20/08/2023
Bab 1
Hasil Testpack
"Mas, antarin Mia ke dokter kandungan ya? Atau ke puskesmas juga gak papa. Yang penting Mas yang antarin," ucapku, karena seminggu pertama ini aku mengalami mual-mual.
"Apaan sih Mia! Emangnya kamu udah positif hamil apa? Sok tau banget," gerutu suamiku, Ahmad balik nanya.
"Aku seminggu ini mual trus Mas, jadi aku beliin testpack. Hasilnya garis dua, kamu senang kan Mas?" sahutku girang, sambil memegang tangan Mas Ahmad.
"Biasa aja kali Mia, jangan manja gitu. Dokter kandungan bayarnya mahal, seenaknya aja!" gerutunya lagi, sambil menepis tanganku.
"Jadi istri itu jangan ngelunjak Mia, baru juga anak pertama. Kamu udah minta ini, itu!" tiba-tiba aja mertuaku nongol dari dapur sambil ngomel.
"Bukan gitu Bu, jaga-jaga aja karna baru pertama kali rasain. Boleh ya Bu?" pintaku, agar ibu mertuaku setuju mas Ahmad membawaku periksa.
"Kamu itu ya, ngelunjak amat. Udah tau suaminya kerja, pergi sana!" tukas mas Ahmad, sambil pergi berlalu dari hadapanku.
"Mas...?" keluhku hampir mengejarnya.
"Mia, kamu gak dengar apa Ahmad bilang apa!" potong ibu mertuaku, sambil menahanku agar tidak mengejar mas Ahmad.
"Tapi Bu, Mia bukannya manja. Inikan biasa Bu, anak pertama dibawain periksa ke dokter kandungan atau apa," lirihku, namun tak jua mengerti.
"Ini nih, menantu gak tau di untung. Suami sibuk, malah maksa. Pergi sana!" bentak ibu mertuaku.
"Iya Bu, aku sendiri aja," sahutku sambil menatap kepergian mas Ahmad.
"Coba dari tadi ngomongnya, bikin emosi aja!" omongan ibu mulai menguras air mata.
Kehamilan pertama yang aku nantikan selama empat bulan pernikahan dengan mas Ahmad, bukannya mendatangkan kebahagiaan. Justru aku dibilang manja yang berlebihan, apa aku terlihat manja?
Sejak menikah, mas Ahmad jauh berubah. Tak pernah lagi ada senyum ataupun rayuan manis. Yang ada hanya kekesalan, karena katanya kehadiranku membuatnya terkekang dan menghabiskan banyak uang. Padahal dialah yang meminta menikah denganku.
Aku adalah istri yang setelah menikah, tak pernah dihargai. Baik oleh suamiku mas Ahmad ataupun ibu mertuaku. Mas Ahmad dari bujangan sudah bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang kertas. Ia sebagai supervisor, dengan gaji yang cukup lumayan, untuk keluarga kecil seperti kami. Karena itu ibu mertuaku meminta agar kami serumah dengan beliau. Dan aku tidak pernah keberatan, karena ibu mertuaku sudah janda. Kebetulan saudara mas Ahmad yang lain sudah pada bekerja juga, dan sudah punya rumah sendiri. Dua di antaranya, belum memiliki keturunan. Padahal sudah bertahun-tahun menikah.
Sebulan berlalu, aku pun pergi lagi di bulan kedua kehamilan ku. Aku periksa di puskesmas, karena biaya yang mas Ahmad berikan hanya pas untuk ongkos angkot dan periksa di puskesmas.
"Bu Mia, kandungan Ibu baik-baik aja. Jangan banyak stress. Perbanyak makan buah dan sayuran, juga paksa makan ya Bu?" kata bidan puskesmas yang menangani kehamilan ku.
"Iya Bu bidan, memang semenjak bulan pertama sampe sekarang, aku kurang nafsu makan Bu. Kalau dipaksain jadi muntah," jawabku, sambil menerima buku posyandu.
"Itu biasa Bu, pokoknya tetap makan obatnya. Juga sayur dan buah ya? Paling tidak sekali dalam seminggu ya Bu?" sahutnya lagi, dengan senyum ramahnya.
