15/08/2022
Setelah pernah begitu patah, aku tidak tertarik lagi untuk
mencintai siapa pun. Mungkin karena luka lamaku belum sepenuhnya pulih atau mungkin karena aku masih terlalu penakut untuk memilih.
Di hidupku, banyak sekali yang datang menawarkan hati, tapi pintu yang dulu pernah ku buka masih tertutup serapat-rapatnya, tangan yang dulu pernah begitu lapang menerima masih menggenggam erat masa lalunya.
Hingga akhirnya kau datang menjanjikan tenang, menjanjikan sembuh yang paling aku butuh, menjanjikan harapan yang paling aku harap-harapkan, membuat aku percaya, bersamamu aku akan kembali menemukan bahagia.
Namun, sakit memang tidak hanya sekali, patah hati memang kadang berkali-kali, setelah se-semoga itu kau dalam doaku, setelah seyakin itu kau dalam aminku, tibatiba semesta berkata lain; Aku harus kembali robek oleh seseorang yang aku percaya mampu menjahit luka-lukaku, aku harus kembali patah oleh seseorang yang aku anggap mampu menumbuhkanku, dan aku harus kembali hancur oleh seseorang yang aku yakini mampu meng-utuhkanku.
Kau pergi tanpa permisi, kau berlari di saat aku ingin
berhenti.
Sekarang, aku merasa benar-benar mati rasa, aku merasa benar-benar buta memandang cinta, aku seperti tidak memiliki hati lagi, aku seperti enggan mengenal siapapun lagi. Sekarang, aku hanya jadi seseorang yang paling pasrah, terserah, entah bagaimana lagi semesta menuliskan kisah.
Tak ada lagi keinginan-keinginanku untuk bertemu dan
mengharapkan siapa pun itu.
Setelah patah hati keduaku, doaku hanya satu;
Semoga nanti yang hadir setelah kamu adalah takdir
untuk hidupku.
patahan.ranting
Dalam Buku; Seikhlas Awan Mencintai Hujan