16/01/2018
Ust Rudini:
Ketiga, Negeri Kita tengah 'tergadai' dengan utang ribawi dan sistem ekonomi kapitalisme global. Coba bayangkan, bagaimana Negara Kita ini tak mampu mengangkat kepalanya dengan tegak di hadapan Negara-negara pemberi utang. Akan sangat mudah kebijakan-kebijakan dibuat dalam rangka pro kepada Negara pemberi utang, minimal berpihak pada Pengusaha-pengusaha 'utusan' Negara 'donatur'. Tidak usah heran, mengapa reklamasi Jakarta (dan di tempat lain) menjadi begitu dibela 'hidup-mati', baik dengan lisan, sikap dan peraturan oleh para Cukong di negeri Kita ini. Tak lain karena Negara Kita tercinta ini tengah tersandera.
Dilain sisi, rakyat harus menanggung beban bayar bunga utang (belum lagi pokok utangnya). Mereka harus dicekik dengan berbagai beban biaya hidup. Listrik, gas, bahan bakar kendaraan, telekomunikasi, pendidikan, kesehatan, keamanan dan tentua saja dengan 'sejuta' jenis pajak yang siap memangsa pundi-pundi harta rakyat negeri ini. Sementara, negeri ini tak henti-hentinya dilanda nestapa, musibah bencana alam, tsunami, gempa bumi, tanah longsor, banjir, dan lain sebagainya, seakan menjadi penyampai pesan akan negeri yang tiada barokah ini, yang hidup ditopang oleh utang ribawi, sebuah dosa yang Allah dan RasulNya telah umumkan PERANG kepada mereka yang berani mengambil riba.!
Inilah 3 "alasan kuat - strong why" mengapa konsep properti ini harus dimulai, dipertahankan sampai sekarang dan wajib untuk terus diperjuangkan.!
Dengan "strong why" ini lah, akhirnya Kita mendorong sebuah tema besar untuk diusung oleh gerakan properti syariah, yakni "MEMBANGUN INDONESIA TANPA RIBA dengan PROPERTI SYARIAH"
POINT 2 : "STEP by STEP"
Gagasan besar akan menguap bila tak disertai dengan tahapan-tahapan strategis. Itulah mengapa, Saya mencoba untuk membuat tahapan strategis yang butuh untuk Kita lakukan untuk menuju tercapainya tema besar yang Kita usung di atas.
Agar Kita bisa "MEMBANGUN INDONESIA TANPA RIBA dengan PROPERTI SYARIAH", maka dibutuhkan oleh setiap Kita untuk melakukan:
Pertama, "KATAKAN TIDAK PADA RIBA"
Yeah, "SAY NO TO RIBA", katakan tidak pada riba. Tulisan ini juga menghiasi baju peserta Kopdar Nasional Agen Properti Syariah kemarin. Tulisan ini bukan tanpa tujuan, melainkan agar setiap peserta benar-benar MENOLAK RIBA. Penolakan pada riba tentu saja tak sebatas tulisan di baju atau penghias bibir semata, tetapi wajib diamalkan dalam kehidupan nyata secara pribadi dan keluarga terutama.
Kita semua harus BEBAS RIBA, tak ada lagi kartu kredit, tiada lagi deposito di perbankan, kendaraan tak mengapa baru asal hard cash dan nggak leasing, rumah boleh mewah asal tak KPR Ribawi, usaha wajib besar dan profit tanpa modal ngutang riba. Singkatnya, mulai dari Kita bangun hingga kembali terbangun, tak ada lagi riba yang Kita sengajakan dan apalagi menikmatinya.!
Kedua, "AJAK YANG LAIN"
Mengapa Kita harus BEBAS RIBA? di samping itu kewajiban Kita, juga karena Kita membutuhkan sosok yang bebas riba untuk dapat membantu mereka yang terjerembab riba agar menjadi bebas riba. Ucapan Kita akan lebih berbobot, apabila omongan selaras dengan perbuatan. Yang mengucapkannya terasa enteng dan hikmat, sedang yang mendengarnya penuh dengan penghayatan.
Karenanya, hal kedua yang harus Kita lakukan setelah bebas riba adalah mengajak yang lain untuk juga bebas riba. Tularkan antibiotik-antiriba ini ke sebanyak mungkin. Perbanyak gerakan-gerakan penolakan pada riba. Hidupkan forum-forum talkshow, seminar, workshop, camp, atau apa saja yang itu bisa menjadi medium penghantar tentang dahsyatnya dosa riba. Semakin bayak dan massif ini dilakukan, semakin mempercepat datangnya 'malaikat pencabut nyawa' untuk mengakhiri kehidupan perbankan, yang notabene sebagai jantung ekonomi kapitalisme.
Ketiga "MEMBANGUN INDONESIA TANPA RIBA"
Apa yang Kita lakukan sekarang di bisnis properti syariah sesungguhnya adalah mengajak yang lain untuk ikut membangun indonesia tanpa riba. Mengajak para developer untuk hijrah, mengajak agency untuk hijrah, mengajak konsumen untuk hijrah, mengajak pemerintah untuk hijrah.