27/11/2023
Tata ruang Bandung Selatan mengalami perubahan signifikan dengan alih fungsi lahan dari pertanian ke permukiman dan bisnis properti. Kawasan produktif pertanian, seperti Pangalengan, beralih menjadi destinasi pariwisata. Wilayah lain seperti Baleendah, Bojongsoang, Ciparay, Arjasari, Katapang, Soreang, Majalaya, Solokan Jeruk, Cicalengka, dan Rancaekek juga mengalami perubahan serupa.
Direktur Pusat Sumber Daya Komunitas (PSDK) DAS Citarum, Ahmad Gunawan, mengingatkan bahwa perubahan ini mengancam ketersediaan air di masa depan, terutama di Pangalengan yang memiliki sumber air melimpah. Sementara itu, lonjakan kawasan permukiman di Bandung Selatan terjadi secara signifikan, menekan kawasan pertanian.
Data dari KLHS Tata Ruang dan RTRW Kabupaten Bandung menunjukkan peningkatan kawasan pemukiman dari 33.458,53 hektare pada RTRW 2016-2036 menjadi 42.201,87 hektare pada RTRW 2023-2043, dengan kenaikan 8.743,34 hektare. Kawasan pemukiman perkotaan, terutama properti, mencaplok sebagian besar lahan, menyebabkan pengurangan lahan pertanian sebesar 5.354,61 hektare.
Ahmad Gunawan juga menyoroti peran konglomerat properti, seperti Agung Podomoro Land, yang berkontribusi pada alih fungsi lahan. Sebagai contoh, Agung Podomoro Land menghabiskan hampir 100 hektare sawah untuk pembangunan perumahan modern di dekat IPAL PDAM Kota Bandung.