17/04/2026
Ijazah Wirid “Huwal Habib” KH. Wahab Chasbullah
Selain menjadi seorang kyai yang harus mengurus banyak santri di pesantren dan organisasi NU, KH. Wahab Chasbullah juga merupakan tokoh nasional yang peduli kepada urusan bangsa dan negara. Kepiawaiannya dalam berorganisasi dan kedalaman ilmunya menjadikan beliau salah satu tokoh yang disegani, tak terkecuali oleh Presiden Ir. Soekarno. Banyak kisah yang menggambarkan hubungan baik antara Mbah Wahab dan Presiden Ir. Soekarno. Keduanya diyakini oleh banyak kalangan sebagai tokoh yang sama-sama mempunyai firasat dan keteguhan hati yang kuat.
Di mata santrinya, Mbah Wahab juga menjadi sosok inspiratif yang sangat aktif. Selain kepiawaian dalam berorganisasi, kedalaman ilmu, dan keterampilannya dalam bernegoisasi, beliau juga dikenal sebagai sosok yang “jadug” alias sakti mandra guna. Tentu hal ini bukan berkaitan dengan hal-hal yang menyimpang, melainkan keberkahan dari wirid yang istiqomah dibacanya. Wirid atau dzikir kepada Allah yang diamalkan secara konsisten itu, besar kemungkinan yang menimbulkan energi positif dan keberkahan pada kepribadiaan seseorang. Beberapa di antara amalan Mbah Wahab pernah diijazahkan kepada para santrinya.
Menurut KH. Moh. Djamaluddin Ahmad, salah satu ijazah wirid dari Mbah Wahab yang sering diamalkan oleh para santri adalah wirid yang disebut “Huwal Habib”, yakni berupa penggalan bait dari Qasidah Burdah yang berbunyi:
هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ # لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ
Dalam sejumlah pengajian yang tersebar di media sosial, Kyai Djamal pernah bercerita mengenai kenangan remajanya saat masih “nyantri” di Pesantren Tambak Beras, di bawah asuhan Mbah Wahab. Beliau mengatakan, bahwa dulu Mbah Wahab sering mengumpulkan para santri untuk membaca wirid “Huwal Habib” setiap sehabis shalat Maghrib. Hal ini dilakukan oleh Mbah Wahab setiap kali ada keperluan atau ide-ide besar dari Nahdlatul Ulama (NU) yang ingin disampaikan kepada Presiden Soekarno. Para santri diperintah untuk senantiasa membacanya sampai beliau datang dari Jakarta dan apa yang menjadi hajatnya tercapai.
Biasanya, ketika Mbah Wahab sudah datang dari Jakarta, maka para santri dikumpulkan kembali dan beliau menyampaikan bahwa bahwa usulannya kepada Presiden Soekarno diterima dengan baik.
Kyai Djamal menegaskan sebagaiman dikatakan oleh Mbah Wahab, bahwa wirid “Huwal Habib” tersebut sangat ampuh. Dalam arti dapat berguna untuk membantu tercapainya suatu hajat.
Karena itu, dalam pengakuannya, Kyai Djamal mengatakan bahwa beliau selalu membaca wirid “Huwal Habib” tersebut 1000 kali setiap ada hajat. Tapi beliau menjelaskan, bahwa sebenarnya yang diminta Mbah Wahab adalah mengamalkannya dengan membaca sebanyak 100 kali saja.
Keberkahan dari mengamalkan wirid tersebut telah dirasakan. Atas izin Allah, setiap ada hajat penting, dengan berkahnya amalan tersebut, maka selalu dikabulkan oleh Allah SWT. Sebagaimana dikatakan oleh Kyai Djamal, bahwa pesantren yang dibangunnya (Al-Muhibbin, Tambak Beras), adalah berkah dari mengamalkan wirid dari Mbah Wahab di atas.
