Usman Hardi

Usman Hardi Agen Property Syariah

31/05/2021

LARANGAN MENDIRIKAN MASJID DI ATAS KUBURAN

Oleh :
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa tidak boleh membangun masjid di atas kuburan dan hal ini merupakan kesesatan dalam agama. Di samping itu, perbuatan ini merupakan jalan menuju syirik serta menyerupai perbuatan Ahlul Kitab. Perbuatan tersebut juga akan mendatangkan kemarahan dan laknat Allah Azza wa Jalla.

Masalah ini merupakan masalah paling besar yang telah menimpa ummat Islam. Dewasa ini telah banyak masjid-masjid yang dibangun di atas kuburan dan dibangun juga kubah-kubah di atasnya. Bahkan, tidak sedikit kuburan yang ditinggikan dan dibangun dengan hiasan yang ketinggiannya melebihi tinggi tubuh manusia serta dihias dengan hiasan-hiasan yang mewah, hal tersebut adalah perbuatan haram.

Sementara, orang-orang datang mengunjunginya untuk mencari dan minta berkah, berdo’a (memohon) kepada penghuninya, menyembelih binatang dan memohon syafa’at serta kesembuhan dari mereka. Perbuatan itu semua termasuk ke dalam syirik akbar. Itulah fakta yang kita dapati dari kebanyakan negeri Islam, di zaman ini yang bisa kita dapati di mana-mana. Dan kiranya tidak perlu kami buktikan kenyataan ini. -Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan dari Allah-.[2]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma menceritakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang gereja dengan rupaka-rupaka yang ada di dalamnya yang dilihatnya di negeri Habasyah (Ethiopia). Maka, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيْهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوْا فِيْهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، أُوْلَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Mereka itu adalah suatu kaum, apabila ada orang yang shalih atau seorang hamba yang shalih meninggal di antara mereka, mereka bangun di atas kuburannya sebuah tempat ibadah dan mereka buat di dalam tempat itu rupaka-rupaka. Mereka itulah makhluk yang paling buruk di hadapan Allah pada hari Kiamat.” [3]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ.

Laknat Allah atas Yahudi dan Nashrani, mereka telah menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” [4]

Dari Jundub bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu berkata: “Aku mendengar bahwa lima hari sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللهِ أَنْ يَكُوْنَ لِي مِنْكُمْ خَلِيْلٌ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيْلاً، كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيْلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ.

Sungguh aku menyatakan kesetiaanku kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) di antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil, seandainya aku menjadikan seorang khalil dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu.’” [5]

Yang dimaksud dengan اِتِّخَاذُ الْقُبُوْرِ مَسَاجِدَ yaitu menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid (tempat ibadah), mencakup tiga hal, sebagaimana yang disebutkan oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah : [6]

1. Tidak boleh shalat menghadap kubur. Hal ini ada larangan yang tegas dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ تُصَلُّوْا إِلَى الْقُبُوْرِ وَلاَ تَجْلِسُوْا عَلَيْهَا.

Jangan kamu shalat menghadap kubur dan jangan duduk di atasnya.” [7]

2. Tidak boleh sujud di atas kubur.

3. Tidak boleh membangun masjid di atasnya (tidak boleh shalat di masjid yang dibangun di atasnya kuburan).

Beliau rahimahullah juga menyebutkan dalam kitabnya, bahwasanya: Membangun masjid di atas kubur hukumnya haram dan termasuk dosa besar menurut empat madzhab.[8]

Kemudian dikatakan oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz rahimahullah dalam fatwanya:

1. Hadits-hadits larangan tersebut menunjukkan tentang haramnya membangun masjid di atas kubur dan tidak boleh me-nguburkan mayat di dalam masjid. [9]

2. Tidak boleh shalat di masjid yang di sekelilingnya terdapat kuburan. [10]

Disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah di dalam kitabnya:

1. Siapa yang mengubur seseorang di dalam masjid, maka ia harus memindahkannya dan mengeluarkannya dari masjid.

2.Siapa yang mendirikan masjid di atas kuburan, maka ia harus membongkarnya (merobohkannya). [11]

