31/12/2025
Malam di dukuh itu turun seperti air yang dicurahkan pelan dari langit. Tidak mengejutkan, tidak memaksa. Hanya suara jangkrik yang bekerja tanpa henti dan angin yang menyentuh dinding bambu dengan sabar. Lampu teplok menggantung rendah, cahayanya kuning dan renta, seolah ikut menua bersama waktu.
Kau tertidur di dipan bambu, tubuhmu kecil, rapuh, dan sepenuhnya percaya pada dunia. Napasmu teratur, naik turun seperti irama alam yang belum kau kenal namanya. Selimut tipis menutup dadamu, menyimpan sisa hangat siang hari. Di sampingmu, ibumu duduk bersila, punggungnya condong, matanya menatap wajahmu lama; seolah ia sedang belajar melepaskan.
Tangannya terkatup di dada, jemarinya kasar oleh kerja dan usia. Bibirnya bergerak pelan, hampir tak bersuara. Ia tidak menyusun doa dengan kata-kata indah. Ia hanya menyebut namamu, lalu memohon agar hidup kelak tidak terlalu keras. Agar luka tidak datang bertubi. Agar hatimu tidak cepat retak.
Api lampu teplok bergoyang. Bayangan ibu memanjang di dinding bambu, seperti sosok yang berjaga tanpa pedang. Ia tahu doa tidak selalu sanggup menawar nasib. Tapi duduk di sisimu malam itu adalah caranya melawan takut, caranya tetap merasa berguna sebagai seorang ibu.
Di balik zikir lirihnya, ada kecemasan tentang masa depanmu. Maka semuanya ia serahkan pada Tuhan, seperti orang desa menyerahkan benih pada tanah; tanpa janji, hanya berharap.
Kelak, ketika kau dewasa dan dunia menyakitimu, ketika hidup menampar tanpa aba-aba dan harapan terasa jauh, lalu kau tetap mampu bertahan dan menemukan jalan lain untuk melangkah, ketahuilah: itu bukan kebetulan. Di situlah doa ibumu bekerja; diam, sabar, dan setia; menopangmu dari belakang agar kau tidak runtuh sepenuhnya sebagai manusia.