Suka-suka

Suka-suka Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Suka-suka, Real Estate, kp.pasirangin rt02 rw 09 desa buninagara, Soreang.

Makan pagi ini
14/11/2024

Makan pagi ini

17/10/2024

Siang siang begini enaknya minum yang seger seger

17/10/2024

Maaf di Bumantara 5
By Bintang Gerhana Bilal Zeilan

Ayah menurunkan tangannya. Sekarang raut wajahnya terlihat semua. Matanya memandang dengan redup. Aku melengos ke kanan. Tak ada yang Ayah ucapkan. Keheningan terlalui beberapa waktu.

“Pergilah. Untuk apa kau di sini?” Aku berkata sekali lagi karena Ayah tak juga beranjak dari kursi.

“Iya, maaf.” Hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Ayah. Setelah itu dengan gemetar Ayah pergi.

Aku termangu melihat punggung Ayah yang menjauh lalu hilang di kegelapan.

“Siapa itu, Ril?” Zainal merangkul pundakku. Matanya ikut mengarahkan pandangan pada tempat di mana Ayah menghilang.

“Itu ayahku, Nal. Kami ....” Kuceritakan bagaimana aku dan Ayah pada Zainal.

Teman baik di SMA itu diam mendengarkan. Dia tak melakukan protes apa-apa sampai aku selesai bicara.

“Oh, begitu. Ya sudah. Tapi aku perlu mengatakan tadi ayahmu itu tak menyentuh makanan atau minuman. Aku paham perasaanmu tapi tak baik membiarkan orang p**ang tak makan padahal di rumahmu ini melimpah makanan. Dalam konteks ini, lupakan keben cianmu sementara. Anggap saja dia orang lain agar ada keikhlasanmu untuk mengantarkan makanan. Jika kau tak mau mengantar sendiri, minta saja Pendi atau Alyon untuk mengantarkan.”

Kurenungi ucapan Zainal. Dia benar. Manusia macam apa aku jika soal makan pun perhitungan?

“Aku dan Zainul piatu sejak lahir, Ril. Lalu yatim sejak kelas satu SMP. Ayahku meninggal di bulan ramadhan dan ayah Zainul menyusul sebulan kemudian. Kita sama-sama hidup tanpa ayah. Mungkin konteksnya berbeda tapi berada dalam satu konsep yang sama yaitu takdir.”


Kumasukkan makanan dalam rantang bersusun tiga, setelah itu menemui Cika. Aku coba mengikuti kata-kata Zainal untuk meredam emo si di dalam dada.

“Antarkan makanan ini ke rumah ayahku, Ka. Ajak Alvia dan Alyon,” ucapku pada Cika sembari menyodorkan kantung berisi makanan.

“Kenapa bukan kamu saja? Aku senang kamu perhatian pada ayahmu.” Cika mengambil kantung dari tanganku tanpa mengalihkan pandangan dari wajahku.

“Kamu saja. Tapi tolong jangan bilang aku yang menyuruhmu. Katakan saja Mak Zika yang meminta.”

Cika tak menjawab. Dia memanggil Alvia dan teman lain. Aku sendiri berjalan ke kamar Ibu.

Di ruang tengah, Zainal dan Zainul bermain catur. Riko dan Pendi bermain ponsel. Sesekali mereka bercanda dan tertawa. Aku bersyukur mereka menemani. Kesepianku karena kehilangan Ibu, sedikit mereda.

Jika nanti Cika dan Alvia akan menginap juga, biarlah mereka tidur di kamarku saja. Kami yang lelaki bisa tidur di mana saja. Ruang tamu dan ruang tengah cukup luas untuk menerbangkan jiwa ke alam mimpi.

Kulewati mereka tanpa menyapa. Kamar Ibu kubuka perlahan lalu kututup setelah aku masuk.

Di kasur ranjang Ibu aku berbaring. Kukenang kembali semua perjalanan hidupku bersama Ibu. Tak ada yang terlewatkan. Benar kata orang, setelah pergi arti seseorang akan semakin terasa. Aku merasakan bahwa Ibu sangat berharga.

