31/03/2022
Beberapa hari ini saya s**a menonton video eksplorasi rumah-rumah tua. Sang pengeksplore berupaya menyusuri setiap sudut-sudut rumah untuk memperlihatkan berbagai peninggalan dari tuan rumah.
Hal sedihnya ialah ada banyak rumah yang sudah ditinggalkan itu sebelumnya memiliki catatan kehidupan yang baik. Ada anak-anak tumbuh dan berkembang, ada rumah-rumah yang pernah disewakan menjadi kantor, ada rumah milik orang kaya dan begitu luasnya.
Ada ada rumah milik orang tua, di mana anak anaknya sudah mandiri dan ketika orang tua meninggal rumah itu dibiarkan kosong.
Ada juga rumah yang berupaya mengoleksi berbagai barang mewah, lalu dalam perjalanan waktu tanpa pewaris dan akhirnya dibiarkan terbengkalai.
Rata-rata tanggapan di kolom komentar terhadap video dokumenter ini ialah menyayangkan rumah yang mewah dibiarkan mubazir. Ada baiknya dijual lalu hasilnya dibagikan ke orang yang membutuhkan.
Saya sendiri berpendapat bahwa ternyata kehidupan itu begitu rapuh. Apa yang kita berupaya raih kumpulkan dan pertahankan pada satu titik sirna begitu saja.
Lalu untuk apa kita mengumpulkan begitu banyak kalau tidak bisa dinikmati selamanya. Yang tertinggal hanyalah kebahagiaan dan kebanggaan semu.
Fenomena ini akan berujung pada pertanyaan: untuk apa kita hidup?
Untuk apa kita memiliki banyak harta? Sampai batas mana kita bisa menikmati kekayaan kita? Berapa lama kita bisa menikmati hidup? Apa yang kita cari dalam hidup ini?
Semuanya adalah pertanyaan yang sangat berat untuk bisa dijawab dengan mudah. Selalu memiliki pelangi di antara sekian hujan badai yang mungkin menerpa.
Nikmati dan syukuri.
milikilah masa depan yang penuh harapan