"Iya Bu bidan. Makasih banyak, aku pamit pulang dulu ya Bu?" pamitku.
"Silahkan Bu, jangan lupa selalu berdoa. Dan hati-hati di jalan ya?" sahut bu bidan, sambil mengantarkan aku ke pintu ruangannya.
Dalam perjalanan pulang, aku sengaja membelikan buah untukku sekalian untuk di rumah. Kebetulan masih ada sisa-sisa uang belanja kalau mas Ahmad memberikan uang sekali-sekali.
Sesampainya di rumah, aku mendapati ibu mertuaku sedang menonton televisi di ruang tamu. Aku pun mengucapkan salam sekalian masuk, dengan sopan.
"Loh, banyak amat belanja buahnya. Coba lihat sini sama Ibu," selidik ibu mertuaku, sambil menyuruhku memberikan belanjaan.
"Cuma buah kok Bu, sama cemilan sedikit," ucapku, sambil memberikan plastik yang berisi belanjaan.
"Ini apa ini! Boros amat sih belanjanya, Ibu gak pernah seboros ini belanjanya Mia. Boros amat," celetuk ibu mertuaku, sambil melihat belanjaan ku.
"Tapi Bu, itu cuma sedikit. Demi kesehatan cucu Ibu juga," tuturku, sambil meremas-remas jemariku.
"Halah, jangan bawa-bawa cucuku demi keinginanmu Mia. Kamu itu pintar ambil hati, biar gak kena marah. Iya kan?" tukasnya lagi, sambil memberikan kembali plastik belanjaan ku.
Aku pun berlalu ke dalam kamarku. Ku rebahkan diriku ke atas kasur tempat tidur kami. Tak lama, ibu mertuaku datang lagi ke kamar.
"Mia, tadi berapa kamu bayar uang periksa kandungan kamu?" tanyanya, sambil membuka pintu kamar.
"Cuma tiga puluh ribu Bu dengan resepnya," jawabku jujur.
"Sini kembaliannya, tadi kan Ahmad kasih kamu seratus ribu. Ongkos kamu kan cuma sepuluh ribu pulang pergi, jadi sini kembaliannya," sambungnya datar, tanpa peduli keadaanku.
"Ini Bu, tiga puluh ribu lagi. Karna aku udah beliin buah tiga puluh ribu nya," sahutku, sambil memberikan sisa uang yang mas Ahmad berikan tadi pagi.
"Ih kamu! Kenapa sih pake beli buah segala, jadi sisa dikit nih. Kelewatan banget sih manjanya," gerutunya, sambil berlalu dari kamarku.
Sebenarnya, aku beli buahnya pakai uang yang aku punya. Tapi karena ibu mertuaku sering kali begitu, aku sengaja mengurangi dari uang mas Ahmad. Aku juga perlu pegang uang, buat jaga-jaga nantinya.
Begitulah kehidupan kami, sampai sekarang kehamilanku sudah menginjak usia delapan bulan. Rasanya tak sabar menanti kelahiran bayiku, beda dengan mas Ahmad yang cuek dan tak perhatian sama sekali.
"Mas, hamilku udah delapan bulan. Minta uang Mas, buat beliin popok sama keperluan anak kita nanti," pintaku dengan nada memelas.
"Nanti aja! Biar Ibu yang Mas suruh belikan. Kamu nanti boros pake uangnya, padahal bulan depan biaya lagi buat lahiran," sungutnya, seakan-akan aku adalah benalu yang selalu menghabiskan uangnya.
"Iya deh Mas, aku hanya ngingetin. Biar akunya juga semangat nunggu lahiran," ungkapku lagi.
Mas Ahmad hanya diam, tak menjawab apapun lagi. Seperti yang mas Ahmad bilang, ibu mertuaku pun datang dari berbelanja. Ada banyak popok dan yang lainnya untuk bayiku. Mertuaku terlihat senang karena akan memiliki cucu, hanya saja memang ibu tak menyukaiku.
Sampai pada bulan ke- sembilan, aku pun kontraksi. Dan ternyata ...
Udah up di KBM ya teman2, silakan di bacaπ
Baru 5 bab,
Judul : Aku, istri sekaligus menantu yang tidak di hargai.
Penulis : Yuni Rosa