Delapan belas tahun umurku. Ibu tak pernah marah apalagi memu kul. Melalui ucapan-ucapan lembutnya, Ibu mengajarkan kedewasaan. Ibu membekali aku dengan petuah-petuah tentang kemandirian. Pemikiranku yang terkadang terlewat dewasa itu kuyakini adalah berkat dari pengajaran Ibu. Satu yang kusesali adalah Ayah tak bersama kami.

Aku tak bisa memejamkan mata. Wasiat Ibu terngiang-ngiang di telinga, membuat aku mengeluarkan air mata dan menyesali semua perbuatan membuang makanan untuk Ayah ke sungai. Iya, pada Ayah aku benci sekali. Tapi mengingat dosa pada Ibu karena membohonginya, aku tersiksa.

Andai Ibu masih ada, akan kupeluk dan kucium kakinya untuk mengakui bahwa kiriman Ibu tak pernah sampai pada Ayah. Jujur bahwa semua makanan itu jadi makanan ikan sekian lama. Bahkan aku sering melakukannya di depan mata Ayah.

Sekarang, bagaimana aku meminta maaf? Bisakah aku mengatakannya di makam Ibu?

Aku merasa ucapan maafku benar-benar berada di bumantara. Tergantung di awang-awang antara langit dan bumi. Aku berpikir maaf itu tak akan sampai karena besar dan beratnya.

Kebimbangan meraja. Ada sisi di mana aku ingin agar pembalasan den damku pada Ayah berlanjut, ada p**a sisi di mana aku berharap kemaafan Ibu dengan menjalankan amanah kedua untuk merawat Ayah.

Arrggh!

Bagaimana mungkin aku bisa merawat Ayah sementara melihat wajahnya saja membuat aku emo si?

Ini adalah dilema terberat sepanjang hidupku. Atau aku saja yang pergi dari sini?

Aku merasa hidupku hancur oleh den dam. Hari dan perasaan tergerus oleh kebus**an. Aku sangat sadar keben cian membuat aku tidak tenang. Tapi mengikhlaskan terasa lebih berat penuh kesulitan.

Dari berbaring, aku duduk. Tanganku seperti terarah pada laci meja tolet Ibu. Kutarik pelan tangkai penguncinya. Kuperiksa isinya.

Ada map biru di posisi paling atas. Dengan gemetar, kuambil dan kubuka.

Dua buku nikah ada di tumpukan pertama. Buku nikah Ayah dan Ibu. Mereka menikah secara sah menurut agama dan negara sembilan belas tahun lalu.

Di bawahnya ada akta kelahiranku. Lalu di bawahnya lagi ada sebuah buku tebal usang bersampul biru.

Kubuka dan kubaca buku yang bertuliskan tulisan tangan Ibu. Boleh dikatakan semacam catatan harian.

Di lembar pertama, kedua, hingga keempat, aku tersenyum tanpa henti. Di sana ada ungkapan perasaan Ibu pada Ayah. Di mana Ibu sangat mencintai Ayah sejak awal bertemu.

Ayah adalah pengusaha properti dan kontraktor bangunan. Ibu bertemu Ayah saat Ayah menjalankan proyek pembangunan kantor lurah dan dua buah sekolah SD dan SMP.

Ibu yang mengantarkan makanan karena Kakek dan Nenek yang mengambil tender katering untuk karyawan Ayah.

Tapi di lembar berikutnya aku menangis.

Ternyata Ibu sudah tahu dari awal jika Ayah sudah memiliki tiga orang istri. Yang membuat aku tak habis pikir, Ibu menuliskan bahwa dengan ikhlas dan rela dinikahi Ayah sebagai istri keempat.

Proyek Ayah berlanjut hingga seluruh properti kelurahan dan sekolah kawasan ini dipegang Ayah. Meski proyek itu bertahap tapi Ayah bertahan dan menikahi Ibu.

