15/11/2017
*"Bekerjalah semaksimal kapasitas kita miliki dalam hal apapun. Bukan sebatas imbalan yang kita terima"*
==============================
*Rahasia Doa Umar bin Khattab*
Oleh: Umarulfaruq Abubakar
Diantara doa yang sering ia baca adalah:
_Allahummaj'al amali kullahu shaalihaa,wa liwajhika khaalishaa, wa laa taj'al li ahadin fiihi syai'a_
Ya Allah jadikanlah aktifitasku seluruhnya menjadi amal shaleh, tulus ikhlas karena Engkau, dan janganlah engkau jadikan sedikitpun bagian darinya untuk siapa pun dari makhlukmu" (Minhaj As-Sunnah An Nabawiyyah, 5/131)
Inilah permohonan untuk sebuah produktifitas, sekaligus permohonan ketulusan yang tak terhingga dalam setiap aktifitas. Mengalir, lepas dan tanpa batas.
Dengan ikhlas, seorang bisa menjadi sangat produktif, sebab tak ada lagi sekat pamrih dan berharap imbalan yang menghalanginya untuk terus memberi.
Bisa kita bayangkan, bagaimana kalau Rasulullah, Abu Bakar, Umar, dan para shahabat lainnya berharap pamrih manusia dari apa yang mereka lakukan? Maka pasti potensi dahsyat mereka tidak akan keluar dan tidak menggoreskan sesuatu dalam sejarah peradaban umat manusia.
Hanya karena mereka berharap hanya kepada Allah, selalu merindukan ridha dan surgaNya yang kenikmatannya tak terbatas, maka segala potensi itu meledak dan terpancar sampai ke seluruh dunia.
Maka bekerjalah semaksimal kapasitas yang kita miliki dalam hal apapun. Bukan sebatas imbalan yang kita terima.
*Ikhlas dan Profesionalisme*
Kerja ikhlas itu bukan kerja asal-asalan, tapi kerja yang sangat profesional.
Indikator ikhlas itu ada tiga, yaitu tujuan, harapan, dan aksi. Tujuannya adalah Allah, harapannya adalah surga, maka aksinya harus 100%"
Orang yang ikhlas tujuan utamanya adalah Allah. Dan Allah memiliki kekuasaan yang tidak terbatas. Ridha Allah adalah sesuatu yang paling indah dari apapun juga.
Ia pun memiliki harapan mendapatkan surga dengan kenikmatan yang tidak terhingga. Surga itulah yang menjadi penghibur utama ketika menghadapi kehidupan yang turun naik. Ada keindahan di akhir yang bisa kita dapatkan saat kita melangkah sesuai ketentuan Allah.
Karena ridha Allah itu mahal, surga itu mahal, maka kita pun harus bekerja dengan maksimal dan sangat profesional. Kita berusaha mengeluarkan semua kapasitas yang kita miliki untuk mendapatkannya.
Berbeda ketika kita hanya bekerja berharap imbalan manusia. Kita bekerja hanya sesuai imbalan. Maka potensi dan kapasitas kita yang dahsyat itu pun terkubur dalam-dalam.
"Kenapa manusia itu sering tergoda dengan fitnah dunia? Sebab dunia itu sifatnya Ad-Dunuww, dekat. Sementar akhirat itu jauh di akhir. Maka kita sering tergoda mengambil yang ada di dekat tapi melupakan sesuatu yang jauh lebih indah di akhir. Padahal Allah sudah mengatakan _walal akhiratu khairun laka minal ula_ "
Dari sinilah kita bisa memahami dahsyatnya keikhlasan. Ia dapat membebaskan diri kita sekat-sekat pamrih, gaji, insentif, dan imbalan, yang sering kali menghalangi kita untuk memberikan yang terbaik sesuai kapasitas yang kita miliki.