Lyy store

Lyy store MEMPOSTING
KONTEN | EDUKASI
KONTEN | RELL RANDOM
KONTEN | KREATIF DAN MODIFIKASI
SEMOGA BERMANFAAT DAN BERGUNA BAGI YANG MELIHAT DAN MEN SUPORTNYA.

Mari saling ikuti dan interaksi


https://www.youtube.com/

04/01/2026

5 Januari 2026 #2026

03/01/2026

πŸŒ™ Malam mengajarkan kita bahwa tidak semua hal harus selesai hari ini. Istirahat juga bagian dari usaha.

✨ Jika hari ini terasa berat, biarkan malam memelukmu dengan diam dan harapan.

🌌 Tenanglah, apa yang kamu perjuangkan pelan-pelan akan menemukan jalannya.

😌 Tidak apa-apa lelah. Yang penting kamu tidak menyerah.

rayzi__________

03/01/2026

β€œHijrah yang paling berat adalah melawan diri sendiri, namun di sanalah letak kemuliaan.”

-rayzi________







03/01/2026

β€œHijrah yang paling berat adalah melawan diri sendiri, namun di sanalah letak kemuliaan.”

-rayzi______





03/01/2026

β€œJika hari ini masih jatuh pada dosa yang sama, jangan putus asa. Hijrah adalah tentang bangkit berkali-kali.”

-rayzi______




03/01/2026

Hijrah itu proses p**ang.
Kadang jatuh, kadang lelah,
tapi hati terus mengarah kepada-Nya.
Jika hari ini belum sempurna,
cukup pastikan arahmu sudah benar.

03/01/2026

Hijrah bukan tentang terlihat paling saleh,
melainkan tentang berani memperbaiki diri
meski perlahan dan tertatih.
Bukan siapa yang paling cepat,
tetapi siapa yang paling istiqamah
dalam kembali kepada Allah.

ini apa yah
03/01/2026

ini apa yah

03/01/2026

Konsep video singkat (durasi ~20–25 detik)
Mood: tenang, reflektif, hangat (tone warna natural/earthy).
Musik: instrumental piano lembut atau gitar akustik (tempo slow).
Struktur: 0.00–0.03 β€” Fade in dari hitam β†’ tampilkan bagian atas foto (atap & tiang) dengan zoom-in pelan.
0.03–0.10 β€” Reveal teks baris pertama ("Didiklah matamu...") muncul dengan animasi fade-up (per baris).
0.10–0.17 β€” Tampilkan baris kedua & sisa teks (animasi slide/typing).
0.17–0.22 β€” Tampilkan ajakan singkat (caption pendek) dan logo/username akun di pojok.
0.22–0.25 β€” Fade out ke hitam, akhir dengan CTA singkat (eg. "follow untuk renungan lain").

31/12/2025

Malam di dukuh itu turun seperti air yang dicurahkan pelan dari langit. Tidak mengejutkan, tidak memaksa. Hanya suara jangkrik yang bekerja tanpa henti dan angin yang menyentuh dinding bambu dengan sabar. Lampu teplok menggantung rendah, cahayanya kuning dan renta, seolah ikut menua bersama waktu.

Kau tertidur di dipan bambu, tubuhmu kecil, rapuh, dan sepenuhnya percaya pada dunia. Napasmu teratur, naik turun seperti irama alam yang belum kau kenal namanya. Selimut tipis menutup dadamu, menyimpan sisa hangat siang hari. Di sampingmu, ibumu duduk bersila, punggungnya condong, matanya menatap wajahmu lama; seolah ia sedang belajar melepaskan.

Tangannya terkatup di dada, jemarinya kasar oleh kerja dan usia. Bibirnya bergerak pelan, hampir tak bersuara. Ia tidak menyusun doa dengan kata-kata indah. Ia hanya menyebut namamu, lalu memohon agar hidup kelak tidak terlalu keras. Agar luka tidak datang bertubi. Agar hatimu tidak cepat retak.

Api lampu teplok bergoyang. Bayangan ibu memanjang di dinding bambu, seperti sosok yang berjaga tanpa pedang. Ia tahu doa tidak selalu sanggup menawar nasib. Tapi duduk di sisimu malam itu adalah caranya melawan takut, caranya tetap merasa berguna sebagai seorang ibu.

Di balik zikir lirihnya, ada kecemasan tentang masa depanmu. Maka semuanya ia serahkan pada Tuhan, seperti orang desa menyerahkan benih pada tanah; tanpa janji, hanya berharap.

Kelak, ketika kau dewasa dan dunia menyakitimu, ketika hidup menampar tanpa aba-aba dan harapan terasa jauh, lalu kau tetap mampu bertahan dan menemukan jalan lain untuk melangkah, ketahuilah: itu bukan kebetulan. Di situlah doa ibumu bekerja; diam, sabar, dan setia; menopangmu dari belakang agar kau tidak runtuh sepenuhnya sebagai manusia.

31/12/2025

Ada satu kalimat Ali bin Abi Thalib yang seharusnya kita baca sambil menunduk: β€œJangan gunakan kefasihan bicaramu untuk berdebat pada ibumu yang telah mengajarimu berbicara.” Sebab sebelum lidah kita pandai menyusun alasan, ada seorang perempuan yang lebih dulu mengajari kita memanggil dunia dengan tangis.

Hari ini, banyak anak muda tak hanya berdebat dengan ibunya, tapi juga menghapusnya dari daftar penting hidup. Ibu diperlakukan seperti barang lama: masih ada, tapi dianggap mengganggu. Doanya tak lagi diminta, air matanya tak lagi dihitung, kehadirannya hanya dirindukan jika dibutuhkan.

Mereka menginginkan motor Aerox, lalu menendang pintu. Menginginkan iPhone, lalu menggebrak meja. Mereka memaki kemiskinan seolah itu dosa orang tuanya. Lidah mereka ringan berkata, β€œAku tidak pernah minta dilahirkan.” Kalimat itu keluar tanpa gemetar, tapi masuk ke hati ibu seperti pisau.

Ibunya menangis terisak. Tangis yang tidak meraung, tapi runtuh pelan. Ia duduk sendiri di sudut rumah, menutup mulut dengan ujung kain agar isaknya tak terdengar. Dadanya sesak. Matanya basah. Ia teringat hari-hari ketika ia menahan lapar demi segelas susu, menahan lelah demi satu hari hidup anaknya.

Padahal Nabi mengajarkan: ridho ibu adalah ridho Tuhan, dan murka ibu adalah murka Tuhan. Ini bukan sekadar nasihat, tapi hukum kehidupan. Saat ibu kecewa, doa-doa menjadi berat. Jalan terasa sempit. Hati kehilangan arah, meski harta bertambah.

Maka jangan merasa menang ketika ibumu diam. Diamnya bukan kalah, tapi letih. Sebab saat ibumu murka, sesungguhnya selesailah hidupmu. Kau tidak akan benar-benar selamat berada di dunia, dan tak p**a tenang menapaki akhirat. Pulanglah sebelum doanya berubah menjadi tangis.

31/12/2025

Address

Medan

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Lyy store posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category