Disebutkan p**a oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam kitabnya [12] , bahwa menjadikan kubur sebagai tempat ibadah termasuk dosa besar, dengan sebab:

1. Orang yang melakukannya mendapat laknat Allah.

2. Orang yang melakukannya disifatkan dengan sejelek-jelek makhluk.

3. Menyerupai orang Yahudi dan Nasrani, sedangkan menyerupai mereka hukumnya haram.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya, Zaadul Ma’ad [13] : “Berdasarkan hal itu, masjid harus dibongkar bila dibangun di atas kubur. Sebagaimana halnya kubur yang berada dalam masjid harus dibongkar. Pendapat ini telah disebutkan oleh Imam Ahmad dan lainnya. Tidak boleh bersatu antara masjid dan kuburan. Jika salah satu ada, maka yang lain harus tiada. Mana yang terakhir didirikan itulah yang dibongkar. Jika didirikan bersamaan, maka tidak boleh dilanjutkan pem-bangunannya, dan wakaf masjid tersebut dianggap batal. Jika masjid tetap berdiri, maka tidak boleh shalat di dalamnya (yaitu di dalam masjid yang ada kuburannya) berdasarkan larangan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan laknat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang menjadikan kubur sebagai masjid atau menyalakan lentera di atasnya. Itulah dienul Islam yang Allah turunkan kepada Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun dianggap asing oleh manusia sebagaimana yang engkau saksikan.” [14]

Jawaban terhadap syubhat yang ada: “Yaitu orang berkata sekarang kita dalam dilema sehubungan dengan makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kuburan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada tepat di tengah masjid. Bagaimana menjawabnya?”

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was allam ketika meninggal dunia dimakamkan di kamar ‘Aisyah di rumahnya sebelah masjid, dipisahkan dengan tembok dan ada pintu yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar menuju masjid. Hal ini adalah perkara yang sudah disepakati para ulama dan tidak ada perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya para Sahabat Radhiyallahu anhum menguburkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di kamarnya. Mereka lakukan demikian supaya tidak ada seorang pun sesudah mereka menjadikan kuburan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai masjid atau tempat ibadah, sebagaimana hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma dan yang lainnya.

‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata : “Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit yang karenanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُوْدَ وَ النَّصَارَى اِتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَا جِدَ

Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani, karena mereka menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat peribadahan”

‘Aisyah Radhiyallahu anhuma melanjutkan.

وَلَوْ لاَ ذَلِكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ غَيْرَ أَنَّهُ خُشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا

Seandainya bukan karena larangan itu tentu kuburan beliau sudah ditampakkan di atas permukaan tanah (berdampingan dengan kuburan para Sahabat di Baqi’). Hanya saja beliau khawatir akan dijadikan sebagai tempat ibadah” [15]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

اَللَّهُمَ لاَ تّجْعَلْ قَبْرِيْ وَثَنَا، لَعَنَ اللَّهُ قَوْمًا اِتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan kuburanku sebagai berhala (yang disembah). Allah melaknat suatu kaum yang menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai temp ibadah” [16]

Kemudian -Qaddarallahu wa Maasyaa’a Fa’ala- terjadi sesudah mereka apa yang tidak diperkirakan sebelumnya, yaitu pada zaman al-Walid bin Abdul Malik tahun 88H, ia memerintahkan untuk membongkar masjid Nabawi dan kamar-kamar istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam termauk juga kamar ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma sehingga dengan demikian masuklah kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke dalam Masjid Nabawi. [17]

