14/10/2022
Trauma. Itu lah yang dirasakan oleh Cek Adi. Walaupun kejadiannya sudah lama. Pun ini bukan pengalaman langsung. Tapi kejadian yang menimpa orang tua Cek Adi.
Pada saat kejadian tersebut Cek Adi masih remaja. Belum terlalu paham. Tapi wajah kalut dan kusut ayah nya masih terbayang jelas. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Bertahun kemudian baru akhirnya tuntas. Sungguh menyita energi.
Hal tersebut bermula dari sebidang tanah yang di beli ayah Cek Adi beberapa tahun yang lampau. Dibayar mencicil. Cukup luas. Cukup untuk rencana membangun rumah untuk pensiun nanti. Saat itu masih menempati rumah dinas dari Kantor beliau. Pokoknya sudah direncanakan dengan baik. Kalkulasinya sudah matang.
Tanpa Angin tanpa hujan, badai masalah itu datang. Pas sebulan Cicilan tanah telah lunas dibayar, ternyata tanah tersebut ada yang mengklaim Hak milik mereka. Mengaku punya SHM jg. Sah...? Entah lah... Namanya juga orang mengaku-ngaku...
Penjual tanah Kavling tempat ayah Cek Adi membeli, juga terkesan lepas tangan. Angin-anginan. Semua terlihat kusut. Ribut.
Bertahun kemudian, masalah itu akhirnya memang selesai. Dengan banyak drama.
Dari kejadian tersebut Cek Adi mengambil hikmah. Tentang bagaimana membeli atau menjual tanah. Tanpa masalah. Terutama aspek kepemilikan. Urusannya bisa sangat panjang.
Apalagi jalan hidup Cek Adi juga bersentuhan dengan bisnis tanah. Mungkin juga panggilan alam. Membantu agar jangan kejadian seperti ayah nya jangan terulang. Bisnis memang mencari untung. Tapi tidak juga dengan menjerumuskan.
Cek Adi ingin memutus trauma. Cukup hanya di ayahnya saja. Titik.