01/12/2025
Pulau Papua merupakan salah satu rumah bagi beragam ular berbisa tinggi, beberapa di antaranya seperti dua ular Elapidae berikut ini, yang terkenal mematikan. Meski berbahaya bagi manusia, ular-ular ini memegang peran penting dalam keseimbangan ekosistem, terutama dalam mengendalikan populasi hewan-hewan kecil. Keberadaan mereka menjadi indikator penting bagi kesehatan lingkungan Pulau Papua yang masih alami.
ULAR HITAM PAPUA
Ular hitam Papua (𝘗𝘴𝘦𝘶𝘥𝘦𝘤𝘩𝘪𝘴 𝘱𝘢𝘱𝘶𝘢𝘯𝘶𝘴) dapat ditemukan di Pulau Papua (Indonesia & Papua Nugini) dan Australia (Pulau Boigu dan Saibai di Selat Torres utara). Dengan panjang sekitar 2 m, ular ini didominasi warna hitam dengan bagian bawah berwarna abu-abu. Bisa spesies ini adalah yang paling kuat di antara semua anggota genus 𝘗𝘴𝘦𝘶𝘥𝘦𝘤𝘩𝘪𝘴. Tidak seperti ular hitam lainnya, bisa ular ini sebagian besar bersifat neurotoksik, dengan kelemahan otot dan kelumpuhan biasanya terjadi dalam 2 hingga 21 jam setelah digigit. Hal ini dapat mengancam jiwa dan mungkin memerlukan intubasi. Bisa ular ini sedikit lebih kuat daripada kobra Sumatra (𝘕𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘶𝘮𝘢𝘵𝘳𝘢𝘯𝘢) dan tiga kali lebih lemah daripada taipan pesisir (𝘖𝘹𝘺𝘶𝘳𝘢𝘯𝘶𝘴 𝘴𝘤𝘶𝘵𝘦𝘭𝘭𝘢𝘵𝘶𝘴).
ULAR PUTIH PAPUA
Ular putih Papua (𝘔𝘪𝘤𝘳𝘰𝘱𝘦𝘤𝘩𝘪𝘴 𝘪𝘬𝘢𝘩𝘦𝘬𝘢) dapat ditemukan di Pulau Papua (Indonesia & Papua Nugini) dan pulau-pulau sekitarnya. Ular yang dapat tumbuh hingga 2,1 m ini dicirikan oleh warna putih pucat dan hitam, serta mata kecil. Bisa ular putih dikenal sangat kompleks, yang merupakan kombinasi dari neurotoksin, hemotoksin, sitotoksin, dan kardiotoksin, yang dapat melumpuhkan sistem saraf, merusak jaringan tubuh, kelumpuhan pernapasan, hingga henti jantung dalam waktu singkat. Karena bisanya yang luar biasa mematikan, antibisa spesifik untuk ular ini masih belum ada. Banyak ahli menganggap ular ini lebih berbahaya daripada ular-ular berbisa tinggi lainnya seperti kobra (𝘕𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘱𝘱.).
---
Sumber :
- Lalloo, David et al. (1994). "Neurotoxicity and haemostatic disturbances in patients envenomed by the Papuan black snake (Pseudechis papuanus)" (PDF). Toxicon. 32 (8): 927–36.
- Warrell, DA et al. (1996). "The emerging syndrome of envenoming by the New Guinea small-eyed snake Micropechis ikaheka". QJM. 89 (7). Oxford University Press: 523–530.