menyeka airmatanya.

Judul apk ; Mencintai istri dia
Akun : reenana8
Fb :Riena novelists
Tamat

"Aku membantu suamiku bang kit dari nol. Saat sukses, dia kembali menikahi man tan istrinya... lalu membawa mereka ting ...
20/07/2026

"Aku membantu suamiku bang kit dari nol. Saat sukses, dia kembali menikahi man tan istrinya... lalu membawa mereka ting gal di ru mahku. Lihat saja, aku tak akan tinggal diam!"

Bab 6 – Pesan yang Kubaca

POV Zara

[Ayah, datang ke ru mah ya. Tapi kata Mama, sendiri aja. Jangan bawa siapa-siapa.]

[Ya, Sayang. Ayah nanti ke rumah.]

[“Ayah, temenin aku hari ini ya. Mau kasih kado buat Mama. Beli kalung yang bagus ya buat Mama. Ayah yang pilih yaa.”]

[Ya Sayang, nanti Ayah belikan. Tunggu Ayah di ru mah ya.]

Semua pesan itu terpampang jelas di layar ponsel Mas Zaki, yang tadi kupinjam hanya untuk mencari nomor dokter k a n du ngan.

Layar chat masih terbuka, dan aku... terdiam membacanya satu per satu. J a n tu ngku berden tum, lebih ke r as dari biasanya. Aku bahkan sempat berpikir ini mimpi b u r u k kecil yang diciptakan oleh pikiran curigaku. Tapi tidak. Ini nyata.

Tanganku berg e tar saat suara Ayra terdengar lewat voice note:

“Terima kasih, Ayah. Sudah ajak Ayra dan Mama jalan-jalan dan makan ma lam bersama. Kata Mama, terima kasih atas hadiahnya. Mama s**a. Ayra sayang sama Ayah.”

Suara bening, po los, dan penuh c i n ta itu membuat te n g g o r o k kanku terce kat.

Dua hari lalu. Hari yang sama saat Mas Zaki bilang dia lembur di kantor dan p**ang menjelang tengah ma lam.

Hari yang sama saat aku menunggunya dengan m a t a beng kak dan t u b u h lelah karena m u n tah seharian. Tanpa sepatah pun kabar, tanpa sepatah pun cerita.

Ternyata dia, merayakan ulang tahun Mila. Memberi hadiah. Kalung. Makan mal am bersama. Satu keluarga kecil yang utuh, tanpa aku di dalamnya.

Mila.

Nama itu menye sak kan d a d a. Mantan istri yang katanya hanya masa lalu, tapi kini perlahan menc u r i masa kini kami. Aku bisa menerima Ayra, aku sedang belajar menyayanginya. Tapi Mila? Bagaimana aku bisa bersaing dengan seseorang yang pernah jadi ru mah baginya?

Aku menutup ponsel perlahan. Seluruh tu-buh ku seperti kehilangan suhu. Ada pa nas yang mengendap di ma ta, dan dingin yang merayap ke j a ri- ja ri. Na pa sku pendek-pendek, seperti di t u s uk d ur i. Ini bukan hanya soal hadiah. Ini soal kejujuran. Soal batas. Soal janji yang dilanggar diam-diam.

Aku melangkah keluar kamar, menahan getar di d a d a. Langkahku tertuju pada ruang kerja Mas Zaki. Dia sedang duduk di depan laptop, wa jahnya fokus, j a ri- ja rinya menari di atas keyboard. Tapi ketika aku masuk, dan meletakkan ponsel di meja tepat di depannya, ekspresinya berubah seketika. T e g ang. Kaku. M a ta nya sekilas mel i r ik layar ponsel yang masih menyala. Lalu menatapku.

"Mas, tolong jelaskan semua ini."

Suaraku pelan, tapi t a j a m. Aku tidak ingin te ri ak. Aku hanya ingin kejujuran.

Dia diam. Terlalu lama.

“Itu cuma hadiah dari Ayra buat ibunya. Aku cuma bantu belikan,” katanya akhirnya.

“Kenapa kamu nggak cerita?”

“Karena aku tahu kamu bakal salah paham.”

Aku tertawa kecil. Hambar. “Salah paham? Jadi menyembunyikan fakta lebih baik daripada bicara jujur pada istri sendiri?”

“Zara, aku nggak mau kamu ter l u ka…”

“Ter l u ka?” suaraku mulai naik. “Mas, aku lebih ter l u ka karena kamu memilih diam! Kamu bisa ajak mantan istrimu makan malam, rayakan ulang tahunnya, kasih hadiah, dan aku harus diam? Aku harus nerima semuanya karena kamu ‘nggak mau aku ter lu ka’? Maaf, logika macam apa itu?”

