27/06/2023
QURBAN: MENYEMBELIH SIFAT HEWAN DALAM DIRI MANUSIA
Dalam ajaran Islam setiap ritual ibadah mengandung unsur Syareat dan Hakekat. Begitu juga dengan ritual menyembelih hewan qurban juga mengandung pesan secara hakekat yaitu menyembelih dan mengalahkan sifat-sifat hewani dalam diri manusia.
Sebetulnya dalam diri manusia sangat banyak sekali sifat-sifat hewani yang telah kita sengaja dipelihara dan selalu diberikan makan sehingga sifat-sifat hewani dalam diri kita lebih dominan ketimbang sifat-sifat Insani (manusia).
Jika seseorang sudah dikuasai oleh sifat hewani, maka jangan heran walaupun wujud dohirnya manusia akan tetapi prilakunya seperti hewan. Rasa keprimanusiaannya hilang orang-orang seperti itu wujud hakekatnya adalah binatang sesuai dengan karakteristiknya.
Oleh karena itu sifat hewani tersebut harus disembelih dengan Tazkiyatun Nafs yaitu pembersihan jiwa. Sifat-sifat hewani itu yang membuat kita tertutup/terhijab kepada Allah. Dengan menghilangkan sifat hewani dalam diri maka kita akan bisa mendekatkan diri kepada Allah itulah mengapa disebut Qurban.
Kata qurban berasal dari bahasa Arab qariba – yaqrabu – qurban wa qurbanan wa qirbanan, yang artinya dekat (Ibn Manzhur: 1992:1:662; Munawir:1984:1185). Dalam kata lain, qurban artinya mendekatkan diri kepada Allah melalui ritual penyembelihan hewan ternak.
Adapun kata Idul adha muncul dari “udhhiyah” yang merupakan bentuk jamak dari “dhahiyyah” (dari dhaha) yang artinya waktu dhuha. Ini terkait dengan prosesi penyembelihan qurban yang dilaksanakan usai shalat Iduladha, dari tanggal 10-13 Dzulhijjah.
Wujud batiniah manusia adalah tingkah laku ( akhlak), hati manusia dibentuk oleh amal-amal yang dikerjakan. Manusia memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi apa saja, sejak binatang yang paling rendah sampai kepada malaikat yang di dekatkan kepada Allah. Tidak henti-hentinya jati diri manusia berubah sesuai dengan perubahan amal dan akhlak.
Sifat binatang pada manusia sangat banyak sekali, tergantung manusianya, mau dikembangkan dan subur sifat-sifat binatang tersebut, atau dikikis habis dan dibersihkan dari jiwa kita. Adapun sifat-sifat tersebut antara lain:
1. Nafsu kalbiyah: Sifat anjing, yang perwujudannya antara lain s**a memonopoli sendiri, s**a menilai dan menghina orang lain.
2. Nafsu himariyah: jiwa keledai, yang pandai memikul namun tidak mengerti secuil pun apa yang dipikulnya. Dengan kata lain, ia tak memahami masalah.
3. Nafsu sabu'iyah: jiwa serigala (s**a-s**a menyakiti atau menganiaya orang lain dengan cara apa pun).
4. Nafsu fa'riyah: nyali tikus, sebangsa merusak, menilep, atau semacamnya.
5. Nafsu dzatis-suhumi wa hamati wal-hayati wal-aqrabi, yaitu jiwa binatang penyengat berbisa sebagai ular dan kalajengking. (Senang menyindir-nyindir orang, menyakiti hati orang lain, dengki, dendam, dan semacamnya).
6. Nafsu khinziriyah: sifat babi, yakni s**a kepada yang kotor,busuk, apek, dan yang menjijikkan.
7. Nafsu thusiyah: nafsu Burung merak, antara lain s**a menyombongkan diri, s**a pamer, berlagak-lagu, busung dada, dan sebagainya.
8. Nafsu jamaliyah: nafsu unta (tidak mempunyai sopan santun, kasih sayang, tenggang rasa sosial, tak peduli kesusahan orang, yang penting dirinya selamat dan untung).
