25/05/2024
Beliau yang mengadakan walimah ini, siapa sebenarnya beliau ? Inilah 7 kejanggalan acara walimah yang saya belum pernah alami sebelumya.
Masihkah rakyat bisa berharap keadilan dan kesejahteraan ketika para politisi tanpa malu membuka aibnya sendiri menunggangi kekuasaan demi kepentingan pribadi dan keluarga? Kepada siapa berharapnya?
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan di atas diawali dengan menceritakan 7 kejanggalan sebuah acara walimah, dan di ujung tulisan ini akan diketahui apa yang ingin saya capai dengan pamer foto di postingan ini.
Ceritanya begini, belum pernah satu kalipun saya, maupun para undangan yang diundang dipernikahan, mungkin juga anda, bahkan MCnya, mengikuti prosesi walimahan yang begitu janggal, kecuali di acara pada foto tersebut. Sebagai gambaran, tempat acara walimah ini sangatlah layak, berada di aula masjid salah satu real estate yang besar di kawasan itu.
Kejanggalan pertama, undangan yang dari rumah menyiapkan amplop dan isinya, akan bingung mau di mana masukin amplopnya. Kenclengnya ndak ada. Kedua, di walimahan itu, undangan duduk di lantai berbaris dalam syaf, dipisah laki-laki dan perempuan, lebih seperti ta'lim daripada hajatan.
Kejanggalan ketiga, dari mulai sampai akhir, rundown acara mirip seperti tabligh akbar, yang diisi beberapa da'i, diselingi tabuhan rebana dan lantunan nasyid diantara khutbah-khutbah itu.
Keempat, tamu tidak makan, kecuali makanan kecil yang dibagi ketika mengisi buku tamu di depan. Tapi nasi box yang dibungkus tas kecil telah ditaruh berjejer di belakang hadirin yang sepertinya untuk dibawa pulang. Jadi benar lebih seperti pengajian daripada walimahan.
Keanehan kelima, beliau yang berhajat ini adalah orang sangat berpengaruh di Indonesia, namun kami tidak melihat ada pejabat publik, pengusaha besar, atau pimpinan polisi atau tentara yang jadi undangan, yang biasanya itu diniati jadi kenang-kenangan melalui sesi foto. Ternyata ini terjawab di kejanggalan selanjutnya.
Kejanggalan keenam, Ayah dari pengantin wanita ini menjadi salah satu yang mengisi khutbah, bahkan khutbah yang pertama. Yang mana MCnya sampai mengomentari belum pernah ada isi khutbah yang seperti ini di mana pun. Coba anda bayangkan, pemilik hajat ini menjelaskan dalam khutbahnya, tentang dalil yang menganjurkan undangan walimah sebaiknya adalah dari kalangan orang yang dhuafa dan berkebutuhan. Karena esensi dari walimah adalah sedekah. Diterangkan juga capaian walimah adalah mendapatkan do'a dari orang yang disedekahi itu. Dan ini mengantarkan ke kejanggalan selanjutnya.
Ketujuh, beberapa orang undangan mungkin telah GR (gede rasa) atau tersanjung, kok bisa kita yang bukan siapa2 ini diundang oleh Pimpinan salah satu wilayah dari parpol terbesar di dunia. Tapi ternyata, dari isi khutbahnya kita paham, undangan sebaiknya dari kalangan orang yang membutuhkan sedekah. ini sungguh melahirkan perasaan yang unik. Ingin menertawakan diri sendiri tapi disaat yang sama bahagia karena beruntung bisa menjadi undangan dan ikut mendo'akan pengantin.
Dan ternyata, kebanyakan undangan adalah murid-murid yang tinggalnya radius beberapa kecamatan saja dari tempat tinggal pengundang. Tidak banyak undangan yang spesial, kebanyakan yang diundang bukan karena juga orang hebat, bukan juga karena dekat secara circle pergaulan, bukan juga karena pengaruh dan hartanya. Unik ya? itu belum seberapa jika kita bandingkan dengan fakta-fakta yang ada di masyarakat.