“Saya membangun pesantren (Al-Muhibbin, Tambakberas) sebesar ini, sekaligus masjidnya itu hanya 3 tahun, begitu juga rumah dan masjid di Desa Sambong, setahun sudah berdiri. Di antaranya adalah karena (berkah) wirid Huwal Habib 1000 kali,” kata Kyai Djamal.
Setelah bercerita tentang berkahnya wirid “Huwal Habib”, Kyai Djamal lalu mengijazahkan cara mengamalkan sebagaimana yang didapatkannya dari KH. Abdul Wahab Chasbullah. Wirid ini dimulai dengan melaksanakan shalat sunnah Hajat, dilanjut dengan membaca tawassul yang harus dibaca lengkap, kemudian membaca Al-Fatihah sebanyak 11 kali, lalu membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas serta Ayat Kursi masing-masing 3 kali. Setelah itu membaca tiga bait Qasidah Burdah dan diakhiri dengan doa sesuai dengan maksud dan tujuan yang mengamalkan.
Untuk lebih jelasnya, berikut petunjuk lengkapnya:
1. Melaksanakan shalat sunnah Hajat
2. Membaca tawassul secara lengkap berikut ini:
إلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ الِهِ وَجَمِيْعِ أَزوَاجْهِ وَذُرِيَّتِهِ وَاَهْلِ بَيْتِهِ وَأَصْحَابِ
إلَى حَضْرَةِ جَمِيْعِ إِخْوَانِهِ مِنَ اْلأنْبِيآءِ وَالْمُـرْسَلِـْين أوْلِيَآءِ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْن وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينْ وَالْعُلَمآءِ الْعَامِلِـيْن والمُصَنِّفِينْ وَجَمِيْعِ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْن وَإلَى حَضْرَةِ جَمِيْعِ أوْلِيَآءِاللهِ تَعَالَى وَجَمِيْعِ الْمُسـْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمـَاتِ خُصُوْصًا إلَى سُلْطَنُ الأوْلِيَآء شَيْخِ عَبْدُالْقَادِرْ الْجَيْلاَنِ
وَإلَى حَضْرَةِ شَيْخِ مُحَمَّد اَلْبُوْصِيْرِى
وَإلَى حَضْرَةِ شَيْخِ عَبْدُ الْوَهَّابْ حَسْب ُالله
وَإلَى حَضْرَةِ شَيْخِ جَمَالُ الدِينْ أَحْمَدْ
وَإلَى حَضْرَةِ وَالِدَيَّ
لَهُمُ الفاتحة
3. Membaca Al-Fatihah 11 kali
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ. الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ. مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ، غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ
4. Membaca Al-Ikhlas 3 kali
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ. اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ. وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ
5. Membaca Al-Falaq 3 kali
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ. وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ. وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ. وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ
6. Membaca An-Nas 3 kali
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ. مَلِكِ النَّاسِۙ. اِلٰهِ النَّاسِۙ. مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِۖ، الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ. مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ
7. Membaca Ayat Kursi 3 kali
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
8. Setelah membaca seluruh surat ini baru dimulai membaca Qasidah Burdah berikut ini:
Membaca bait ini sebanyak 3 kali:
مَوْلَايَ صَلِّي وَسَلِّـمْ دَآئِــماً أَبَـدًا # عَلـــَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ
Kemudian membaca bait selanjutnya di bawah ini sebanyak 100 kali:
هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ # لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ
Ditutup dengan kembali membaca bait ini sebanyak 3 kali:
مَوْلَايَ صَلِّي وَسَلِّـمْ دَآئِــماً أَبَـدًا # عَلـــَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ
Kemudian membaca lagi bait ini sebanyak 1 kali:
هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ # لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ
Setelah membaca urutan wirid di atas, kemudian dilanjutkan dengan berdoa sesuai maksud dan tujuan. Insya Allah dengan keberkahan wirid ini, maka Allah akan mengabulkan segala hajat kita. Amin. []
Penulis: Hakim
Sumber: Laduni .id
Fanky Fadli
Hayus Lu
Fauzi Berek Songai