Di lembar yang entah keberapa, Ibu menuliskan;

Tahun keempat pernikahan ini aku semakin gelisah. Tahun depan proyek Mas Ramdhani akan selesai. Itu artinya aku tak bisa menghalangi Mas Ramdhani untuk pergi. Aku dulu memang rela ketika aku tak diperkenalkan dengan orang tuanya. Aku sudah cukup bahagia ketika ketiga istri Mas Ramdhani mengizinkan untuk menikahiku.

Dulu aku buta dan tak memikirkan bagaimana nanti anakku. Sekarang aku bimbang. Bukan soal ekonomi tapi soal cintaku pada Mas Ramdhani.

Azharil semakin besar dan semakin dekat dengan ayahnya. Tapi aku punya firasat, akan ada luka di hati Zaril. Sama seperti luka di hatiku. Apalagi ketika Mas Ramdhani berkata bahwa dia tak mungkin terus ada di sini. Dia mengajak aku ke kota untuk tinggal di sana. Ada sebuah rumah yang disediakan untuk kami. Aku menolak. Itu artinya luka itu semakin dekat. Sesekali Mas Ramdhani p**ang ke rumah istri-istrinya yang lain itu biasa bagiku. Aku tau resiko. Tapi untuk kehilangan seterusnya, aku tak bisa. Bagaimana menjelaskan pada Zaril?

Sementara untuk meninggalkan rumah yang dibeli oleh Mas Ramdhani ini, aku juga tak mau. Ini tanda cinta bagiku.

Tak ada yang bisa kusalahkan kecuali diriku sendiri ....

Kulangkaui beberapa lembar. Aku tak tahan membaca kelanjutannya karena itu tentang perasaan Ibu. Aku tak mau den damku berubah.

Aku membuka lembaran kelima dari belakang.

Zaril terlihat makin memben cimu, Mas. Aku tau semua makanan yang kukirimkan untukmu itu dibuangnya ke sungai bahkan di depanmu. Hampir setiap aku menyuruhnya mengantar makanan itu, aku mengikutinya dan melihat semuanya. Tapi aku mengerti bagaimana perasaannya, Mas. Itu sebabnya aku tetap mengirimkan makanan untukmu meski tau bahwa akhirnya akan menjadi makanan ikan.

Kamu tau, Mas? Aku bertahan karena sikap sabarmu. Ketika kita bertemu di pasar pun kamu berbohong bahwa kamu sudah terima setiap pemberianku. Betapa kamu melindungi anakmu. Satu hal yang tak kupahami, kenapa kamu tak datang ke rumah kita ini dan menjelaskan pada Zaril? Aku tak pernah merasa kita berpisah, Mas. Aku tetap istrimu. Aku tak tau apa yang menyebabkanmu kembali ke desa ini.

Aku kuatir terjadi sesuatu pada keluargamu yang lain. Apa kamu baik-baik saja, Mas? Semoga kamu mengerti mengapa aku memintamu berlaku lebih adil pada anak-anakmu.

Dulu kamu bilang kamu menikah hingga tiga kali karena istri-istrimu tak peduli padamu setelah menikah. Diceraikan tak mau dan memilih bermadu. Aku kurang percaya soal itu. Bagaimana mungkin ada perempuan yang lebih rela dimadu daripada diceraikan. Aku tak tau apa masalahmu. Aku ingin tau yang sebenarnya tapi aku tak mampu. Ada keyakinan dalam diriku kamu memiliki masalah lain, Mas.

Tapi percayalah, aku tak pernah meninggalkanmu, Mas. Mungkin aku seorang perebut kebahagiaan. Mungkin aku seorang pengganggu rumah tangga orang lain. Tapi kamu tau bagaimana yang sebenarnya, Mas. Aku menerimamu pun bahkan setelah bertemu dengan tiga istrimu. Aku terima semua syarat yang mereka berikan dan tau diri.

Dan sekarang kamu datang. Sayangnya, kamu tak berbaik-baik dengan Azharil. Entah bagaimana pikiranmu.

