02/04/2018
Banyak orang bekerja banting tulang dengan alasan "demi keluarga". Tapi apakah setelah sampai di rumah lantas kita "ngurus keluarga?"
"Saya kan sudah bekerja, capek, kok masih harus ngurus anak lagi!" begitu ujar sang nafsu.
Kalau kita sudah sholat dzuhur, apakah gugur kewajiban sholat ashar?
Kalau kita sudah sholat 5 waktu selama setahun, apakah gugur kewajiban shaum Ramadhan?
Kalau kita sudah shaum Ramadhan tahun kemarin, gugur kewajiban berzakat?
Kalau kita sudah membayar zakat, gugur kewajiban mencari nafkah?
Kalau kita sudah mencari nafkah, gugur kewajiban mendidik anak?
Karena itu, apakah setelah melaksanakan satu kewajiban (bekerja mencari nafkah) otomatis selesai atau gugur kewajiban lainnya? Apakah mencari nafkah itu satu-satunya kewajiban?
Bagi saya, boleh tak setuju, lelah, letih, tidak boleh jadi alasan ketika sampai rumah lalu abai mengurusi keluarga dengan anak. Kenapa?
Karena Demi Allah!
Anak saya tak lama hidup dengan saya.
Demi Allah! Anak saya akan pergi dari rumah saya. Tugas saya hanya mempersiapkan mereka siap berpisah dengan saya. Berpisah untuk menjalani kehidupan, sebagai hamba Allah, sebagai suami/istri, sebagai calon orangtua, sebagai anggota masyarakat, sebagai individu tersendiri.
Demi Allah! Anak saya bukan milik saya, maka saya harus siap dan ikhlas ketika peristiwa itu datang, perpisahan dengan anak. Entah karena mereka merantau, berkelana, mencari ilmu, menjelajah kehidupan di penjuru bumi, atau mungkin kematian yang memisahkan.
Mumpung Allah berikan kesempatan anak-anak di rumah, tidak boleh kesempatan ini disia-siakan.
Maka, saya harus tarbiyah mereka, dan install fikroh mereka. Semua anak butuh software untuk menggerakan hardware mereka. Kalau saya tidak menginstallnya, akan ada pihak lain yang melakukannya.
Anak saya adalah mad'u saya, kader da'wah saya. Sudahkah kita jadi musyrifah, murobbi untuk anak-anak kita?