Puri 8 Residence

Puri 8 Residence At Puri 8, We do more than just building a property. We design dynamic living spaces which is suitable for people with different activities.

Located in western Jakarta, we are a part of mature both business and residential area, and easily reachable.

Himeji Tower Typical Floor Plan
14/09/2018

Himeji Tower Typical Floor Plan

13/09/2018

Penjualan properti hingga saat ini masih lesu. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut sampai akhir tahun. Penyebabnya investor masih menahan diri masuk ke sektor ini karena kondisi makro yang kurang bagus dan properti-properti investasi memang masih over suplay.

Dengan kondisi seperti ini, harga properti diperkirakan tidak akan naik. Bahkan, untuk harga rumah secondary malah cenderung mengalami penurunan. Oleh karena itu, Andy K Natanael, Founder PROJEK dan PROVIZ mengatakan, saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan pembelian properti.

"Situasi sekarang adalah time to buy. Banyak sekali diskon dipasar saat ini dan harga secondary saja sudah turun. Beli properti itu jangan saat booming tapi saat lesu agar dapat murah yang murah," kata Andy di Jakarta, Minggu (9/9).

Andy menyarankan, jika ingin membeli properti dengan mengejar capital gain mak sebaiknya konsumen membeli proyek properti yang benar-benar baru diluncurkan saat ini.

Dengan kondisi harga properti yang lagi turun maka harga proyek-proyek baru saat ini akan cenderung murah sehingga potensi kenaikannya akan sangat besar saat pasar properti sudah membaik.

Menurut Andy, pasar investor saat ini lesu bukan hanya karena faktor makro ekonomi yang kurang bagus tetapi karena pasokan yang masuk ke pasar pada empat lima tahun yang lalu sangat besar. Sehingga jumlah proyek yang sudah jadi saat ini banyak sekali. Banyak investor, sementara pembelinya tidak ada.

Dengan kondisi tersebut, tahun ini akan menjadi tahun yang berat bagi pengembang. Cara berjualan properti saat ini tidak bisa lagi dengan iming-iming potensi investasi tetapi harus berjualan sesuai dengan fungsinya.

"Jadi jualan sekarang harus untuk fungsi ditinggali baru laku. Atau kalau tujuannya untuk investasi maka pengembang harus kasih data ke konsumen bagaiman potensi investasinya, harus ada data potensi sewa." jela Andy.

Adapun segmen properti yang masih memiliki pasar saat ini adalah proyek yang benar-benar mahal atau yang murah sekali. Menurut Andy, dua segmen itu masih akan tumbuh karena tujuannya pasti untuk ditempati.

Creed Developer
13/09/2018

Creed Developer

Greenwoods Developer
12/09/2018

Greenwoods Developer

Building Specifications and Consultants
11/09/2018

Building Specifications and Consultants

10/09/2018

Penguatan Sektor Properti Bisa Bantu RI Lawan 'Amukan' Dolar AS

Jakarta - Laju dolar Amerika Serikat (AS) masih menjadi sorotan. Meski mulai jinak, namun posisinya masih terpantau tinggi di Rp 14.880 dibanding posisi tertinggi yang sempat menyentuh Rp 14.999.

Laju dolar AS sebagian besar masih dipengaruhi faktor eksternal terutama disebabkan ketidakpastian global yang diperparah dengan adanya kabar krisis di sejumlah negara seperti Turki hingga Venezuela.

Meski demikian, bukan berarti RI tak bisa berbuat apa-apa untuk menanggulangi kondisi tersebut.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Maryono menjelaskan, penguatan sektor rill bisa jadi jawaban bagi Indonesia untuk melawan ketidak pastian global tersebut.

"Jika sektor riilnya berkembang maka akan ada suatu pergerakan ekonomi dan bisa mendorong pertumbuhan secara tidak langsung," jelas Maryono, Jumat (7/9/2018).

Sektor rill yang dimaksud, salah satunya adalah sektor properti. Di mana, ada sekitar 117 industri yang ikut terlibat di sektor properti ini dari mulai industri bahan bangunan hingga jasa konstruksi.

Untuk itu, perseroan akan mendorong pertumbuhan KPR sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

"Jadi kalau bisnis properti naik, maka semua akan ikut terdorong naik," jelasnya.

Maryono mengungkapkan, permintaan kredit saat ini masih cukup bagus, terutama untuk KPR Subsidi. Karena rumah merupakan kebutuhan pokok, permintaan KPR Subsidi diberbagai daerah sangat tinggi.

"Kalau rumah menengah atas memang ada koreksi, tetapi BTN mayoritas di KPR Subsidi jadi tidak mengganggu kinerja perseroan. Secara umum KPR growth sekitar 19%," tegasnya.

Mengenai pelemahan rupiah yang terjadi, Maryono menegaskan, hal tersebut tidak berdampak pada bisnis BTN. Pasalnya, outstanding perseroan semuanya dalam bentuk rupiah.

"BTN ini gak ada pengaruh karena semua outstanding kita rupiah dan dana kita sebagian besar hampir 100 persen adalah rupiah, jadi gak ada dampak secara langsung," kata Maryono.

