Pesona Suku Nusantara

Pesona Suku Nusantara Informasi Suku Di Nusantara
(4)

SUKU DAYAKSuku Dayak /Dajak atau Dyak adalah nama sebutan kepada penduduk penghuni pedalaman pulau Borneo/ Kalimantan ya...
04/02/2025

SUKU DAYAK

Suku Dayak /Dajak atau Dyak adalah nama sebutan kepada penduduk penghuni pedalaman pulau Borneo/ Kalimantan yang berada di seluruh Kalimantan seperti di Brunei, Malaysia (Sabah dan Sarawak) dan di Indonesia yang terdiri dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan.

Pada awalnya Istilah "Dayak" paling umum digunakan untuk menyebut orang-orang asli non-Muslim, non-Melayu yang tinggal di pulau Borneo/ Kalimantan.

Namun berdasarkan asal katanya kata Dayak berasal dari kata daya dari bahasa Kenyah, yang berarti hulu sungai atau pedalaman. Banyak yang menduga bahwa Dayak mungkin juga berasal dari kata aja, sebuah kata dari bahasa Melayu yang berarti asli atau pribumi.

Istilah Dayak mulai digunakan dalam perjanjian Sultan Banjar dengan Hindia Belanda tahun 1826, untuk menggantikan istilah Biaju Besar (daerah sungai Kahayan) dan Biaju Kecil (daerah sungai Kapuas Murung) yang masing-masing diganti menjadi Dayak Besar dan Dayak Kecil, selanjutnya oleh pihak kolonial Belanda hanya kedua daerah inilah yang kemudian secara administratif disebut Tanah Dayak.

Etnis Dayak Kalimantan di dalam Buku Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan terbagi menjadi 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan.

Enam rumpun besar masyarakt dayak yakni: Apokayan (Kenyah-Kayan-Bahau), Ot Danum-Ngaju, Iban, Murut, Klemantan dan Punan.

Rumpun Dayak Punan merupakan suku Dayak yang PALING TUA mendiami pulau Kalimantan, sementara rumpun Dayak yang lain merupakan rumpun hasil asimilasi antara Dayak punan dan kelompok lainnya.

Ciri khas masyarakat Dayak adalah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit, beliong (kampak Dayak), pandangan terhadap alam, mata pencaharian (sistem perladangan), dan seni tari.

Dalam tradisi lisan masyarakat Dayak Rumpun Manyan pernah membangun kerajaan yang disebut Kerajaan NANSARUNAI.

DAYAK adalah BORNEO...

Pesona Suku Nusantara

SUKU MENTAWAIDi provinsi Sumatera Barat terdapat satu suku yang memiliki banyak kekhasan. Suku tersebut adalah suku Ment...
04/02/2025

SUKU MENTAWAI

Di provinsi Sumatera Barat terdapat satu suku yang memiliki banyak kekhasan. Suku tersebut adalah suku Mentawai. Suku Mentawai terdapat di kepulauan Mentawai yang terdiri dari pulau-pulau yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Dalam beberapa pandangan tentang asal usul masyarakat Mentawai, ada yang mengatakan bahwa masyarakat Mentawai berada dalam garis orang polisenia. Menurut kepercayaan masyarakat Siberut, nenek moyang masyarakat Mentawai berasal dari satu suku/uma dari daerah Simatalu yang terletak di Pantai Barat Pulau Siberut yang kemudian menyebar ke seluruh pulau dan terpecah menjadi beberapa uma/suku.

Secara geografis, letak kepulauan Mentawai berhadapan dengan Samudera Hindia. Jarak kepulauan Mentawai dari Pantai Padang lebih kurang 100 kilometer. Secara turun temurun, suku Mentawai hidup sederhana di dalam sebuah Uma. Uma merupakan rumah yang terbuat dari kayu pohon. Arsitektur bangunan rumah Mentawai berbentuk panggung.

