16/09/2026
Kisah 2 Pengemis Buta yang Mengharap Rezeki dari Allah dan Manusia.
Dikisahkan, ada seorang wanita kaya yang dikenal sangat pemurah. Namanya Ummu Ja'far. Kedermawanannya masyhur di kalangan masyarakat. Bahkan, dua pengemis buta pun mengetahui hal tersebut.
Setiap hari, dua pengemis buta itu menunggu Ummu Ja'far di pinggir jalan yang biasa dilaluinya.
Ketika menunggu sedekah, keduanya memiliki harapan dan doa yang berbeda.
Pengemis buta pertama berdoa:
“Ya Allah, anugerahkanlah rezeki kepadaku dari kemurahan-Mu.”
Sementara pengemis buta kedua berdoa:
“Ya Allah, anugerahkanlah rezeki kepadaku dari kemurahan Ummu Ja'far.”
Demikianlah doa yang mereka ucapkan, sebagaimana dikisahkan oleh As-Samarqandi dalam kitab Nailul Hatsits fi Hikayatil Hadits (Abu Hafs Umar bin Hasan An-Naisaburi As-Samarqandi, Nailul Hatsits fi Hikayatil Hadits, Beirut: Darul Kutub Al-'Alamiyah, 2001, hlm. 62).
Mengetahui hal tersebut, Ummu Ja'far kemudian memberikan sedekah kepada kedua pengemis itu dengan pemberian yang berbeda.
Kepada pengemis pertama yang mengharapkan rezeki dari Allah, Ummu Ja'far memberikan uang sebesar dua dinar.
Sementara kepada pengemis kedua yang mengharapkan rezeki dari kemurahan Ummu Ja'far, ia memberikan dua adonan roti dan seekor ayam bakar. Di dalam ayam bakar tersebut telah diselipkan uang sebesar sepuluh dinar.
Pengemis kedua merasa tidak mendapatkan uang secara langsung. Karena itu, ia menawarkan roti dan ayam bakarnya kepada pengemis pertama untuk ditukar dengan uang dua dinar yang baru diterimanya dari Ummu Ja'far.
“Berikanlah uang itu kepadaku, lalu ambillah roti dan ayam bakar ini untuk anak-anakmu,” ujar pengemis kedua.
Keduanya tidak mengetahui bahwa di dalam ayam bakar pemberian Ummu Ja'far tersebut terselip uang sepuluh dinar.
Singkat cerita, pengemis pertama pun menyetujui pertukaran tersebut. Transaksi itu kemudian berlangsung setiap hari dengan cara yang sama, selama sepuluh hari.
Setelah sepuluh hari berlalu, Ummu Ja'far kembali menemui pengemis kedua yang selama ini mengharapkan rezeki dari kemurahan wanita kaya tersebut.
“Apakah kamu puas dengan pemberian kami?” tanya Ummu Ja'far.
“Memangnya, apa yang engkau berikan kepadaku?” jawab pengemis itu dengan sebuah pertanyaan.
“Seratus dinar,” jawab Ummu Ja'far.
“Tidak mungkin. Setiap hari engkau memberiku adonan roti dan ayam bakar. Lalu, aku menjualnya kepada temanku dengan harga dua dinar,” jawab pengemis tersebut.
Ummu Ja'far pun terkejut. Ia kemudian menyadari bagaimana kemurahan Allah dapat datang kepada seorang hamba yang mengharapkan anugerah hanya dari-Nya.
“Begitulah. Dia mengharapkan kemurahan Allah. Maka Allah segera memberinya kehidupan yang serba berkecukupan, meskipun dia sendiri tidak memiliki niat atau rencana seperti itu,” ujar Ummu Ja'far.
Kisah tersebut kemudian menjadi pelajaran bahwa rezeki Allah dapat datang melalui jalan yang tidak disangka-sangka.
Barang siapa mengadukan kefakirannya kepada Allah dan berharap kepada-Nya, hendaknya ia tetap yakin bahwa Allah Maha Mengetahui kebutuhan setiap hamba-Nya.
Takaran rezeki setiap orang tidak akan tertukar. Apa yang telah Allah tetapkan akan sampai kepada seseorang pada waktunya. Ketika Allah menghendaki sesuatu, pasti terjadi. Dan ketika Allah tidak menghendakinya, sesuatu itu tidak akan terjadi.
Catatan: Kisah ini dinukil sebagai hikayat/riwayat dalam kitab yang disebutkan di atas. Karena itu, sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai hadis sahih Nabi ﷺ tanpa penelitian terhadap sumber dan sanadnya.