12/06/2025
P. U I S I
★KOPI dan TEMBAKAU★
Aku dan kamu banyak bicara tentang puisi, meski banyak juga tentang humanisme, sejarah, info populis, politik, dan juga Tuhan. Pada awalnya percakapan kita memang tidak pernah jauh dari puisi.
Kita lebih sering bersepakat ketimbang membangun silang pendapat, saling senggol ego, atau sakit hati, meski kadang cara berpikir kita tidaklah selalu sama. Semua itu tidak pernah menjadikan percakapan panjang kita menjadi membosankan, itu karena kamu s**a bergurau dan aku tulus melambungkan pujian.
Kamu hidup di dunia dengan banyak warna, aku di dunia yang lebih monokrom, tapi aku tahu duniamu tidak benar-benar menambatkan hatimu, sebagaimana duniaku ini bukanlah hasratku yang terdalam. Tapi, apa yang kamu lakukan dan capai sekarang ini tentu membuatku salut. Kemandirian yang hebat. Kamu hebat.
Pada novel Remy Sylado kita sama-sama s**a, memuja puisi Rendra dan Sapardi Djoko Damono, pun tulisan-tulisan lepas Goenawan Mohamad. Pada lagu-lagu Linkin Park, Radiohead, Padi sampai Black Pink kita menggilai. Tapi, mengapa kita s**a puisi? Kita sepakat, meski sejarah menceritakan apa yang jatuh dan bangun, yang mulia dan kemudian membusuk, yang asli tapi palsu, tetapi puisi selalu membuat kita kasmaran kepada dunia, tak jera-jera terkesima kepada benda yang tak berarti, momen romansa maupun semuram-muramnya tragedi. Puisi selalu mengembalikan pesona dunia, ketika dunia di zaman kapitalisme ini, kehilangan daya sihirnya, ketika banyak hal, hanya punya nilai-tukar, dan kehilangan kemesraannya.
Puisi adalah cerita tentang penemuan kembali, seakan-akan dunia tampak buat pertama kalinya.
Puisi juga adalah kebangkitan kembali. Kita tahu bahwa apa yang berulang dalam puisi, menjadi baru dalam tubuhnya. Puisi membuat kita tidak mengucapkan hal-hal yang itu-itu saja. Puisi membuat pengulangan menjadi gema yang indah, yang kuat, yang membangkitkan, yang terpantul—suara yang tak bisa dipertukarkan.
Puisi itu kamu.
-yalengga'story