9. Nafsu dubbiyah: jiwa beruang, biarpun kuat dan gagah, tapi akalnya dungu.
10. Nafsu qirdiyah: jiwa beruk alias munyuk atau monyet (diberi ia mengejek, tak dikasih ia mencibir, sinis, dan s**a melecehkan/memandang enteng). Dan masih banyak lagi-sifat-sifat binatang selain penjabaran di atas.
Untuk itu tidak usah jauh-jauh dalam mencari hewan Qurban, cukup mencari ke dalam diri kita, ternyata dalam jiwa kita adalah kebun bintang yang besar isinya penuh dengan aneka hewan. Jika kita membiarkan sifat-sifat Hewani dalam diri kita, maka derajat kita secara bathin adalah hewan.
Dengan mengalahkan sifat-sifat hewani dalam jiwa kita, sehingga semua sifat binatang dalam diri kita sudah hilang, maka itulah hakekat qurban yang sebenarnya.
Bagi yang mampu untuk berqurban dengan hewan yang semampunya, maka niatkan qurbannya untuk menyembelih dan mengalahkan sifat hewani dalam diri. Di samping itu juga laku ruhani dengan Tazkiyatu Nafs ( membersihkan jiwa ).
Adapun yang tidak mampu membeli hewan qurban, cukup melakukan olah ruhani atau Tazkiyatu Nafs. Karena bukan daging dan darah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, melainkan hati yang bersih yang bisa menjadikan wushul ( sampai ) kepada Allah.
" Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya ". (QS. Al Hajj: 37).
MENGHAPUS EGOISME
Sepanjang sejarah manusia selalu ada sekelompok orang yang mengklaim pandangan dan jalan hidup keagamaannya sebagai paling benar, sambil menuduh pandangan selain dirinya adalah salah total dan sesat. Di antara mereka ada yang melakukan gerakan ekstrim. Bukan hanya menyalahkan dan mensesatkan pandangan yang lain itu, tetapi juga memandangnya telah keluar dari agama. Murtad. Dan lebih dari itu mereka memfatwakan keabsahan hukuman gantung (mati) atas yang lain itu. Mereka bicara di atas panggung dengan suara meledak-ledak, penuh emosi kemarahan menyampaikan fatwa itu. Kesombongan dan egoisme terus diperlihatkan di depan publik.
Sungguh tak ada satupun agama dan sistem etika kemanusiaan di dunia ini yang membenarkan cara-cara seperti itu. Semua agama dan etika kemanusiaan hadir untuk membimbing manusia ke jalan hidup utama, menciptakan kehidupan sosial yang baik, persaudaraan, mewujudkan keadilan, kasih sayang dan cinta, bukan untuk menciptakan kerusakan, membodohi, permusuhan, membenci dan kekerasan. Kesombongan dan egoisme adalah dosa besar. Iblis diusir dari sorga karena dia "takabbur", sombong, angkuh dan mementingkan/membenarkan diri sendiri.
para bijak mengatakan :
هُنَاكَ طُرُقٌ عَدِيْدَةٌ تُوصِلُ اِلَى الله لكن هُنَاكَ طَرِيْقٌ مُسْتَقِيْمٌ وَاحِدٌ وَهُوَ الطَّرِيْقُ الَّذِى تَمحَى فِيْهِ الاَنَانِيَةُ وَالْاَثْرَةُ.
Ada banyak jalan mendekati Tuhan. Akan tetapi ada satu jalan yang lurus. Yaitu menghapus dan meniadakan egoisme dan kepentingan diri.
Hari raya Adha/Qurban adalah simbol perjuangan/jihad diri menghapuskan ego. Iblis diusir dari situasi kehidupan nyaman nan penuh kenikmatan sorgawi, bukan karena dia tak beriman kepada Tuhan, tetapi akibat karakter dan ekspresi egois, kesombongan dan keangkuhan diri, sambil merendahkan selain dirinya.
semoga bermanfaat dan dpt ambil hikmah