Masyarakat Mentawai banyak tinggal di kampung-kampung. Kampung yang terletak di pinggir sungai pedalaman meski ada yang berada di pinggir pantai. Tiap kampung terdiri dari tiga sampai lima wilayah yang disebut perumaan, yang berpusat pada satu rumah adat yang besar atau Uma. Suatu Uma merupakan bangunan yang besar dan megah. Panjang Uma mencapai hingga 25 meter dan lebarnya berkisar 10 meter. Kerangka Uma terbuat dari kayu bakau, lantainya dari batang nibung, dinding rumahnya dari kulit kayu, sedangkan atapnya dari daun sagu. Fungsi dari Uma sendiri adalah sebagai balai pertemuan umum untuk upacara dan pesta adat bagi anggota-anggotanya yang semuanya masih terikat hubungan kekerabatan menurut adat

Agama/kepercayaan masyarakat Mentawai adalah Arat Sabulungan. Arat berartiadat dan Sabulungan berarti bulu. Agama ini memiliki pandangan bahwa segala sesuatu yang ada, benda mati atau hidup memiliki roh yang terpisah dari jasad dan bebas berkeliaran di alam luas. Saat ini agama masyarakat Mentawai sudah bervariasi. Hal ini mengingat sudah banyak yang memeluk agama Islam atau Kristen. Dalam pemahaman masyarakat Mentawai bukan manusia saja yang memiliki jiwa. Hewan, tumbuh-tumbuhan, batu, air terjun sampai pelangi, dan juga kerangka suatu benda memiliki jiwa. Selain jiwa, ada berbagai macam ruh yang menempati seluruh alam semesta, seperti di laut, udara, dan hutan belantara.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Mentawai menerapkan prinsip kesederhanaan. Hal itu terlihat dari cara berpakaian tradisional masyarakat Mentawai. Para lelaki mengenakan Kabit yakni penutup bagian tubuh bawah yang hanya terbuat dari kulit kayu. Sementara bagian tubuh atas dibiarkan telanjang. Untuk para wanita, mereka menutup tubuh bagian bawah dengan memakai untaian pelepah daun pisang hingga berbentuk seperti rok. Sementara untuk tubuh bagian atas, mereka merajut daun rumbia hingga berbentuk seperti baju.

Dalam hukum adat masyarakat Mentawai terdapat pandangan mengenai hutan. Masyarakat Mentawai memiliki kepercayaan bahwa kawasan seperti hutan, sungai, gunung, perbukitan, hutan, laut, dan rawa memiliki penjaga yaitu mahluk halus isebut lakokaina. Mereka yakin lakokaina ini sangat berperan dalam mendatangkan, sekaligus menahan rezeki.

Dalam melakukan kegiatan beerburu, pembuatan sampan, merambah/membuka lahan untuk ladang atau membangun sebuah uma maka biasanya dilakukan secara bersama oleh seluruh anggota uma dan pembagian kerja dibagi atas jenis kelamin. Setiap keluarga dalam satu uma membawa makanan (ayam, sagu, dll) yang kemudian dikumpulkan dan dimakan bersama-sama oleh seluruh anggota uma setelah selesai melaksanakan kegiatan/upacara.

Masyarakat Mentawai bersifat patrinial dan kehidupan sosialnya dalam suku disebut "uma". Struktur sosial tradisional adalah kebersamaan, mereka tinggal di rumah besar yang disebut juga "uma" yang berada di tanah-tanah suku. Seluruh makanan, hasil hutan dan pekerjaan dibagi dalam satu uma. Kelompok-kelompok patrilinial ini terdiri dari keluarga-keluarga yang hidup di tempat-tempat yang sempit di sepanjang sungai-sungai besar. Walaupun telah terjadi hubungan perkawinan antara kelompok-kelompok uma yang tinggal di lembah sungai yang sama, akan tetapi kesatuan-kesatuan politik tidak pernah terbentuk karena peristiwa ini. Struktur sosial itu juga bersifat egalitarian, yaitu setiap anggota dewasa dalam uma mempunyai kedudukan yang sama kecuali "sikerei" (atau dukun) yang mempunyai hak lebih tinggi karena dapat menyembuhkan penyakit dan memimpin upacara keagamaan.


Masyarakat Mentawai memiliki dua mata pencaharian utama, yaitu berburu dan berladang.