Pada saat itu tidak ada seorang Sahabat pun di Madinah an-Nabawiyyah. Sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dan muridnya al-‘Allamah al-Hafizh Muhammad bin Hadi rahimahullah : “Sesungguhnya dimasukkannya kamar beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke dalam masjid pada masa khilafah al-Walid bin ‘Abdil Malik, sesudah wafatnya seluruh Sahabat Radhiyallahu anhu yang ada di Madinah. Dan yang terakhir wafat adalah Jabir bin ‘Abdillah [18], beliau Radhiyallahu anhu wafat pada zaman ‘Abdul Malik pada tahun 78 H. Sedangkan al-Walid menjabat khalifah tahun 86 H dan wafat pada tahun 96 H. Maka dari itu, dibangunnya (renovasi) masjid dan masuknya kamar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi antara tahun 86-96 H.[19]

Perbuatan al-Walid bin ‘Abdil Malik ini salah -semoga Allah mengampuninya-.[20]

Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan dalam Fat-hul Baari dan juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam al-Jawaabul Baahir: “Bahwasanya kamar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala dimasukkan ke dalam masjid, ditutup pintunya, dibangun atasnya tembok lain untuk menjaga agar rumah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dijadikan tempat perayaan dan kuburnya tidak dijadikan berhala.” [21]

Larangan shalat di masjid yang ada kuburnya atau masjid yang dibangun di atas kubur mencakup semua masjid di seluruh dunia kecuali Masjid Nabawi. Hal tersebut karena Masjid Nabawi mempunyai keutamaan yang khusus yang tidak didapati di seluruh masjid di muka bumi kecuali Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha.

Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِيْ هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيْمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ.

Shalat di Masjidku ini lebih utama 1000 kali daripada shalat di masjid lain kecuali Masjidil Haram.” [22]

صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِيْ هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِي غَيْرِهِ مِنَ الْمَسَاجِدِ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ.

Shalat di Masjidku ini lebih utama 1000 kali daripada shalat di masjid-masjid yang lain, kecuali Masjidil Haram.” [23]

صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِيْ هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيْمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ، فَصَلاَةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةَ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيْمَا سِوَاهُ.

Shalat di Masjidku ini lebih utama 1000 kali daripada shalat di masjid lain kecuali Masjidil Haram, maka shalat di Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali daripada shalat di masjid yang selainnya.” [24]

مَا بَيْنَ بَيْتِيْ وَمِنْبَرِيْ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ وَمِنْبَرِيْ عَلَى حَوْضِي.

Antara rumahku dan mimbarku ada taman dari taman-taman Surga dan mimbarku di atas telagaku.” [25]

Dan keutamaan-keutamaan yang lain yang tidak didapati di masjid lainnya. Kalau dikatakan tidak boleh shalat di masjid beliau berarti menyamakan dengan masjid-masjid lainnya dan menghilangkan keutamaan-keutamaan ini dan hal ini jelas tidak boleh.[26]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata tentang syubhat tersebut: [27]
1. Masjid Nabawi itu tidak didirikan di atas kuburan, tetapi masjid didirikan pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dikuburkan di dalam masjid, namun dikubur di dalam rumah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Menggabungkan rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk p**a rumah ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma dengan masjid, bukan atas kesepakatan para Sahabat. Hal ini terjadi setelah sebagian besar Sahabat sudah meninggal dunia dan yang masih hidup saat itu tinggal sedikit, kira-kira pada tahun 94 H. Hal ini termasuk masalah yang tidak disepakati semua Sahabat yang masih ada. Yang pasti bahwa sebagian di antara mereka menentang rencana itu, termasuk p**a Sa’id bin al-Musayyab [28], dari kalangan Tabi’in. Dia tidak ridha atas hal itu [29].

4. Kuburan beliau Shallallahu ‘alaihi wa salalm tidak berada di dalam masjid Nabawi, meskipun setelah itu masuk di dalamnya, karena kuburan beliau ada dalam ruangan tersendiri yang terpisah dengan masjid, sehingga masjid tidak didirikan di atas kuburan. Karena itu tempat tersebut dijaga dan dilapisi tiga dinding. Dinding-dinding itu berbentuk segi tiga yang posisinya miring dengan arah Kiblat, sedangkan rukun di sisi utara, sehingga orang yang shalat tidak mengarah ke sana, karena bentuknya agak miring.
Wallaahu a’lam.
..........................................

