17/08/2015
-HABISKAN SAJA GAJIMU-
[Dirangkum dari buku karangan Ahmad Gozali berjudul "Habiskan Saja Gajimu"]
Suatu ketika seorang perencana keuangan yang dalam pandangan umum dikenal pemberi saran untuk menabung, investasi dan jangan boros tiba-tiba mengeluarkan statement kontroversial yang mengatakan "Habiskan Saja Gajimu". Statement ini kemudian menimbulkan pertanyaan di khalayak ramai, muncul dugaan bahwa statement tersebut bukan dari si perencana keuangan, namun benarkah demikian?
Lebih lanjut, sang perencana keuangan mengklarifikasi bahwa benar dia telah berkata demikian. Sang perencana keuangan melemparkan pertanyaan susulan, mana yang lebih mudah dan menyenangkan untuk kita lakukan? Menyisakan uang atau menghabiskan uang? Pasti rata-rata jawabannya adalah menghabiskan uang, ini tidak salah karena nature dari uang memang sebagai alat pembayaran bukan sebagai alat tabungan, right? Oleh karenanya kita tidak usah susah payah memikirkan caranya menyisakan uang, lebih baik kita fokus bagaimana caranya menghabiskan uang (dengan cara yang benar).
Pengeluaran kita secara umum dapat dibagi menjadi 4 (empat) jenis yaitu:
1. Pengeluaran sosial (zakat, infak, sedekah dll);
2. Pengeluaran cicilan utang (cicilan KPR, cicilan kredit mobil dll);
3. Pengeluaran untuk saving (cicil emas, unit link dll); dan
4. Pengeluaran untuk biaya hidup (belanja bulanan, shopping, uang sekolah anak, ongkos ke kantor dll).
Nah konsep menghabiskan uang dengan cara yang benar adalah perihal kemana terlebih dulu gaji bulanan kita alokasikan. Aturan mainnya simple, pengeluaran yang fixed di dahulukan, yang flexible di akhirkan, right?
Kalau ditanya pengeluaran mana yang fixed untuk ditempatkan di urutan pertama hampir setiap orang akan menjawab PENGELUARAN BIAYA HIDUP. Tapi benarkah demikian?
Pengeluaran Biaya Hidup menurut perencana keuangan ini adalah justru jenis pengeluaran yang (harus dibuat) fleksible. Pengeluaran Sosial didahulukan, kemudian pengeluaran cicilan utang, pengeluaran saving baru terakhir pengeluaran biaya hidup, Kenapa?
Perencana keuangan ini berpendapat bahwa semua urutan tersebut disusun berdasarkan tingkat resiko atau bahasa kerennya disusun berdasarkan hasil analisis resiko.
Pengeluaran sosial ditaruh di urutan pertama karena mengandung resiko yang tidak hanya di dunia tetapi juga akhirat, pengeluaran sosial adalah "Hak Tuhan" yang wajib kita keluarkan tanpa bisa di toleransi lagi (sesuai agama dan kepercayaan masing-masing).
Pengeluaran cicilan utang ditaruh di posisi berikutnya, karena secara resiko saat cicilan utang telat dibayar maka akan ada konswekensi keuangan yang akan kita terima seperti denda utang, makin kita telat bayar makin besar denda utang kita. Bahkan bisa berpengaruh ke kondisi psikologis, misalnya kalau debt collector sampai menagih pembayaran cicilan utang karena kita telat bayar.
Pengeluaran berikutnya adalah pengeluaran saving. Mengapa pengeluaran ini harus didahulukan dari biaya hidup? Jawabannya karena dengan mendahulukan pengeluaran saving maka masa depan kita akan lebih baik karena punya simpanan, kita cenderung lebih hemat, kita cenderung belanja untuk kebutuhan bukan keinginan dll. Karena lebih mudah saving dulu baru shopping daripada shopping dulu baru saving, itu juga kalau ada yang nyisa?hehe..
Terakhir baru pengeluaran biaya hidup, tentunya bukan berarti pengeluaran ini tidak penting, bukan berarti juga kita tidak boleh makan tetapi semua ini agar cashflow kita sehat dan supporting untuk masa depan. Prinsipnya adalah invest right after you get your income bukan invest what left on your income.
Kalau biasa makan ayam, bisa di substitusi dengan telur ayam (harga lebih murah, kenyangnya sama), kalau biasa nonton di bioskop bisa diganti nonton TV/DVD di rumah, artinya pengeluaran yang hanya sebatas keinginan bukan kebutuhan harus ditekan. Lebih baik berasa "miskin" tidak punya uang tapi sebenarnya "kaya" banyak simpanan daripada berasa "kaya" banyak uang tetapi "miskin" tabungan. Semoga bermanfaat :D
Sakti Lazuardi