ASAL USUL SUKU GORONTALOSuku Gorontalo yang dalam bahasa lokal adalah Suku Hulontalo atau Tawu Hulontalo (bahasa Melayu:...
04/02/2025

ASAL USUL SUKU GORONTALO

Suku Gorontalo yang dalam bahasa lokal adalah Suku Hulontalo atau Tawu Hulontalo (bahasa Melayu: Gorontalo; Jawi: ڬورونتالو) adalah suku bangsa terbesar di wilayah Utara Pulau Sulawesi hingga ke Kawasan Teluk Tomini dan sekitarnya.

Orang Gorontalo sendiri menyebut diri mereka sebagai Hulontalo. Istilah Hulontalo ini terkenal di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara, yang biasanya digunakan untuk menyebut wilayah Gorontalo atau orang Gorontalo.
Orang Gorontalo juga memiliki suatu sistem ikatan keluarga bernama Pohala'a. Sistem ini merupakan warisan dari kerajaan-kerajaan yang sebelumnya pernah berdiri di Gorontalo. Terdapat lima pohala'a di Gorontalo, yaitu Gorontalo, Limboto, Suwawa, Bualemo, dan Atinggola, di mana pohala'a Gorontalo merupakan pohala'a yang paling menonjol.

Asal usul suku Gorontalo, tidak diketahui secara pasti. Apabila dilihat dari struktur fisik orang Gorontalo, suku Gorontalo termasuk ke dalam ras mongoloid, hanya saja mungkin sejak beberapa abad yang lalu telah terjadi percampuran ras dengan bangsa-bangsa lain. Sehingga suku Gorontalo saat ini memiliki postur fisik yang beragam. Warna kulit mulai dari kuning hingga ke coklat gelap. Rambut juga bervariasi, dari rambut lurus, ikal dan keriting. Terdapat dua teori mengenai migrasi penduduk di Asia Tenggara, teori pertama menyebutkan bahwa penduduk Asia Tenggara awalnya berasal dari timur, lalu mendiami Sulawesi. Sementara teori kedua menjelaskan migrasi manusia yang berasal dari Taiwan, menuju Filipina, dan sampai di Sulawesi.

Suku Gorontalo memiliki legenda yang menceritakan bahwa leluhur mereka adalah keturunan dari Hulontalangi, atau orang yang turun dari langit dan awalnya berdiam di Gunung Tilongkabila, Kab. Bone Bolango. Nama Hulontalangi lalu berubah menjadi Hulontalo dan Gorontalo.

Wilayah Gorontalo diyakini sudah dihuni manusia di masa prasejarah. Situs Oluhuta yang berada di Kab. Bone Bolango merupakan situs arkeologi yang memberikan informasi mengenai makam-makam masyarakat terdahulu yang diperkirakan hidup sekitar 2000-4000 tahun yang lalu.

Wilayah Gorontalo diperkirakan terbentuk 400 tahun yang lalu. Gorontalo merupakan salah-satu tempat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur selain Ternate dan Bone. Islam diperkirakan masuk ke Gorontalo pada tahun 1525, di masa pemerintahan Raja Amai. Seiring dengan masuknya Islam, Gorontalo berkembang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan di utara Sulawesi. Kota Kerajaan Gorontalo awalnya bermula di Desa Hulawa di tepi Sungai Bolango. Sebelum kedatangan bangsa Eropa, kerajaan-kerajaan di Gorontalo sudah menganut sistem ikatan keluarga yaitu pohala'a yang masih ditemukan saat ini.

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, kerajaan-kerajaan Gorontalo berada dibawah pengaruh Kesultanan Ternate. Sejak tahun 1673, Gorontalo masuk dalam wilayah administrasi VOC, ditandai dengan pembentukan Kab. Gorontalo sebagai hasil dari perjanjian Gubernur Ternate Robertus Patbrugge dan Raja Gorontalo.

Di masa Hindia Belanda, orang-orang Gorontalo mulai melakukan emigrasi keluar wilayah Gorontalo tepatnya sejak abad ke-18 M, di mana orang-orang Gorontalo berpindah ke wilayah seperti Ternate, Ambon, Buol, Banggai, dan Minahasa dikarenakan orang-orang ini ingin menghindari sistem kerja paksa yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda di Gorontalo saat itu.