Maryono menuturkan, selain didukung permintaan KPR Subsidi yang tinggi, kinerja BTN juga diuntungkan dengan relaksasi aturan uang muka atau Loan to Value (LTV).

"Dengan berbagai stimulus tersebut serta kesiapan Bank BTN menggarap berbagai peluang bisnis yang ada, kami meyakini akan tetap mencatatkan realisasi kinerja bisnis sesuai target yang telah ditetapkan sejak awal tahun," jelas Maryono.

Sementara itu dihubungi terpisah, Kepala Ekonom BCA David Samual menilai kinerja perbankan nasional masih tangguh di tengah tekanan pasar keuangan yang terjadi saat ini. Bank-bank papan atas di Tanah Air diproyeksikan masih mampu membukukan pertumbuhan kredit double digit meski tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya.

"Kredit mungkin saja bisa menyentuh hingga 12% [pada akhir 2018], tapi memang untuk (penghimpunan) dana masih agak berat karena masih ada tekanan eksternal," jelas David.

Unit : Three Bedroom
10/09/2018

Unit : Three Bedroom

Unit : Two Bedroom
09/09/2018

Unit : Two Bedroom

Unit : One Bedroom
08/09/2018

Unit : One Bedroom

07/09/2018

REI: Indonesia Tidak Akan Ikut Bubble Properti

JAKARTA -- Asosiasi pengusaha properti, Realestat Indonesia menilai harga properti di Indonesia tidak akan melemah dan terjadi bubble properti seperti di Amerika Serikat pada 2008 lalu.

Sekretaris Jenderal Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lucida mengatakan kondisi properti di Indonesia sekalipun mengalami over supply alias kelebihan pasokan, tidak akan membuat harga properti yang selama ini naik menjadi turun drastis seperti fenomena bubble property.

“Kita di Indonesia tidak ada bubble property. Itu masih jauh sekali dan pasar juga tidak ada bubble price. Hal itu sudah disampaikan p**a oleh Bank Indonesia," ujar Totok kepada Bisnis, Kamis (6/9/2018).

Dia mengatakan kondisi bubble property lebih berpotensi ada di Amerika Serikat (AS). Seperti pada krisis 2008 lalu terjadi bubble property di AS karena mereka melakukan banyak kredit penjualan rumah. Penjualan kredit untu diperdagangkan ini tidak mungkin diimplementasikan di Indonesia.

"Kalau di Amerika mungkin terjadi kalau kenaikan bunga gila-gilaan hanya untuk menunjukkan kekuatan super mereka. Namun seharusnya mereka juga memikirkan dampak krisis dunia karena mereka juga punya hubungan dengan negara lain," kata Totok.

Sementara itu, kondisi pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpeluang menimbulkan bubble properti lagi bagi negara Paman Sam tersebut. Associate Director Investment Service Colliers International Indonesia Aldi Garibaldi mengatakan kondisi pelemahan rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) memang karena tengah menguatnya ekonomi negeri Paman Sam itu.

Aldi berpendapat, jika Indonesia hendak menaikkan suku bunga, dolar pun akan tetap ditarik semua ke Amerika. Alhasil, jika suku bunga naik, maka dengan banjir dolar ke Amerika Serikat mengakibatkan kenaikan harga aset.

“Banjir dolar ke Amerika maka harga aset jadi naik, ya dia bubble,” ungkap Aldi kepada Bisnis, Rabu (5/9/2018).

Aldi mengambil contoh, ketika ekonomi AS terlampau kuat dan mereka sendiri tidak bisa mengatasi, kejadian pecahnya bubble perumahan pada 2008 bisa saja terjadi kembali.

Sebagai contoh, jika produk teknologi seperti iPhone dari AS terlampau mahal, pembeli akan mencari barang substitusi yang lebih murah dengan kualitas yang hampir sama. Hal serupa juga akan terjadi pada sektor properti yang mana menurut Aldi pada 2006-2008 terjadi bubble properti, setiap orang di Amerika bisa memiliki rumah lebih dari satu unit.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Bisnis, 2008 adalah sejarah ketika AS mengalami peningkatan drastis sampai enurunan harga properti. Adapun analogi bubble properti adalah kondisi harga yang melonjak karena tingginya permintaan dan spekulasi.

Kenaikan ini seperti gelembung udara yang membesar dan pada titik tertentu akan berhenti dan pecah karena kelebihan pasokan serta mengakibatkan penurunan harga properti. Penurunan harga properti bisa berimbas terhadap penurunan nilai harta rumah tangga.

Unit : Studio
07/09/2018

Unit : Studio

A calming sense of space
06/09/2018

A calming sense of space

Address

Jalan Raya Kresek, RT. 4/RW. 8, Duri Kosambi
Cengkareng
11750

Opening Hours

Monday 10:00 - 19:00
Tuesday 10:00 - 19:00
Wednesday 10:00 - 19:00
Thursday 10:00 - 19:00
Friday 10:00 - 19:00
Saturday 10:00 - 19:00
Sunday 10:00 - 19:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Puri 8 Residence posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category