08/01/2016
PROPERTI TIDAK ADA MATINYA
Itulah ungkapan para investor, developer dan kontraktor yang tetap antusias menekuni bisnis propert. Saat ekonomi sedang lesu, investasi juga melambat namun properti masih menjadi favorit orang Indonesia di antara semua instrumen investasi. Risiko yang bisa lebih ditekan dan diperhitungkan, jadi alasan kecenderungan tersebut.
Survei dari sebuah lembaga keuangan, seperti dikutip Kontan Edisi Khusus September 2015, menguatkan preferensi itu. Banyak orang di Indonesia, menurut survei tersebut, yang merasa sudah berinvestasi ketika telah membeli properti. Investasi properti pun oleh banyak orang diklaim sebagai dana pensiun.
Risiko yang lebih sedikit, menjadi dasar dari preferensi ini. Sama halnya dengan instrumen investasi lain yang menawarkan banyak keuntungan, properti juga berisiko besar.
Namun, risikonya bisa ditekan dengan pilihan investasi ke properti yang prospektif. Berikut ini sejumlah peluang yang bisa meminimalkan risiko berinvestasi ke sektor properti:
Harga cenderung naik
Di antara beberapa alasan orang Indonesia s**a berinvestasi dalam bentuk properti adalah harganya yang cenderung naik. Saat ekonomi melemah seperti sekarang, penjualan properti turut melambat tetapi harganya tetap saja tumbuh. Besaran pertumbuhan harga antara lain ditentukan oleh pilihan lokasi. Bila lokasi properti tersebut prospektif, harga cenderung naik lebih cepat.
Dua sumber pendapatan
Berinvestasi ke properti, investor bisa memperoleh dua sumber pendapatan, yaitu dari penjualan dan uang sewa. Keuntungan penjualanโbiasa disebut dengan capital gainโdidapat dari selisih harga beli dan jual.
Namun, untuk memaksimalkan keuntungan dari penjualan, beberapa hal harus dicermati. Misalnya, investor harus menghitung semua biaya di luar harga pembelian.
Biaya tambahan itu mulai dari ongkos notaris, komisi penjualan untuk agen properti, asuransi, bea balik nama, pajak, hingga biaya pemeliharaan. Setelah menghitung total biaya pembelian dan biaya tambahan ini, barulah harga jual yang pas ditentukan.
Bila tidak terburu-buru ingin menjual aset, investor masih punya pilihan pendapatan dengan menyewakan properti. Penentuan harga sebaiknya juga memasukkan biaya yang mungkin muncul selama masa penyewaan, selain patokan berdasarkan informasi harga di sekitar kawasan.
Dengan terbuktinya bisnis properti sebagai bisnis yang tetap cerah di tengah lesunya ekonomi, anda semua punya kesempatan untuk ikut mencicipi cerahnya bisnis ini. Jika anda masih awam tentang bisnis properti jangan khawatir. Ada komunitas yang memang memfokuskan untuk memberi edukasi, berbagi ilmu dan pengalaman sekaligus peluang. Komunitas TDA properti adalah salah satunya. TDA Properti telah lama eksis dengan berbagai programnya seperti seminar, workshop, bazar, expo dan sebagainya sebagai wadah untuk memberdayakan anggotanya sekaligus berkontribusi pada masyarakat.