Suku Gorontalo berbicara dalam Bahasa Gorontalo. Selain bahasa Gorontalo, terdapat juga beberapa bahasa lain yang mirip, yang dianggap oleh para ahli bahasa sebagai dialek bahasa Gorontalo yaitu bahasa Suwawa, Atinggola, Limboto, Kwandang, Tilamuta, dan Sumawata. Bahasa Gorontalo menjadi bahasa yang paling digunakan dikarenakan pengaruh dari Kerajaan Gorontalo yang pernah berdiri di wilayah tersebut. Dialek Atinggola digunakan oleh masyarakat Atinggola yang berada di pesisir utara Gorontalo.

Bahasa Gorontalo sendiri sekarang banyak mengalami asimilasi dengan bahasa Manado (Melayu Manado) yang juga banyak diucapkan oleh masyarakat Gorontalo. Dilihat dari sisi linguistik, bahasa Gorontalo memiliki keterkaitan bahasa dengan bahasa-bahasa di Sulawesi Utara dan Filipina. Bahasa Gorontalo bersama dengan Bahasa Mongondow masuk dalam Rumpun bahasa Gorontalo-Mongondow, yang merupakan bagian dari Rumpun bahasa Filipina. Bahasa Gorontalo memiliki kedekatan linguistik dengan bahasa-bahasa Filipina khususnya Bahasa Tagalog, Cebú, Hiligaynon, Bikol, dan Waray-waray.

Masyarakat suku Gorontalo mayoritas adalah pemeluk agama Islam yang taat. Agama Islam sangat kuat diyakini oleh masyarakat suku Gorontalo ini. Beberapa tradisi adat suku Gorontalo terlihat banyak mengandung unsur Islami. Hanya sebagian kecil saja dari suku Gorontalo yang memeluk agama lain di luar agama Islam, seperti Kristen Protestan.

Pada masyarakat suku Gorontalo, adat dipandang sebagai suatu kehormatan (adab), norma, bahkan pedoman dalam pelaksanaan pemerintahan. Hal ini dinisbatkan dalam suatu ungkapan "Adat Bersendi Sara" dan "Sara Bersendi Kitabullah". Arti dari ungkapan ini adalah bahwa adat dilaksanakan berdasarkan sara (aturan), sedangkan aturan ini harus berdasarkan Kitab Suci Al-Qur'an. Dengan demikian dapat dipahami bahwa sendi-sendi kehidupan masyarakat Gorontalo adalah penuh dengan nilai-nilai agamais dan tatanan nilai-nilai yang luhur.

Jika ada kesalahan pada pembahasan ini, mohon berikan kritikan ke saya, akan saya perbaiki 🙏

Suku Alas adalah salah satu suku bangsa yang tinggal di Provinsi Aceh, Indonesia, khususnya di Kabupaten Aceh Tenggara, ...
04/02/2025

Suku Alas adalah salah satu suku bangsa yang tinggal di Provinsi Aceh, Indonesia, khususnya di Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Gayo Lues, dan sekitarnya. Berikut sejarah singkat Suku Alas:

*Masa Pra-Kolonial (Abad ke-13 - 1873)*

1. Suku Alas merupakan keturunan dari Kerajaan Alas yang didirikan pada abad ke-13.
2. Kerajaan Alas memiliki hubungan diplomatik dengan Kerajaan Pahang dan Kerajaan Melayu.
3. Pada abad ke-16, Suku Alas menjadi bagian dari Kesultanan Aceh.

*Masa Kolonial Belanda (1873-1942)*

1. Pada 1873, Belanda menaklukkan wilayah Suku Alas dan menjadikannya bagian dari Hindia Belanda.
2. Pada 1884, Belanda membentuk Afdeling Alas yang dipimpin oleh seorang controleur.
3. Pada 1938, Afdeling Alas digabungkan dengan Residen Aceh.

*Masa Kemerdekaan Indonesia (1945-sekarang)*

1. Pada 1945, Indonesia merdeka, dan Suku Alas menjadi bagian dari Provinsi Aceh.
2. Pada 1956, Kabupaten Aceh Tenggara dibentuk dengan Kutacane sebagai ibukota.
3. Pada 1970-an, Suku Alas mengalami perkembangan ekonomi dan infrastruktur.
4. Pada 2004, Suku Alas terkena dampak Tsunami Aceh.

