12/02/2024
Sebenarnya dalam islam..dalam perkara memilih pemimpin itu adalah hak para ulama atau orang2 yg dikenal jujur dan amanah dan sholeh dalam memilih,tidak terikat dgn golongan atau partai manapun,benar2 memilih dengan kejujuran,ulama yang independent dan berilmu yang memilih,jadi tdk semua rakyat punya wewenang untuk memilih pemimpin..itu kalo dalam islam yang sesungguhnya bgtu.
Adapun negri kita qodarulloh pada dasarnya sudah berhukum demokrasi semua orang bisa boleh memilih,nah itu maka bisa menimbulkan banyak mudhorot...terlebih saling berebut kepemimpinan, maka Ahlussunnah Salafiyyun memilih untuk tidak ikut campur dalam politik karna bukan ahlinya dan bukan kapasitas kita, maka itu lbh baik bagi kita untuk tidak ikut-ikutan,dan kita berlepas diri, lbh baik kita sibukkan diri dengan ilmu syar'i dan amal sholeh saja,toh sudah banyak yg memilih dan mengurusinya..karna alhamdulillah ketiga paslonnya muslim,meski banyak kekurangan kurang dlm ilmu agamanya,tapi alhamdulillah mereka semua masih muslim dan sama saja mengusung demokrasi.
Rasa takut kita pada Allah seharusnya jauh lebih besar,kecuali klo ada yg mau nanggung dosanya,dosa tolong menolong diatas dosa dan maksiat kepada Allah dgn berhukum selain hukum Allah.
Alhamdulillah semua paslonnya menyayangi kaum muslimin dan menjamin keamanan bagi kaum muslimin,KECUALI jika paslonnya ada yg jelas kafir,dan yg kafir itu potensi menangnya tinggi,maka jika kita tdk mmberi suara akan menyebabkan paslon kafir itu menang, maka kita dibolehkan ikut serta mmberi suara karna dihukumi darurat..setahu aku begitu nasehat dari ulama Ahlussunnah Salafy.
Itu kutipan Faedah nasehat dari Ulama Ahlussunnah bagi yg merasa dirinya Ahlussunnah Salafiyah klo merasa bukan ya abaikan saja.