Aku yang bingung sekarang ....

Kulewati lagi lembaran itu dan kubaca lembar kedua terakhir.

Aku merasa umurku tak panjang lagi. Satu-satunya harapanku adalah di masa tuamu, Azharil yang merawatmu. Aku ingin keben ciannya padamu menghilang. Dia harus jadi anak yang soleh. Tapi untuk bicara padanya aku tak mampu, Mas. Dia tak boleh jadi anak durha ka. Akulah yang salah karena telah memilihmu menjadi ayahnya.

Azharil membuatku terluka dengan kebenciannya padamu. Padahal, aku yang salah.

Jika nanti aku sempat bicara, akan kukatakan bahwa aku ingin dimakamkan di dekat rumahmu di tepi sungai agar ketika dia mengunjungiku, dia akan selalu bertemu denganmu. Meski aku tak yakin dia akan mau merawatmu.

Tak kubaca lagi lembar selanjutnya. Aku menyesal membaca semua itu. Bukan malah semakin jelas, tapi malah semakin buntu.

Benar. Aku adalah seorang anak yang tak boleh ikut campur urusan masa lalu orang tua. Tapi masalahku bukan itu. Masalahku adalah perbuatan Ayah yang menyia-nyiakan aku.

Satu hal yang membuat aku semakin merasa bersalah adalah Ibu tahu bahwa semua makanan yang dikirimkannya untuk Ayah kubuang ke sungai. Meski begitu Ibu tetap menyuruh aku mengantarkannya untuk Ayah. Untuk apa?

Baru kusadari, Ibu benar-benar memaklumi keben cianku pada Ayah.


Satu minggu sudah kepergian Ibu, satu minggu juga aku tak menjenguk makam Ibu. Padahal kerinduanku, entahlah.

Demi agar tak melihat Ayah, aku menekan sedalam-dalamnya kerinduan pada Ibu.

Tiga hari ini aku sudah bekerja pada Om Yanuar, ayah Cika. Tugasku adalah mencatat semua hasil kebun yang masuk dan menghitung uang yang harus dibayarkan. Sementara ini masih kutulis manual karena belum paham penggunaan komputer. Alvia yang memindahkan pembukuannya ke dokumen komputer.

Alvia, Pendi, dan Riko diajak juga oleh Cika untuk bekerja pada ayahnya. Jelas aku s**a karena akan punya teman sebaya. Dengan itu juga, perlahan keakraban tercipta dan aku mulai bisa memaafkan kenakalan mereka saat kami kecil dulu.

Iya. Aku berusaha menghapus den dam pada mereka. Bahkan den dam pada Ayah pun sebenarnya ingin kulupakan meski sampai saat ini aku tak bisa.

Hari ini kerinduanku pada Ibu tak tertahankan lagi. Setelah p**ang bekerja, aku pergi ke rumah Ayah. Aku niatkan dalam hati agar menjaga ucapan dengan tak berkata apa-apa dan tak emo si. Syukur-syukur Ayah tak di rumah sehingga aku tak perlu melihatnya.

Langkahku berhenti di depan jembatan.

Di depan gubuk Ayah, ada dua orang lelaki dan satu perempuan terlibat perdebatan. Sekilas kudengar mereka ribut soal siapa yang berhak membawa Ayah.

Apakah mereka adalah anak-anak Ayah?

Telinga kupasang dengan ta jam. Meski masih tak terlalu jelas karena mereka bicara tak bergantian tanpa aturan, tapi aku cukup tahu perdebatan mereka semakin sengit.

Akhirnya Ayah berkata keras. “Biarkan aku memilih sendiri akan ikut siapa!”


Selengkapnya
Sudah tamat di KBMapp
Dengan Judul : Maaf di Bumantara
Username : Shadam_Adivio
Marwah Muzdalifah

Address

Kp.pasirangin Rt02 Rw 09 Desa Buninagara
Soreang
40915

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Suka-suka posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category