21/08/2013
Melemahnya kurs domestik di India dan Indonesia atas dolar AS belakangan ini membuat resah para pelaku pasar uang. Kalangan pengamat pun mewanti-wanti terulangnya kembali krisis moneter Asia 1997-98.
Malaysia dan Thailand dipandang rentan mengalami efek penularan setelah bursa saham dan kurs rupiah di Indonesia melemah dalam beberapa hari terakhir setelah kalangan pelaku pasar resah akan besarnya defisit neraca perdagangan Indonesia, yang disertai p**a dengan kondisi tak menentu di pasar global terkait kebijakan terbaru stimulus moneter di AS.
"Ada banyak kemiripan dengan situasi menjelang krisis 1997-98. Saat ini kita menyaksikan dua negara melemah, yaitu India dan Indonesia, dan kini kita bisa saja mulai memikirkan akan adanya negara ketiga dan keempat," kata Pradeep Mohinani, analis kredit Nomura di Hong Kong seperti dikutip kantor berita Reuters.
"Negara berikut yang akan melemah kemungkinan besar memiliki defisit fiskal yang tinggi, ekonominya melambat, dan tingginya kepemilikan asing dalam surat utang negara. Thailand dan Malaysia masuk dalam sebagian besar katagori itu," lanjut Mohinani.
Namun, kalangan ekonom juga menilai bahwa kedua negara tersebut, bersama dengan Filipina yang pertumbuhannya tengah pesat, di beberapa sisi terlindungi dari krisis global berkat masih berimbangnya perdagangan luar negeri mereka ketimbang yang dialami Indonesia dan India.
Belajar dari krisis moneter Asia pada 1997, beberapa negara di kawasan itu telah menumpuk cadangan devisa dan secara tajam mengurangi utang dalam kurs asing.
Namun kurs domestik mereka dalam beberapa bulan terakhir mengalami tekanan dan bisa memburuk bila mendapat tekanan lebih besar lagi dari para investor yang panik setelah mendapat sinyalemen bahwa Bank Sentral AS akan segera mengurangi atau menarik program stimulus moneter sebesar US$85 miliar per bulan. Muncul kabar kebijakan The Fed itu akan berlaku September mendatang. (umi)