Dia ban g kit berdiri, mencoba meredakan ketegangan. “Aku cuma ingin Ayra bahagia, Zara. Dia a n a kku. Dan Mila ib unya. Aku nggak bisa pura-pura hu bungan itu nggak pernah ada.”

“Aku nggak pernah melarangmu jadi ayah. Tapi kamu bukan cuma ayah sekarang. Kamu suami! Suamiku! Dan semua ini... bukan soal Ayra. Ini soal Mila. Kamu lebih peduli sama mantan istrimu daripada perempuan yang sekarang me ngan dung a n a kmu!”

Dia menghela na pas, seolah ke s al karena aku ‘terlalu emo si onal’. Tapi aku sudah tidak peduli lagi. H a tiku sudah r o be k sebelum suaraku meninggi.

Lalu ma ta ku menangkap selembar kertas di bawah laptopnya. Tanpa berpikir, aku mengambilnya.

Nota pembelian motor. Dua puluh lima juta. Nama penerima: Kamila Mehrunisa.

Tanganku bergetar lagi.

"Ini... apa, Mas?"

Dia terdiam.

“Kamu belikan motor buat Mila?”

“Motornya rusak. Dia butuh buat antar jemput Ayra,” katanya tenang.

“Dua puluh lima ju ta, Mas? Dan kamu nggak bilang satu kata pun ke aku?”

“Itu bukan uang tabu ngan kita. Aku ambil dari ga ji pribadiku.”

“Oh, jadi itu alasan kenapa kamu pisahin reke ning? Supaya bisa ngasih apa pun ke Mila tanpa aku tahu?”

Wajahnya menge ras. “Zara, jangan mulai bersikap keka n ak-k a n akan.”

Aku hampir tak percaya pada kata-kata yang baru kudengar. “Keka n ak-ka nak an? Aku cuma minta kejujuran, Mas. Tapi kamu malah melindungi kebohongan. Kamu lebih takut meny a k i ti Mila daripada men ya ki ti ku.”

“Bukan begitu maksudku...”

“Lalu apa maksudmu?”

Dia tak menjawab.

Saat itu, aku tahu... tak ada yang bisa dikatakan untuk memperbaiki semua ini.

Tiba-tiba, suara langkah kecil terdengar dari arah lorong.

“Ayaaah!”

Ayra muncul dengan wajah ceria, rambutnya dikuncir dua. Ia berlari ke arah Mas Zaki dan langsung me m e lu k ping gang nya er at.

“Ayra dan Mama datang, Yah!” katanya riang.

D a r ah ku seakan berhenti mengalir.

Langkah kaki lain muncul. Di belakang Ayra, sosok Mila muncul. Rambutnya tergerai rapi, senyum lebar terukir di wa jahnya. M a t anya mena tapku sejenak, lalu tersenyum seperti tak terjadi apa-apa.

“Hai, Zara. Apa kabar?” ucapnya dengan suara lembut dan manis, terlalu manis untuk situasi seperti ini.

Aku mematung. Rasanya seperti berdiri di tengah ju ra ng, di satu sisi kehan cu ran, di sisi lain pengkhi an atan.

Mas Zaki berdiri di tengah-tengah mereka. Ayra mem el uknya di satu sisi. Mila berdiri di sisi lain.

Dan aku? Berdiri sendiri. Di sisi yang tidak dipilih.

Saat itu aku sadar, bukan pesan-pesan di ponsel itu yang paling men ya k itkan. Tapi pemandangan di depanku.

Senyum Mila. P e l u kan Ayra. Ta ta pan Mas Zaki yang tak lagi memihak padaku.

Dan aku, hanya bayangan yang berdiri di antara mereka.

--

Bersambung ..

Cerita ini sudah tamat di KBM App
Judul : Suamiku Kembali Menikahi Mantan Istrinya.
Penulis : Isti Alfarizi

Link :

Zaki menutup telepon lalu menatap Syaza dari atas tangga."Minggu depan kita ke Lombok. Tuan Pierre mau meninjau lokasi. ...
20/07/2026

Zaki menutup telepon lalu menatap Syaza dari atas tangga.

"Minggu depan kita ke Lombok. Tuan Pierre mau meninjau lokasi. Dia mewajibkan kamu ikut sebagai penerjemah pribadi,” katanya datar.

Mata Syaza membulat. "Lombok? Tapi saya belum pernah melakukan perjalanan bisnis seperti itu, Mas.”

“Kalau bukan Madame Sophie yang minta, saya juga tidak mungkin mengajak kamu.”

