04/01/2026
Ijin duduk di sini, Pak... di dekat tanahmu yang masih basah, di bawah langit Kemp4s yang sore itu tamp4k begitu tenang. Sy bers3dih melihat nis4nmu yang bertuliskan namamu: H. Edi Zulhairi bin H. Suip.
Aku m4sih bisa meras4kan hang4tnya telapak tanganmu saat aku menyalamimu di hari peL4ntikan itu. B4u parfum yang k4u pakai saat menerima SK P3K itu masih tertinggal jelas di kain kerudungku, berc4mpur dengan aroma k4mb0ja yang kini berguguran di sekelilingku.
Terny4ta m4ut begitu menghormatimu. Seolah MaL4ikat Izr4il berdiri diam di sudut ruang peL4ntikan pagi itu, melipat sayapnya dengan tenang, dan berbisik pada t4kdir: "J4ngan jemput dia sekarang. Biarkan hamba yang sabar ini menggenggam mimpinya sejenak. Biarkan dia melihat air m4t4 bahagia istrinya untuk ter4khir kali."
BeL4san tahun Bapak menanti. Ribuan malam di h4bisk4n dalam sujud, meminta pintu rezeki ini terbuka. Dan saat Tuhan akhirnya mengabulkannya, Ia hanya meminjamkan nafas itu satu hari lagi. Satu hari untukmu menjadi pemenang. Satu hari untukmu melihatku tersenyum bangga.
T!nt4 di SK-mu bahkan belum kering benar, Masih ada wangi kertas baru di atas meja rumah Bapak, tapi di sini, di depan mataku, hanya ada gundukan t4n3h. Engkau memb4y4r lun4s janji setiamu pada pekerjaan dan keluargamu tepat di garis finish yang paling indah. Tuhan memang sangat menyayangimu; Dia memanggilmu bukan saat kau lelah berjuang, tapi saat kau sedang berada di puncak kemuliaanmu.
Gelar barumu itu kini kau bawa menghadap Sang Pencipta sebagai saksi bahwa kau tak pernah menyerah hingga nafas ter4khir. Istirahatlah dengan tenang di sana, Pak,,,Di tempat di mana tak akan ada lagi perpisahan, tak ada lagi air m4t4, dan hanya ada bahagia yang abadi.