19/03/2026
Part 03 - Proyek Strategis Nasional di Batam
โ๏ธ PSN dari Kacamata BP Batam: Investasi Raksasa atau Beban Raksasa?
Dari sudut pandang Pemerintah Kota Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam, kehadiran PSN ibarat pisau bermata dua. Angka investasinya memang fantastis, tapi skema-nya justru menuai kritik keras karena dinilai tidak adil dan membebani daerah.
๐๐๐จ๐ก๐ง๐จ๐ก๐๐๐ก โ
โข Ekonomi Batam tumbuh 7,49% pada Q4 2025 โ jauh di atas rata-rata nasional dan memimpin di Provinsi Kepulauan Riau
โข Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, tetap berkomitmen mendukung PSN karena potensi pembangunan jangka panjang yang luar biasa besar
โข Sengkarut PSN justru menjadi momentum BP Batam berbenah melalui perbaikan Land Management System (LMS) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
๐๐๐๐๐ก ๐๐๐ก ๐๐ฅ๐๐ง๐๐ โ
โข Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, menyatakan blak-blakan di hadapan Menteri Keuangan: Batam tidak butuh PSN. Batam sudah punya FTZ, dan masuknya PSN justru bertabrakan dengan konsep ini
โข Keluhan terbesar: investor PSN mendapat hak eksklusif atas lahan ribuan hektare, tapi justru meminta BP Batam yang membangunkan infrastruktur dasar di dalamnya โ tanpa dana dari pusat
โข Ada pengembang PSN yang โsatu sen pun belum bayarโ kewajiban lahan ke negara, tapi sudah minta dibangunkan fasilitas
โข BP Batam yang harus berhadapan langsung dengan kemarahan warga di lapangan โ mengurus relokasi, menyuplai air bersih via tangki, dan mengatasi rumah relokasi rawan longsor
โข Anggaran pembangunan 400-500 rumah relokasi tiba-tiba dipangkas pusat dengan alasan efisiensi
โข Di PSN Galang, 71,5% lahan yang diajukan investor ternyata menabrak kawasan hutan lindung dan badan air โ membuat perizinan sangat rumit
Kesimpulannya: investor pusat yang untung mendapat lahan luas, tapi BP Batam yang harus keluar uang untuk infrastruktur dan berhadapan langsung dengan konflik warga.
Bagaimana pendapatmu soal ini? Tulis di kolom komentar ๐