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
___

Footnote

[1]. Lihat pembahasan ini dalam kitab Manhajul Imaam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah dan Tahdziirus Saajid min Ittikhaadzil Qubuur Masaajid oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. I/ Maktabah al-Ma’arif, th. 1422 H.
[2]. Manhajul Imaam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah (I/259).

[3]. HR. Al-Bukhari (no. 427, 434, 1341) dan Muslim (no. 528) bab an-Nahyu ‘an Binaa-il Masaajid ‘alal Qubuuri wa Ittikhadzish Shuwari fiiha wan Nahyu ‘an Ittikhadzil Qubuuri Masaajid (Larangan Membangun Masjid di Atas Kuburan dan Larangan Memasang di Dalamnya Gambar-Gambar Serta Larangan Men-jadikan Kuburan Sebagai Masjid) dan Abu ‘Awanah (I/401).
[4]. HR. Al-Bukhari (no. 435, 436, 3453, 3454, 4443, 4444, 5815, 5816) dan Muslim (no. 531 (22)) dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma.

[5]. HR. Muslim (no. 532 (23)) bab: An-Nahyu ‘an Binaa-il Masaajid ‘alal Qubuuri wa Ittikhadzis Shuwari fiiha wan Nahyu ‘an Ittikhadzil Qubuuri Masaajid (Larangan Membangun Masjid di Atas Kuburan dan Larangan Membuat Patung-Patung serta Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid).
[6]. Lihat Tahdziirus Saajid min Ittikhaadzil Qubuur Masaajid (hal 29-44) oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. I/ Maktabah al-Ma’arif/ th. 1422 H.

[7]. HR. Muslim (no. 972 (98)) dan lainnya dari Sahabat Abu Martsad al-Ghanawi Radhiyallahu anhu.
[8]. Tahdziirus Saajid (hal 45-62).
[9]. Fataawaa Syaikh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz (IV/337-338 dan VII/426-427), dikumpulkan oleh Dr. Muhammad bin Sa’ad asy-Syuwai’ir, cet. I, th. 1420 H.

[10]. Lihat Fataawaa Muhimmah Tata’allaqu bish Shalah (hal. 17-18, no. 12) oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz, cet. I, Daarul Fa-izin lin Nasyr-th. 1413 H.
[11]. Lihat al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (I/402) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
[12]. Lihat Mausuu’atul Manaahi asy-Syar’iyah (I/426).

[13]. Lihat Zaadul Ma’aad fii Hadyi Khairil ‘Ibaad (III/572) tahqiq Syu’aib dan ‘Abdul Qadir al-Arnauth, cet. Mu-assasah ar-Risalah, th. 1412 H.

[14]. Tentang harus dibongkarnya masjid yang dibangun di atas kubur itu tidak ada khilaf di antara para ulama yang terkenal, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t dalam Iqthidhaa’us Sirathil Mustaqiim (II/187).

[15]. HR. Al-Bukhari (no. 1330), Muslim (no. 529), Abu Awanah (I/399) dan Ahmad (VI/80, 121, 255). Perkataan ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma ini menunjukkan dengan jelas sebab mengapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikuburkan di rumahnya. Beliau Shalallallahu ‘alaihi wa sallam menutup jalan supaya tidak dibangun di atasnya masjid (sebagai tempat ibadah). Maka, tidak boleh dijadikan alasan tentang bolehnya mengubur di rumah, karena hal ini menyalahi hukum asal. Menurut Sunnah menguburkan mayat di pekuburan kaum Muslimin. (Lihat Tahdziirus Saajid hal.14)

[16]. HR. Ahmad (II/246), al-Humaidi dalam Musnadnya (no.1025) dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’. Syaikh Ahmad Muhammad Syakir berkata, “Sanadnya shahih”, Musnad Ahmad (VII/173 no. 73520. Diriwayatkan juga oleh Imam Malik (I/156 no. 85), dari ‘Atha’ bin Yasar secara marfu’. Hadits ini mursal shahih. Lihat Tahdziirus Saajid (hal.25-26)
[17]. Lihat Taariikhuth Thabari (V/222-223) dan Taariikh Ibni Katsir (IX/74-75). Dinukil dari Tahdziirus Sajid (hal.79).