Zaki berbalik dan melanjutkan langkahnya naik ke lantai atas. Bayangan seminggu penuh bersama Syaza untuk perjalanan bisnis membuatnya bergidik. Itu artinya, ia harus memasang topeng sebagai suami idaman agar Monsieur Pierre tidak curiga.

Zaki merogoh saku, mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Yumi. Ia merasa harus meminta maaf soal insiden di lobi tadi.

Jempolnya melayang di atas layar. Ia menatap foto profil Yumi yang cantik. Lalu, bayangan wajah Syaza saat menangis di dalam mobil tadi melintas.

Untuk pertama kali dalam sejarah hubungannya dengan Yumi, Zaki mematikan layar ponselnya tanpa mengirim pesan apa pun.



Zaki menyantap roti gandum dan telur rebus yang disiapkan Syaza untuk sarapan. Ponselnya tergeletak telungkup di atas meja.

Syaza sedang mencuci piring di wastafel ketika Zaki memanggil. Ia mematikan keran air, mengeringkan tangannya dengan lap gantung, lalu berbalik. "Ya, Mas?"

"Jam satu siang nanti, kamu datang ke kantor saya," ucap Zaki dengan nada memerintah. "Sekretaris saya perlu data KTP kamu untuk booking tiket pesawat dan hotel."

Kening Syaza berkerut. “Kalau cuma butuh data KTP, kenapa tidak Mas bawa saja sekalian berangkat?”

Zaki langsung melayangkan tatapan tajam. “Kamu bawel, ya? Kalau disuruh datang, ya, datang! Kamu perlu tanda tangan kontrak kerja sebagai penerjemah selama dinas di Lombok.”

"Ba–baik, Mas. Nanti saya ke sana.”

Zaki meletakkan cangkir. Tangannya merogoh saku jas bagian dalam lalu mengeluarkan sebuah kartu debit berwarna platinum. Ia meletakkannya di atas meja dan menggesernya ke arah Syaza.

"Dan ini," kata Zaki. "Sebelum ke kantor, mampir dulu ke mall atau butik untuk beli baju. Jangan mempermalukan saya dengan berpakaian seperti petugas fogging nyamuk!”

Syaza menghela napas pelan. Zaki masihlah Zaki. Memberi, tapi dengan cara yang menyentil harga diri.

"Pin-nya berapa?” Kali ini Syaza mengalah, menerima pemberian Zaki agar tidak makin melukai harga dirinya.

“231223”

Kening Syaza berkerut. Itu jelas bukan tanggal lahir Zaki. Bukan p**a tanggal pernikahan mereka. Lalu, momen penting apakah yang terjadi pada tanggal tersebut hingga Zaki abadikan dalam kartu debitnya?

“Ingat, jam satu sudah di kantor. Jangan telat. Saya paling benci orang yang tidak disiplin waktu."

Zaki bangkit, mengambil tas kerjanya, dan berjalan menuju pintu tanpa pamit. Namun, sesampainya di ambang pintu, langkahnya terhenti.

Ia teringat sesuatu.

Tadi malam, ia lupa membalas pesan Yumi. Bahkan pagi ini, ada lima panggilan tak terjawab dan puluhan chat dari wanita itu yang sengaja Zaki abaikan.

Rasanya aneh. Biasanya Zaki akan panik jika Yumi marah, tapi kali ini ... entahlah. Ada rasa lelah yang tidak bisa dipahami oleh dirinya sendiri.

"Hati-hati di jalan, Mas," suara Syaza mengiringi kepergiannya.

Zaki tidak menoleh, hanya mengangguk kaku, lalu masuk ke dalam mobil.



Syaza turun dari ojek online tepat di depan lobi gedung Cyber Tower pukul 12.45. Bangunan itu adalah gedung kantor yang ditempati oleh sepuluh perusahaan. Kantor Zaki sendiri terletak di lantai 15.

Ia mengenakan setelan rok, tunik panjang, dan segiempat malay yang menutup dada dengan rapi. Penampilannya terinspirasi dari artis Natasha Rizky. Tidak ada perhiasan mencolok, hanya jam tangan tali kulit cokelat di pergelangan tangannya.

Orang-orang berlalu-lalang dengan pakaian kerja necis, blazer mahal, dan sepatu hak tinggi yang berbunyi tak-tok-tak-tok.

Sesampainya di lantai 15, Syaza menuju meja resepsionis. Seorang wanita cantik full make up sedang berjaga di sana.

"Selamat siang, Mbak. Saya mau bertemu Pak Zaki," sapa Syaza ramah.

Resepsionis itu menatap Syaza dari atas ke bawah dengan tatapan yang kurang bersahabat.