Di dunia lain, di luar gedung ini, adalah lazim seorang pejabat akan membuat hajatan mumpung banyak yang mau cari muka sama pejabat tsb. Aliran Gratifikasi itulah yang dicari. Bahkan ada cerita nyata pejabat yang tidak punya anak laki-laki, sampai nyunatin keponakan laki-laki dan merayakannya di gedung biar bisa terima amplop di kencleng, mumpung dia jadi pejabat.
Teringat saya ketika Ust Hidayat Nur Wahid menikahkan putrinya, heboh berita bahwa ada tim yang bertugas memeriksa isi amplop untuk memastikan tidak ada gratifikasi yang berlebihan. Dan kita cukup salut atas ust HNW yang membiarkan prosedur itu berjalan walau urusan pribadinya harus menjadi pemberitaan. Namun di acara yang saya datangi ini, Kenclengnya aja ndak ada.. bingung saya mau kaget atau salut. Mau heran tapi ya inilah pimpinan parpol ideologis.
Pertanyaan di atas, mengenai adakah politisi yang masih bisa diharapkan untuk mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera? Yang saya alami, di jalan Sepulang dari walimahan itu - sambil kadang senyum kadang bingung, saya yakin ada dan banyak. Insyaallah orang-orang seperti KH. Rokhmat S. Labib tuan ruah walimah tersebut, jumlahnya tidak sedikit.
Keadilan dan kesejahteraan hari ini cuma pepesan kosong, dikarenakan posisi pemangku kebijakan dipenuhi oleh badut-badut pencari gratifikasi, yang berkolusi dengan pengusaha yang ilmunya cuma dua R : Riba dan Riswah. Bertemunya Pejabat yang maunya disogok dengan pengusaha yang maunya nyogok, adalah kuali tempat uang dan aset negara menguap. Budayanya begitu mengakar dan sulit dicabut.
Tapi dengan lahirnya orang-orang anti rasuah, yang akan menolak rasuah karena iman (bukan karena takut undang-undang atau KPK), secercah harapan telah terbuka. Dan sebaliknya akan menjadi benih yang akan mengakar, bersama akar-akar baru lainnya akan mematikan akar moral budaya rasuah di negeri ini. Orang-orang ini yang akan membuat para pelaku rasuah malu sendiri sejak baru mau niat korupsi. Dan orang-orang ini akan cepat menularkan dan mempertahankan integritasnya, karena inilah integritas yang alami, yang energinya adalah energi langitan, energi pencipta langit dan bumi, yang fitrah dan menentramkan. Energi yang ideologis.
Lalu apa tujuan saya posting foto ini? Saya jadi tidak tahu apa tujuannya, Saya yang foto bareng sama beliau, tidak ada bedanya dengan anda yang tidak foto bareng, sama saja, karena tidak ada yang bisa saya harapkan dari foto bersama orang yang hatinya tidak berharap dari manusia. Beliau yang seperti lemari buku berjalan, telah menyelesaikan tafsir qur'an berkitab-kitab ini, yang santrinya seantero indonesia, telah memberikan contoh untuk menjadikan akhirat sebagai tujuan, hubud dunia sebagai pantangan, iman sebagai kompas dan taqwa sebagai jalan.
Di bagian ini saya menyanjung beliau, apa yang saya ingin capai? Tujuan saya adalah mensyiarkan bahwa jika islam dihujamkan secara ideologis, yaitu membina manusia melalui pemikiran, mengaktifasi aqidah agar berbuah amal, maka bukan 1 - 2 orang yang bisa menjadi seperti beliau, tapi satu jamaah bahkan kelak satu masyarakat. Alhamdulillah.
Juga untuk memuji Allah SWT, Bahwa ada sekelompok orang yang saling menasihati dalam kesabaran dan kebenaran, yang tidak tergoda oleh metode politik praktis di sistem yang melenakan ini. Lalu jika disebut saya menyanjung beliau agar beliau ridho sama saya, memangnya apa yang bisa saya harapkan dari orang yang tidak berharap kepada ridho manusia?
Mari kita simak pidato Politik beliau pagi ini, Ahad 26 Mei 2024.