18]. Beliau adalah seorang Sahabat yang mulia, Jabir bin ‘Abdillah bin ‘Amr bin Haram bin Ka’ab al-Anshari as-Silmi. Seorang yang banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ikut dalam bai’at ‘Aqabah dan ikut bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak peperangan. Setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, dia membuat halaqah (kajian) di Masjid Nabawi untuk ditimba ilmunya. Lihat al-Ishaabah (I/213 no. 1026).

[19]. Lihat al-Jawaabul Baahir fii Zuwwaaril Maqaabir (hal. 72), Majmuu’ Fataawaa (XXVII/419) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, juga Tahdziirus Saajid (hal. 79-80) oleh Syaikh al-Albani.
[20]. Tahdziirus Saajid (hal. 86) oleh Syaikh al-Albani.
[21]. Ibid, hal. 91.
[22]. HR. Muslim (no. 1395) dari Sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma.

[23]. HR. Al-Bukhari (no. 1190), Muslim (no. 1394), at-Tirmidzi (no. 325), Ibnu Majah (no. 1404), ad-Darimi (I/330), al-Baihaqi (V/246), Ahmad (II/256, 386, 468), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 971).
[24]. Ahmad (III/343, 397), Ibnu Majah (no. 1406) dari Sahabat Jabir bin ‘Abdillah.

[25]. HR. Al-Bukhari (no. 1196, 1888), Muslim (no. 1391), Ibnu Hibban (no. 3750/ Ta’liiqaatul Hisaan ‘alaa Shahiih Ibni Hibban (no. 3742)), al-Baihaqi (V/246), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[26]. Lihat Tahdziirus Saajid hal. 178-182.
[27]. Lihat al-Qaulul Mufiid ‘alaa Kitaabit Tauhiid (I/398-399).

[28]. Nama lengkapnya Sa’id bin al-Musayyab bin Hazan bin Abi Wahhab al-Makh-zumi al-Qurasyi. Dia adalah seorang ahli Fiqih di Madinah. Dia menguasai ilmu hadits, fiqih, zuhud, wara’. Dia orang yang paling hafal hukum-hukum ‘Umar bin Khaththab dan keputusan-keputusannya, wafat di Madinah th. 94 H. Lihat Taqriibut Tahdziib (I/364 no. 2403) dan Siyar A’laamin Nubalaa’ (IV/217-246, no. 88).
[29]. Majmuu’ Fataawaa (XXVII/420) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Ⓜ️edia Sunnah Nabi

31/05/2021
14/11/2020

Tripod Support Mini 4 level ketinggian New Rp 65,000 Tripod Mini ini mempunyai 4 level ketinggian yang bisa diatur sesuai kebutuhan membuat tripod ini fleksibel dan cocok untuk segala keperluan. Terbuat dari material berkualitas tinggi dilengkapi dengan packing kotak dengan harga yang sangat terjang...

14/11/2020

Ready Lensa Tele Zoom 8x + Tripod Perlengkapan BOX - 1 Buah Tripod - 1 Buah Penjepit Hp/Smartphone - 1 Lembar Lap Kecil - 1 Buah Tali/Warna Coklat - 1 Buah Lensa Tele Zoom 8x - di lengkapi buka panduan pemasangan Ukuran maksimal 5.5 inchi untuk semua jenis merk handphone ....

14/11/2020

Specifications: NON WIFI Processor: CPU:Sunplus SPCA1521/ Generalplus 6624 Sensor: GC1004 Lens angle: 170° 6G wide angle lens Screen: 1.5 inch LTPS LCD Video format: 1080P 30fps/720P 60fps MOV H.264 Picture format: 12M/8M/5M/2M @ JPEG Battery: 900mAh, 3.7V Li-Po battery @ MAX 90minutes Waterproof c...

