15/04/2015
Silakan ambil kesempatan KPR selagi bunga turun...
Permintaan Presiden Joko Widodo agar perbankan menurunkan suku bunga kredit bak gayung bersambut. Sebagian bank mulai menggunting bunga kredit pasca Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan alias BI rate pertengahan Februari lalu.
Dalam tempo dua pekan setelah BI menurunkan BI rate sebesar 25 basis points (bps) menjadi 7,5%, bank beramai-ramai memangkas suku bunga deposito. Berdasarkan pantauan Lembaga Penjamin Simpan-an (LPS) terhadap 58 bank yang menguasai 90% dana pihak ketiga (DPK) perbankan nasional, sebanyak 32 bank memangkas suku bunga deposito untuk nasabah istimewa. Penurunan bunga khusus (special rate) sebesar 25 bps–50 bps. Sementara, sebanyak 20 bank tercatat menurunkan bunga konter (counter rate) berkisar 25 bps.
Penurunan ataupun kenaikan bunga deposito sejatinya merupakan hal yang lazim. Doddy Arifianto, Kepala Subdivisi Risiko Perekonomian dan Sistem Perbankan LPS, mengatakan, jika melihat data harian, kenaikan ataupun penurunan bunga deposito sering terjadi. Namun, penurunan bunga deposito kali ini cukup di luar kelaziman. “Biasanya jumlahnya tidak banyak, mungkin ada 8 bank menaikkan sementara 10 bank menurunkan bunga deposito,” kata Doddy.
Pemangkasan BI rate tak cuma diikuti penurunan bunga deposito. Berbarengan dengan pemangkasan bunga simpanan, sebagian bank juga memangkas suku bunga kredit. Bank Rakyat Indonesia (BRI), contohnya, memangkas bunga kredit 25 bps untuk segmen kredit korporasi dan kredit ritel mulai awal Maret. Sementara Bank Central Asia (BCA) sejak akhir Februari memangkas bunga kredit untuk semua segmen sebesar 25 bps.
Budi Satria, Sekretaris Perusahaan BRI, mengatakan, imbauan Presiden Jokowi terkait penurunan bunga kredit memang menjadi salah satu pertimbangan BRI memangkas bunga kredit. Namun, yang menjadi pertimbangan utama adalah BI rate. Menurut Budi, BI rate merupakan komponen utama biaya dana (cost of fund). Jika BI rate turun, biaya dana juga menurun. Dengan begitu ada ruang untuk menurunkan suku bunga kredit.
Tentu, penurunan bunga deposito dan bunga kredit tak cuma semata merespon penurunan BI rate. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menilai, selain merespon penurunan BI rate, pemangkasan bunga deposito dan bunga kredit lantaran likuiditas di perbankan sudah semakin bagus. Sejak akhir tahun hingga awal tahun ini, likuiditas perbankan mulai longgar. Ini tampak dari penurunan rasio kredit terhadap DPK alias loan to deposit ratio (LDR). Per Juli 2014, LDR perbankan tercatat di level 92,19%. Sementara per Januari 2015 LDR perbankan turun
di level 88,48%.
Memang, belum semua bank rela memangkas bunga kredit. Bank Mandiri, misalnya, masih mencari waktu yang tepat untuk menurunkan bunga kredit. Rohan Hafas, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, mengatakan, Bank Mandiri berencana memangkas suku bunga kredit. Namun, kapan dan berapa besar pemangkasan bunga masih dalam kajian.
Begitu p**a, Direktur Utama Bank Mayora Irfan Oeji mengatakan bahwa Bank Mayora belum menurunkan suku bunga kredit. Biasanya, Bank Mayora menunggu dua bulan hingga tiga bulan setelah penurunan BI rate.
Tergantung dari BI rate
Nah, masyarakat tentu boleh bergembira jika kelak semua bank memangkas bunga kredit. Namun, apakah penurunan bunga kredit masih akan terus berlanjut atau hanya sekali ini ? Rudy Mulyono, Sekretaris Perusahaan Bank Mayapada, mengatakan, tren penurunan suku bunga kredit tergantung penurunan BI rate. Sebab, bagi perbankan, BI rate menjadi pertimbangan utama mematok suku bunga. Masalahnya, BI rate berpotensi naik lagi bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, benar-benar mengerek suku bunga acuan.
BI memang belum menunjukkan sinyal akan mengerek BI rate. Juda Agung, Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, mengatakan, jika suku bunga The Fed naik, BI akan tetap menjaga kebijakan moneter yang fokus pada stabilitas makro serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Apakah BI akan mengerek BI rate? “Saya tidak bisa mengatakan sekarang karena penilaian dilakukan setiap bulan,” ujar Juda.
Pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih memperkirakan, BI rate masih akan bertahan 7,5% hingga akhir kuartal II. Memang, ada ruang BI rate turun lagi 25 bps. Sebab, ada potensi deflasi pada Maret dan April. Namun, pemangkasan BI rate bisa dilakukan jika nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dalam kondisi stabil. Meski begitu, menurut Lana, jika The Fed mengerek bunga acuan pada akhir semester I, BI rate berpotensi naik hingga 7,75%–8%. “Ada kenaikan minimal 25 bps hingga akhir tahun,” ujar Lana.
Doddy memperkirakan, BI akan menahan suku bunga di 7,5% hingga tahun depan meski The Fed menaikkan bunga acuan. Selain likuiditas global yang masih besar, suku bunga riil alias selisih antara BI rate dengan laju inflasi masih terhitung tinggi. Selain itu, selisih antara BI rate dengan bunga US Treasury juga masih tinggi.
Meski begitu, Doddy menilai, bank sulit menurunkan lagi suku bunga dengan kondisi likuiditas saat ini. Jahja mengamini, likuiditas perbankan tidak akan cukup membiayai permintaan pinjaman. “Kecuali kalau tiba-tiba ekonomi lesu dan tidak ada yang mau mengajukan
kredit sehingga likuiditas banjir,” kata Jahja.
Jadi, silakan mempergunakan kesempatan penurunan bunga sebaik-baiknya.
Laporan Utama
Tabloid KONTAN No. 27-IX, 2015