"Sudah buat janji?" tanya resepsionis itu ketus, tanpa senyum.

"Sudah, Mbak. Jam satu siang."

"Atas nama siapa? Dari perusahaan mana? Proposal sumbangan atau apa?"

Syaza tersenyum maklum. Mungkin tampangnya memang terlihat seperti peminta sumbangan yayasan.

"Saya Syaza. Istrinya Pak Zaki."

Wanita itu langsung membelalak, lalu kembali menatap Syaza dengan tatapan tidak percaya yang lebih intens.

"Istri Pak Bos?" gumam resepsionis itu ragu. "Maaf, Bu. Sebentar saya konfirmasi ke sekretarisnya."

Sementara resepsionis menelepon, Syaza bisa mendengar bisik-bisik dari staf lain yang kebetulan lewat.

"Serius itu istrinya Pak Zaki? Kok jomplang banget sama mantan pacarnya, ya?”

"Iya, ini mah kayak guru ngaji."

Telinga Syaza panas. Tapi ia tetap berdiri tegak, memasang wajah tenang.

Ia sudah kenyang dengan pandangan meremehkan seperti ini. Mentalnya sudah ditempa di pesantren untuk tidak gila hormat dan tidak tumbang saat dicaci.

“Eits, jangan salah! Biar kampungan begitu, dia berhasil bantu Pak Zaki tembus proyek 50 Miliar dari investor Perancis,” sahut yang lain.

Syaza menarik ujung bibirnya sedikit. Rupanya kabar itu sudah tersebar di lingkungan kantor suaminya.

"Silakan masuk, Bu Syaza. Di ujung kubikel nanti belok kanan. Sudah ada Ibu Rini, sekretaris Pak Zaki yang menunggu di sana," kata resepsionis itu. Kini nadanya dibuat-buat ramah.

"Terima kasih," jawab Syaza singkat.

Setelah mengikuti arah yang dimaksud, Syaza bertemu seorang wanita dengan setelan blazer dan berambut sebahu. Ia memperkenalkan diri sebagai Rini. Nama itu sudah sering Syaza dengar ketika Zaki sedang menelepon.

"Selamat siang, Mbak Rini. Di mana saya bisa menandatangani dokumen untuk perjalanan dinas?”

“Ada di ruangan Pak Zaki, Bu. Tapi ..." Rini menggantung kalimat. Wajahnya tampak cemas.

“Tapi kenapa?”

"Di dalam sedang ada tamu.”

Syaza menghentikan langkahnya sejenak. Melihat gelagat Rini, Syaza merasa tamu suaminya adalah orang penting.

“Baiklah, saya tunggu di sofa luar saja." kata Syaza. Mungkin rapatnya sebentar lagi selesai karena Zaki sendiri yang menyuruh datang tepat waktu.

“Baik, Bu. Saya permisi kalau begitu.” Rini kembali ke meja kerjanya.

Syaza memperhatikan sekeliling. Ruang kerja Zaki terpisah agak jauh dari kubikel karyawan. Di dinding lorongnya, ada beberapa lukisan pemandangan alam yang indah.

Ia mendekati lukisan kebun bunga tulip yang letaknya di dekat pintu. Tanpa sengaja, wanita itu mendengar percakapan dari dalam ruangan Zaki.

"Kamu percaya sama dia? Ini proyek puluhan miliar, Zaki. Jangan main-main. Mending kamu sewa penerjemah profesional mumpung masih ada waktu,” ucap suara seorang wanita.

"Nggak bisa, Mi. Monsieur Pierre dan Madame Sophie secara spesifik meminta Syaza karena merasa cocok.” Itu suara Zaki.

“Mi?” batin Syaza. “Apakah tamu Mas Zaki adalah Mbak Yumi?”

"Jadi kamu lebih milih dia daripada aku?" suara Yumi terdengar lagi.

"Ini bukan soal milih siapa. Ini murni urusan bisnis. Tolong mengerti posisiku. Kamu tahu sendiri, aku menikahinya bukan karena cinta.”

"Oke. Fine!" seru Yumi. Nadanya meninggi.

Tiba-tiba saja pintu terbuka. Yumi membanting pintu hingga terdengar bunyi BLAM! yang keras.

Syaza terlonjak dari tempatnya berdiri. Sesaat kemudian, Zaki muncul seperti hendak mengejar wanita itu. Namun, langkahnya terhenti karena melihat Syaza di ambang pintu.

---

Bersambung

Baca di KBM App
Judul: Pilihan Umimu, Bukan Pilihan Hatimu
Penulis: RubyRie

Address

Medan

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when 2N - Kids Story posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category