30/06/2017
PERBEDAAN GAYA DAN POLA PIKIR
Pada saat ini, beberapa negara maju seperti jepang sedang ngetrend gaya hidup minimalis. Masyarakat disana berlomba mengosongkan rumahnya dari segala perabotan yang kurang efektif, dan hanya menyisakan beberapa barang yang bermanfaat. Tujuannya agar rumah terlihat lebih lapang, sehingga dapat tercipta keadaan yang menyenangkan.
Masyarakat jepang yang memiliki mobil justru kebanyakan dari golongan petani di pedesaan, itupun digunakan untuk mengangkut barang logistik pertanian. Sedangkan orang yang tinggal diperkotaan lebih s**a dengan berjalan kaki dan naik sepeda. Fungsi mobil hanya sebatas untuk bepergian keluar kota, bila dalam keseharian mobil tinggal diam didalam garasi.
Kehidupan masyarakat di indonesia sangat berbeda, mobil dianggap sebagai simbol kekayaan dan kesuksesan. Bahkan masyarakat yang belum memiliki rumah sekalipun, lebih memilih untuk kredit mobil dari pada rumah. Padahal, mobilitas belum tinggi dan juga belum menjadi orang yang mapan. Hanya karna tetangga punya mobil, jadi ikut ingin membeli mobil hanya karena takut dianggap dari golongan kurang mampu.
Lihatlah cerminan gaya hidup masyarakat di indonesia, rumah masih mengontrak saja akan tetapi motornya sudah ada 2 dan isi rumahnya pun sudah lengkap dengan mesin cuci, kulkas, dispenser, serta TV plasma. Alasannya sangat jelas, hanya ingin dianggap sudah mapan atau berasal dari kalangan berada.
Padahal, orang yg benar-benar mapan dan berasal dari kalangan berada menggunakan uangnya untuk berinvestasi. Mereka membuat pola agar uangnya dapat berkembang, contohnya dengan berinvestasi properti atau tanah yang kenaikan harganya tiap tahun semakin menggila.
Ingatlah !!!
Barang elektronik ataupun kendaraan bermotor hanya akan menjadi rongsokan, mengapa ???
Karna harga jual kembali, tidak sebanding dengan harga pada saat membeli.
Punya perabotan banyak boleh saja, selama rumah milik sendiri. Punya mobil juga sangat boleh, selama pondasi ekonomi sudah kuat. Apa yang terlihat oleh mata hanyalah cover luar, untuk apa memaksakan luarnya terlihat mapan, akan tetapi yang di dalam justru keropos.
Gunakanlah manajemen keuangan dengan baik seperti investasi dibidang properti (tanah dan bangunan), yang harganya tidak pernah mengalami penurunan.
Salam,
TJAHAYA KENTJANA PROPERTY