14/11/2020

NB : UJUNG USB (POWER) JANGAN DIHUBUNGKAN KE COLOKAN USB DI TV KARENA TIDAK AKAN BERFUNGSI (Tidak akan cukup daya-nya). SILAHKAN DIHUBUNGKAN KE ADAPTER HP ORI DENGAN DAYA MINIMAL FULL 1A Perbedaan dengan Anycast biasa yang lebih murah : - Bentuk kabel lebih fleksibel di tv yang sempit jarak antar ba...

28/07/2020

Assalamualaikum

KAYA BOLEHKAH?

Tulisan ini penting sekali. Baca sampai selesai ya.....

Dalam Islam, mazhab terbesar dan tertua adalah Mazhab Hanafi. Tokoh sentralnya adalah Imam Hanafi (Abu Hanifah), seorang pengusaha besar yang berbisnis minyak dan sutra. Masya Allah.....

Level usahanya sudah mencapai passive income yang sangat stabil. Malam, beliau sibuk khatam Al-Quran dalam sholat. Siang, beliau sibuk mengajar. Kapan ngurus bisnisnya? Gak perlu terlalu diurus. Karena sudah running well.....

Salah satu murid Imam Hanafi (Abu Hanifah), kemudian menjadi guru bagi Imam Syafii. Dan ini turut mewarnai pemikiran Imam Syafii tentang harta dan kekayaan. Kisah ini disampaikan kembali oleh dalam salah satu ceramahnya yang berbobot tapi ringan dan humoris.....

Simak deh kisahnya...

Dulu awal-awal Imam Syafi'i sempat sinis ketika melihat kekayaan. "Harta itu halalnya dihisab dan haramnya diazab," itu menurut beliau. Dan itu memang benar. Jadilah beliau pengagum ulama-ulama miskin. Menurut beliau, inilah orang-orang yang bebas hisab.

Singkat cerita, kemudian beliau belajar ke Imam Malik. Dan beliau benar-benar kaget, ternyata karpet di rumah Imam Malik itu, kalau diinjak, mata kaki bisa tenggelam, saking empuknya. Imam Malik kalau mengajar, kursinya lebih tinggi. Bajunya bagus-bagus. Pokoknya, gaya.

Imam Syafi'i mulai membatin, "Ini orang alim, tapi hartanya berlimpah." Di sisi lain Imam Malik beranggapan, nikmat dari Allah memang harus ditampakkan.

Setelah sekian lama belajar, akhirnya beliau bertanya ke Imam Malik, apakah dia sudah cukup belajarnya. Kata Imam Malik, sudah cukup. Si murid lantas diminta belajar sama orang alim yang lain, tapi sayangnya orang alim ini sudah wafat. Namanya Abu Hanifah. Begitu penjelasan Imam Malik.

"Lantas, saya berguru sama siapa lagi?" tanya Imam Syafi’i.

“Temui muridnya yang sealim dia. Namanya, Muhammad Al-Syaibani," jelas Imam Malik.

"Lalu, kapan saya berangkat?" tanya Imam Syafi’i lagi.

"Besok!" seru Imam Malik.

Keesokan harinya, diajaklah Imam Syafi'i sama Imam Malik ke pasar sebelah Baqi' di Madinah. Tangan Imam Syafi’i saat itu digandeng gurunya. Di sana ada rental unta.

Imam Malik bertanya, "Mana kafilah yang hendak ke Iraq? Saya mau sewa."

"Saya, Tuan Malik!" jawab salah satu kafilah di sana.

Imam Syafi'i dikasih uang dan bekal sama Imam Malik. Kata Imam Syafi'i, "Guruku memberiku sekian dinar.” Kalau di-konversi, sekitar Rp 50 juta rupiah. Imam Syafi'i jadi mikir, ulama miskin yang dia kagumi, nggak pernah ngasih uang. Lha ulama kaya ini malah ngasih uang. Mindset-nya mulai berubah.

