02/09/2017
Semakin dekat ke angka 100 berarti semakin ideal indikator tersebut. Ada 5 indikator yang menjadi dasar penilaian dengan bobot yang berbeda-beda:
1. Stabilitas (25%)
Tidak berdasarkan stabilitas politik, melainkan diukur melalui tingkat kriminalitas, ancaman teror ataupun resiko konflik bersenjata.
2. Kesehatan (20%)
Hal-hal yang diukur antara lain ketersediaan dan kualitas pelayanan kesehatan baik dari sektor publik maupun swasta. Perlu diingat indikator ini baru tepat apabila memiliki asuransi, karena tanpa asuransi biaya kesehatannya akan menjadi mahal!
3. Budaya dan Lingkungan (25%)
Cuaca, tingkat korupsi, kebebasan beragama dan berorganisasi, ketersediaan olahraga, kebebasan mengkespresikan budaya, tingkat sensor terhadap media, ketersediaan barang-barang konsumsi dan bagi saya yang terpenting adalah variasi makanan dan minuman dari berbagai daerah, yang seringkali pemiliknya adalah orang asli dari daerah tersebut. Misalnya: restoran Korea, pemilik dan semua pegawainya adalah orang Korea juga.
4. Pendidikan (10%)
Sangat wajar bagi Melbourne untuk mendapatkan nilai ideal, karena banyaknya lembaga pendidikan terkemuka di seluruh penjuru Melbourne, mulai dari RMIT University di tengah kota, sampai ke Monash University yang lokasinya lumayan jauh dari CBD (25km).
5. Infrastruktur (20%)
Ini merupakan faktor yang sangat penting apalagi untuk kita orang Indonesia (khususnya Jakarta) yang infrastrukturnya masih kurang baik. Indikator ini menilai ketersediaan dan kualitas transportasi umum, jalan umum, sumber daya air, listrik, telekomunikasi, akses transportasi ke negara lain, dan adanya perumahan dengan kualitas baik.
Nilai ideal yang didapatkan Melbourne bukan berarti tidak ada kemacetan. Saat rush hour pergi dan pulang kerja, semua jalanan menuju atau dari CBD tetap padat, dan semua moda transportasi umumnya pun penuh, mulai dari bus, kereta dan tram. Perbedaannya dibanding Jakarta? Kepadatan tersebut cepat terurai dan ada opsi untuk berjalan kaki untuk yang tinggal di CBD. Cuaca sepanjang tahun relatif nyaman untuk pejalan kaki, walaupun ada juga hari-hari dengan cuaca ekstrim yang tidak ada di Jakarta.
Sumber: The Economist's Global Liveability Report 2017