22/01/2022
image
Mengenal FX Soedanto, Dokter Seribu Rupiah
Dikenal dokter seribu rupiah sebab ia hanya mengenakan biaya Rp 1.000 bagi setiap pasien yang berobat
By Fatimatuz Zahra 16 Januari 2022
FX Soedanto Sedang Melayani Pasien
AKURAT.CO - Fransiskus Xaverius Soedanto, lahir di Kebumen pada tahun 1948, usianya 74 tahun, merupakan seorang dokter di Abepura, Papua. Sang dokter menjadi terkenal karena melayani pasiennya hanya dengan tarif seribu rupiah. Ia bahkan sering menerima pasien yang hanya memberikan ucapan terima kasih sebagai balasan.
Dokter F X Soedanto merupakan anak bungsu dari enam bersaudara yang lahir di Kebumen, Jawa Tengah. Ayahnya Umar adalah kontraktor dalam pemerintahan kolonial Belanda, dan Ibunya Mursila berprofesi sebagai perawat.
Dokter Seribu Rupiah merupakan julukan untuk dokter F.X Soedanto, sebab ia hanya mengenakan biaya Rp 1.000 bagi setiap pasien yang berobat di kliniknya di Papua.
Ketika ditanya mengenai alasannya menjadi Dokter Seribu Rupiah, dia mengatakan tak ingin melihat siapapun tidak bisa berobat ke dokter, hanya karena tidak memiliki uang. Soedanto tulus ingin membantu orang yang kurang beruntung.
Soedanto pertama belajar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Gadjah Mada, tetapi ditinggalkan setelah satu tahun untuk mengikuti saran ibunya, sebagai gantinya ia mendaftar di Fakultas Kedokteran. “Saya mengambil tes lain di School of Medicine. Mungkin ibu saya ingin salah satu dari anaknya menjadi seorang dokter, untuk mengikuti jejaknya sebagai perawat,” kata Soedanto.
Lulus pada tahun 1975, ia diwajibkan peraturan Pemerintah melakukan pelayanan wajib di daerah pedesaan
Setelah lulus, Kementerian Kesehatan memintanya untuk memilih provinsi di mana ia ingin ditugaskan. Soedanto muda memilih Irian Jaya, yang sekarang disebut Papua.
"Saya memilih Irian Jaya karena saya menyukainya. Selain itu, pada waktu itu, jika kita memilih provinsi lain seperti Sulawesi, Jawa atau Sumatra, kami harus membayar semacam suap kepada pejabat kementerian. Saya tidak punya uang, sehingga saya memilih Papua, yang tidak mengharuskan saya untuk membayar suap," kata FX Soedanto yang diceritakan oleh pemilik akun twitter pada Februari 2021 lalu.
Di Papua, Soedanto pertama kali ditugaskan di suku Asmat, sebelum dipindahkan ke Jayapura di mana ia bertugas di rumah sakit jiwa sampai ia pensiun beberapa tahun lalu. Selama karirnya di Departemen Kesehatan, Soedanto menerima penghargaan untuk penggunaan obat generik terbanyak.
"Mereka hanya membayar Rp 1.000 untuk biaya dokter. Bagaimana kita bisa memberi mereka resep untuk obat yang mahal? Mereka datang ke sini karena mereka memiliki uang yang terbatas jadi kami memberi mereka obat obatan dengan harga yang cocok untuk mereka," katanya.
Dalam satu hari, jumlah pasien tertinggi yang di tangani bisa mencapai 200 orang. Dia membuka praktek jam 8:00 - 14:00 setiap hari. Tapi bahkan sebelum jam 8.00 pagi, sudah terdapat kerumunan antrian pasien di serambi Farmasi Rahmat, klinik Soedanto.
Ketika ditanya berapa lama ia akan menjalankan prakteknya? Ia menjawab "Sampai saya tidak mampu melakukannya lagi."