Singkat cerita, beliau sampai di Iraq. Begitu tiba di tempat Muhammad Al-Syaibani, beliau lebih kaget lagi. Di ruang tamu Muhammad Al-Syaibani ada emas-emas batangan. Jadi, Muhammad Al-Syaibani menghitung emas-emasnya di ruang tamu. Masya Allah.

Menariknya, emas-emas itu dipotong-potong, lalu dipindah ke gentong yang lain.

Imam Syafi’i sempat membatin, "Duh, melihat kekayaan Imam Malik aja sudah kaget. Di sini malah lebih kaget." Serunya, Muhammad Al-Syaibani adalah pakar ushul fikih dan nanti ini jadi asbab kenapa Imam Syafi'i menjadi pakar ushul fikih juga.

Sampai-sampai Imam Syafi’i pernah berkata, "Semua orang yang mempelajari kitabku, maka berutang jasa pada Abu Hanifah." Jelas, karena beliau pertama kali belajar ilmu ushul fikih melalui Muhammad Al-Syaibani, muridnya Abu Hanifah.

Setelah sekian lama berinteraksi, Imam Syafi'i semakin kentara kaget dan takjubnya. Terutama soal harta.

"Kenapa anak muda?" tanya Muhammad Al-Syaibani.

"Heran aja, ulama kok kaya?" ucap Imam Syafi'i.

"Kamu heran?"

"Iya."

"Ya, sudah. Harta ini saya kasih ke orang-orang fasik."

Imam Syafi'i langsung berpikir cepat. Terus, beliau berseru, "Jangan, nanti hartanya dipakai zina dan judi."

Muhammad Al-Syaibani kemudian menegaskan, "Ya! Kalau harta ini saya kasih kepada orang-orang yang nggak jelas, nanti akan dipakai untuk hal-hal yang nggak jelas juga."

Imam Syafi'i bergumam, "Iya juga ya, kalau harta dikuasai oleh orang-orang fasik, yah repot." Lalu beliau mengangguk, "Ya sudah, orang alim yang kaya

itu nggak masalah!" Mulai saat itu, cara pikir beliau berubah drastis. Dan semakin berubah, karena digembleng terus oleh Muhammad Al-Syaibani.

"Harta yang baik itu membuat teman senang dan membuat musuh benci," pesan Muhammad Al-Syaibani suatu ketika. Pelan-pelan Imam Syafi'i mulai mikir, "Iya juga ya. Di antara tanda-tanda orang benar itu, dimusuhi oleh si fasik dan si munafik."

Kemudian Imam Syafi'i menyimpulkan, orang beriman itu harus punya pengaruh, harus punya kekuatan. Bantu share tulisan ini ya, biar jadi inspirasi bagi umat.....

Keterusan mikir gitu, sampai akhirnya terkenal statement dalam madzhab beliau, "Islam itu mulia dan tiada yang melebihi kemuliaannya." Misal, ada orang lain naik kuda. Nah, orang beriman nggak boleh naik keledai, harus lebih baik daripada itu. Nah, itulah statement hasil didikan dari Muhammad Al-Syaibani.

Pada dasarnya Muhammad Al-Syaibani menyerukan manusia agar hidup dalam berkecukupan, baik untuk dirinya maupun keluarganya. Tapi jangan sampai bermewah-mewahan. Beliau pun tidak menentang gaya hidup yang lebih dari cukup, selagi kelebihan tersebut hanya digunakan untuk hal-hal kebaikan.

Ya, sudah semestinya harta digunakan untuk kebaikan di jalan-Nya.

Pada akhirnya, semoga kita semua dititipi ilmu dan harta yang membuat kita bertambah dekat dan taat kepada-Nya. Menaungi orang banyak. Jadi jalan rezeki dan maslahat bagi orang banyak. Aamiin...

Semoga bermanfaat

Address

Tenggarong
75265

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Usman Hardi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Usman Hardi:

Share

Category