14/03/2026
Mengapa Perselingkuhan Terjadi dalam Pernikahan: Analisis Psikolog dan Ulama
Perselingkuhan merupakan salah satu masalah paling kompleks dalam kehidupan rumah tangga. Tidak sedikit pernikahan yang retak bahkan berakhir karena ketidaksetiaan salah satu pasangan. Fenomena ini tidak hanya dipandang dari sisi moral, tetapi juga menjadi kajian serius dalam psikologi keluarga dan ajaran agama.
Para ahli psikologi dan ulama sepakat bahwa perselingkuhan jarang terjadi secara tiba-tiba. Biasanya ada faktor psikologis, emosional, sosial, dan spiritual yang menjadi penyebabnya.
Berikut penjelasan berdasarkan analisis para pakar dan pandangan agama.
1. Kurangnya Kedekatan Emosional dalam Pernikahan
Menurut pakar psikologi hubungan Dr. John Gottman, salah satu penyebab utama perselingkuhan adalah menurunnya koneksi emosional antara suami dan istri.
Dalam penelitiannya tentang stabilitas pernikahan, Gottman menjelaskan bahwa pasangan yang jarang berkomunikasi secara terbuka cenderung mengalami:
* perasaan kesepian dalam hubungan
* kurangnya perhatian dari pasangan
* munculnya kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi
Ketika kebutuhan emosional tersebut tidak terpenuhi di rumah, sebagian orang kemudian mencari perhatian dari orang lain di luar pernikahan.
2. Masalah Komunikasi dalam Rumah Tangga
Komunikasi merupakan fondasi penting dalam hubungan suami istri. Banyak kasus perselingkuhan sebenarnya berawal dari kesalahpahaman yang tidak pernah diselesaikan.
Beberapa bentuk komunikasi yang bermasalah antara lain:
* pasangan jarang berbicara secara mendalam
* sering terjadi pertengkaran tanpa solusi
* perasaan tidak dihargai oleh pasangan
Ketika konflik terus menumpuk tanpa penyelesaian, hubungan menjadi renggang dan membuka celah bagi orang ketiga.
3. Faktor Kesempatan dan Lingkungan Sosial
Perselingkuhan juga sering dipicu oleh kesempatan dan lingkungan pergaulan. Interaksi intens dengan lawan jenis di tempat kerja, media sosial, atau lingkungan tertentu dapat meningkatkan risiko munculnya hubungan yang tidak sehat.
Di era digital, hubungan emosional dapat dimulai dari:
* percakapan pribadi di media sosial
* komunikasi yang terlalu intens dengan teman kerja
* hubungan lama yang kembali terhubung melalui internet
Hal-hal yang awalnya terlihat biasa bisa berkembang menjadi hubungan yang melampaui batas.
4. Ketidakpuasan dalam Hubungan Intim
Sebagian ahli psikologi menyebut bahwa ketidakpuasan dalam hubungan fisik atau romantis juga dapat menjadi faktor pemicu perselingkuhan.
Namun para ahli menegaskan bahwa hal ini bukan pembenaran untuk berselingkuh. Ketidakpuasan dalam pernikahan seharusnya diselesaikan melalui komunikasi, konseling, atau usaha memperbaiki hubungan bersama.
Pandangan Ulama tentang Perselingkuhan
Dalam ajaran Islam, perselingkuhan atau hubungan di luar pernikahan termasuk perbuatan yang sangat dilarang karena dapat merusak kehormatan keluarga dan masyarakat.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra: 32)
Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini bukan hanya tentang zina secara fisik, tetapi juga mencakup segala hal yang mendekati perbuatan tersebut, seperti hubungan emosional yang tidak wajar dengan orang lain.
5. Lemahnya Nilai Spiritual dalam Rumah Tangga
Banyak ulama menilai bahwa salah satu penyebab utama perselingkuhan adalah melemahnya nilai keimanan dan moral dalam diri seseorang.
Ketika seseorang tidak lagi menjadikan agama sebagai pedoman hidup, maka:
* rasa takut kepada Tuhan berkurang
* komitmen terhadap pernikahan melemah
* godaan dari luar menjadi lebih mudah diikuti
Karena itu, dalam banyak ceramah keluarga, para ulama menekankan pentingnya **membangun rumah tangga yang berlandaskan iman dan akhlak.
Cara Mencegah Perselingkuhan dalam Pernikahan
Para ahli keluarga dan ulama sepakat bahwa perselingkuhan dapat dicegah jika pasangan berusaha menjaga kualitas hubungan.
Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain:
1. Menjaga komunikasi yang jujur
Pasangan harus terbuka tentang perasaan, kebutuhan, dan masalah yang dihadapi.
2. Meluangkan waktu berkualitas bersama
Aktivitas sederhana seperti makan bersama atau berbicara dari hati ke hati dapat memperkuat hubungan.
3. Menghargai pasangan
Ucapan terima kasih, perhatian kecil, dan penghargaan dapat mempererat ikatan emosional.
4. Menjaga batas pergaulan
Baik suami maupun istri harus menjaga interaksi dengan lawan jenis agar tidak melampaui batas.
5. Memperkuat nilai agama dalam keluarga
Ibadah bersama dan kehidupan spiritual yang baik dapat menjadi benteng moral dalam rumah tangga.
Kesimpulan:
Perselingkuhan dalam pernikahan biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, seperti masalah komunikasi, kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, lingkungan sosial, serta lemahnya nilai moral dan spiritual.
Baik psikologi modern maupun ajaran agama sepakat bahwa kunci menjaga pernikahan tetap kuat adalah komunikasi, komitmen, dan nilai moral yang kokoh.
Dengan memahami penyebabnya, pasangan suami istri dapat lebih bijak dalam menjaga hubungan agar tetap harmonis dan terhindar dari konflik yang merusak keluarga.