15/04/2021
CARA BIJAK MEMILIH KPR
Memiliki rumah sendiri adalah dambaan setiap orang, termasuk Rudi, seorang karyawan berusia 25 tahun. Selama sepekan terakhir, Rudi aktif menelusuri situs jual beli rumah online alias melihat-lihat harga rumah di kota Karawang dari smartphone miliknya.
"Cari rumah itu kayak cari jodoh. Tidak bisa cepat dan butuh kesabaran. Kalau sudah ketemu yang pas, harganya mahal banget. Dapat harganya yang oke, eh lokasinya tidak sesuai,"
Diakuinya, harga rumah tapak yang berlokasi strategis di Karawang sudah tidak murah lagi. Namun, fakta ini tidak menyurutkan niatnya untuk memiliki rumah sendiri. Meski gajinya pas-pasan dan masih bujangan, pria kelahiran Jawa Tengah ini percaya, tinggal di rumah sendiri jauh lebih menyenangkan daripada kosan.
“Cita-cita saya punya rumah sendiri. Sudah 5 tahun saya kost dan harga sewa kos terus naik. Lebih baik saya cari rumah dan beli pakai KPR. Bagi saya, membayar cicilan KPR sendiri jauh lebih baik Karena rumah adalah aset saya, ”ujarnya.
Membeli rumah dengan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) adalah cara terbaik bagi seseorang dengan kemampuan keuangan pas-pasan atau yang tidak punya cukup uang untuk membeli rumah dengan uang tunai. Hanya saja, memilih KPR terbaik memang tidak mudah bagi semua generasi saat ini.
Menyoal KPR, Rudi mengaku masih awam dengan produk KPR. “Saya lihat banyak iklan KPR dari media sosial. Banyak promo yang menggiurkan seperti promo bunga murah. Tapi jujur saya masih ragu, benarkah cicilan bisa terus 'murah'? Katanya.
Sekilas, kisah Rudi di atas bisa saja sama dengan kisah hidup Anda. Memilih rumah dan cicilan terbaik membutuhkan strategi khusus agar keuangan tidak sekarat. Hindari hanya memilih hipotek agar Anda selamat dari "jebakan Batman" dari bunga hipotek, yang terlihat "rendah" tetapi sebenarnya "tinggi".
1. Hindari Jebakan Bunga Rendah
Ada banyak penawaran KPR dengan bunga rendah, tetapi cicilan belum tentu murah
Ada banyak penawaran hipotek berbunga rendah tetapi cicilan hipotek tidak selalu murah
Pahami bunga hipotek. Suku bunga KPR ada dua jenis yaitu fixed dan floating. Bedanya, bunga tetap adalah suku bunga yang nilainya dipatok pada tingkat tertentu selama periode kredit berjalan. Sedangkan bunga mengambang merupakan bunga yang nilainya dapat bervariasi sesuai dengan ketentuan suku bunga acuan Bank Indonesia.
Anda perlu berhati-hati dengan maraknya penawaran hipotek berbunga rendah yang murah. Seringkali konsumen tidak menyadari jebakan bunga kredit, seperti promo bunga yang terlihat "rendah" tetapi sebenarnya "lebih tinggi" setelah dihitung secara keseluruhan.
KPR dengan suku bunga tetap rendah tapi jangka pendek, cicilan KPR tidak dijamin akan lebih murah. Misalnya, KPR bank X menawarkan promo bunga rendah tetap 6% selama 2 tahun cicilan pertama. Kemudian, di tahun ketiga, Anda diharuskan membayar cicilan KPR dengan kurs mengambang yang berlaku. Bisa dipastikan angsurannya lebih tinggi dari 2 tahun sebelumnya, dan jika dihitung secara menyeluruh, Anda akhirnya merugi.
2. Mengukur Kemampuan Keuangan, Melakukan Simulasi Angsuran
Lakukan simulasi penghitungan angsuran KPR
Mengukur kemampuan pengembalian KPR agar keuangan tetap sehat
Bagi Anda yang ingin membeli rumah, perlu diingat bahwa jumlah cicilan KPR harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan Anda. Cara mengukurnya adalah dengan melakukan simulasi angsuran KPR terlebih dahulu sebelum 'kontrak' terjadi atau menyetujui pinjaman KPR. Dari sini Anda bisa mengecek kemampuan finansial Anda seperti biaya cicilan KPR per bulan, tambahan biaya KPR, denda atau keterlambatan pembayaran, dan lain sebagainya.
Saat mengecek simulasi penghitungan angsuran KPR, usahakan jumlah cicilan tidak lebih dari 30% dari total pendapatan. Agar lebih menguntungkan, pilih KPR yang menawarkan fitur gratis.
3. Periksa Kredibilitas Pengembang / Pengembang
Pilih pengembang mitra bank
Poin ketiga yang penting untuk diperhatikan adalah mengecek kredibilitas developer atau developer agar tidak tertipu. Caranya sederhana, mengecek kredibilitas developer bisa dilihat dari track record properti di tahun-tahun sebelumnya, seperti sudah berapa lama developer berkecimpung di dunia properti dan sudah berapa proyek yang berhasil dijalankan.