*Kebudayaan dan Tradisi*

1. Bahasa Alas (bahasa lokal).
2. Adat istiadat seperti Upacara Adat Pesta Kematian.
3. Musik tradisional seperti Gendang Alas.
4. Tarian tradisional seperti Tari Guel.
5. Kerajinan tangan seperti anyaman bambu dan ukiran kayu.

*Makanan Khas*

1. Nasi Gurih.
2. Sate Alas.
3. Gulai Ikan.
4. Kue Lapek.
5. Kopi Alas.
6. Ayam labakh
7. Buah khumkhum
8. Sayur penget

*Referensi*

1. Sejarah Suku Alas (Pusat Sejarah dan Budaya Aceh, 2012).
2. Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).
3. Sejarah Kabupaten Aceh Tenggara (Kabupaten Aceh Tenggara, 2013).

Sejarah Suku BatakAsal-usul Suku Batak umumnya diketahui dari nenek moyang dari Asia Selatan yang bermukim di pulau Suma...
04/02/2025

Sejarah Suku Batak

Asal-usul Suku Batak umumnya diketahui dari nenek moyang dari Asia Selatan yang bermukim di pulau Sumatera. Suku Batak juga diketahui merupakan penutur bahasa Austronesia.

Mengutip dari buku suku-suku bangsa di Sumatera karya Giyanto, nenek moyang dari Suku Batak merupakan kelompok Proto Melayu atau yang biasa disebut juga sebagai Melayu Tua.

Pada mulanya kelompok Proto Melayu berasal dari Asia Selatan. Kemudian, mereka bermigrasi ke Indonesia melalui Pulau Sumatera lewat Semenanjung Malaya. Setelah sampai di Pulau Sumatera, kelompok tersebut menetap di sekitar Danau Toba.

Kemudian, kelompok tersebut membuat permukiman di Sianjur mula-mula. Seiring berjalannya waktu, permukiman ini berkembang dan menyebar ke wilayah di sekitarnya.

Berbicara tentang asal-usul dan sejarah Suku Batak memang terkadang menimbulkan kerancuan karena terdapat banyak versi. Hal ini diduga karena minimnya catatan sejarah dan literatur yang ditemukan, sehingga asal-usul dari suku ini belum dapat dipastikan sepenuhnya.

Hasil penelitian The Waitt Family Foundation menunjukkan bahwa asal usul nenek moyang Batak itu berasal dari Afrika. Kurang lebih 50.000-60.000 tahun yang lalu, terjadi musim panas kering di Afrika.

Mereka pun pindah ke bagian Utara Afrika yang lebih sejuk dan lembap, kemudian meninggalkan Afrika untuk mencari wilayah yang sejuk dan hijau.

Selanjutnya, sekitar 10.000 tahun kemudian, mereka pergi ke arah timur ke pegunungan di Asia Tengah, seperti Hindu kush, Tianshan dan Himalaya yang terkenal dengan nama Tajikistan.

Mereka pun terpecah dalam tiga kelompok. Kelompok pertama ke Tiongkok, kelompok kedua berangkat ke India, dan kelompok ketiga ke Asia Tenggara.

Kelompok ketiga ini menetap di India belakang tepatnya di Kamboja, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Laos. Kelompok ketiga ini pun tidak lama menetap karena kediaman mereka diserbu suku Mongol.

Mereka pun melewati lautan menuju daerah Selatan yang lebih aman dan terbagi ke beberapa wilayah, di antaranya Myanmar, Filipina, Taiwan, dan Indonesia, tepatnya di Sulawesi dan Sumatera.

Dapat disimpulkan, berdasarkan penelitian the Waitt family foundation, diduga bahwa leluhur suku Karen di Myanmar memiliki DNA sama dengan leluhur suku Batak karena DNA kedua suku tersebut, setelah diteliti, menghasilkan DNA hapoglam 0 M175 yang sama dengan DNA suku Afrika yang pindah ke India belakang.

Copy Read,
Sugeng Riadi

Pesona Suku Nusantara


Address

Jln. Suku Nusantara
Jakarta
17081945

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pesona Suku Nusantara posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category