28/04/2020
๐ก๐๐ป๐๐ป๐ด ๐ค๐ผ๐บ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐ฎ๐ต, Demak asalya. Santri pondok. Aktifis perempuan. Enam tahun tak kurang ia berkhidmat di lembaga Komnas Perempuan, Jakarta.
Mash kuingat empat tahun silam, ketika Nunung yang mandiri lagi cerdas ini, datang ke Garasi, kediamanku.
โ๐๐ข๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ช ๐ฌ๐ฆ ๐๐ข๐ด ๐๐ฒ๐ช๐ญ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐บ, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ฐ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ-๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ด ๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ฏ๐ฐ๐ฎ๐ช, ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ข๐บ๐ข, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ญ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ข๐บ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ,โ demikian tekadnya.
Nunung pelaku bisnis property kini. Memimpin organisasi Koperasi KPTI. Kian matang layaknya sosok perempuan pejuang.
Beruntung andai anda mengenal dekat Nunung. Bukan kerana kepintarannya berargumentasi, lebih karena ia fasih menutur larik perjalanan mengelola koperasi property kini.
Simak renyah tulisannya. Silakan..
Salam Hangat
Aqil PropertyToday
๐๐ฒ๐ฟ๐ธ๐ผ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ถ: ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ป ๐จ๐ป๐๐๐ธ ๐ ๐ถ๐น๐ถ๐ธ๐ถ ๐ฅ๐๐บ๐ฎ๐ต ๐ฆ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ
Rumah petak itu berukuran sekira 3x9 meter. Terdiri dari 4 sekat tanpa pintu. Saya sebut saja tiga ruangan itu sebagai ruang tamu sekaligus tempat parkir motor, ruang keluarga yang saya isi jejalan puluhan buku, kamar tidur dan paling belakang kamar mandi menyatu dengan dapur dan jemuran.
Itulah kontrakan yang saya tinggali selama kurang lebih dua tahun, 2007-2009 silam. Rumah petak itu berada di kota Depok-Jawa Barat. Berjarak 300 meter dari stasiun Depok Lama. Meski pekerjaan saya di Jakarta, mlipir hingga ke Depok adalah adalah pilihan paling realistis. Bekerja pada sebuah lembaga negara yang bergerak pada isu perempuan tak lantas menjanjikan gaji besar .
Dari sekian banyak kawan saya yang menggantungkan nasih di Jakarta, hanya segelintir orang saja yang memiliki rumah sendiri. Itupun mereka yang punya jabatan tinggi dan telah bekerja puluhan tahun. Atau biasanya mereka yang memiliki pasangan dengan penghasilan fantastis. Selebihnya, banyak dari mereka yang masih berdesakan tinggal bersama orang tua atau mertua atau ngontrak ala kadarnya.
Bekerja di Jakarta ternyata bukan jaminan memiliki hunian. Bahkan untuk sekedar membeli rumah di pinggiran kota seperti Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor. Apalagi, perusahaan atau tempat bekerja, seolah tak memiliki keberpihakan. Acuh dan tak peduli apakah pekerjanya telah nyaman dengan hunian sendiri, atau masih oper sana-sini.
Perusahaan biasanya tak menyediakan mekanisme untuk memperjuangkan pekerjanya memiliki rumah. Misalanya lewat jalur negosiasi dengan bank agar pekerjanya punya tempat tinggal. Atau membentuk koperasi properti. Biasanya koperasi yang ada hanya berupa simpan pinjam dengan putaran uang tak seberapa.
Tahun 2010, saya ditawari seorang sahabat yang memiliki rumah di daerah Bogor. Rumah tersebut ia jual karena memang tidak ditempati. Lewat mekanisme yang memudahkn, saya akhirnya bisa membeli rumah tersebut.
Modal membeli rumah saat itu hanya kepercayaan. Lantaran sudah kenal baik, saya diminta untuk masuk koperasi di kantornya. Saya lantas dapat pinjaman dari koperasi untuk membayar rumah tersebut. Selanjutnya saya cukup membayar cicilan koperasi sesuai dengan kemampuan untuk beberapa tahun.
Saya mungkin hanya salah seorang yang beruntung. Hingga saya meninggalkan Jakarta pada pertengahan 2012, kawan2 saya yang telah bekerja puluhan tahun tetap saja setia dengan kontrakanya. Bukan mereka tak ingin memiliki rumah, namun kondisi tak memungkinkan.
Ada beberapa faktor. Pertama, harga rumah tak terjangkau dengan gaji minimal UMR. Kedua, perbankan menolak mereka yang bekerja di NGO atau lembaga negara yang mirip2 NGO. Mereka dianggap tak memiliki kepastian penghasilan. Ketiga, patokan DP 20-30% dari harga rumah di pinggiran yang berkisar rerata 300-400 juta, semakin menyulitkan.
Gaya hidup di Jakarta teramat membuat boros, adalah faktor lainnya. Sehingga menabung untuk rumah tidak menjadi prioritas. Terakhir, Perusahaan tak memiliki kebijakan yang berpihak untuk memudahkan pekerjanya memiliki rumah. Misalnya bekerjasama dengan bank dan menjadi penjamin kredit rumah untuk pekerja, atau membuat koperasi kepemilikan rumah.
Kondisi demikian berlangsung hingga hari ini. Di Yogyakarta, kondisinya tak berbeda, bahkan mungkin jauh lebih sulit. Apalagi hunian di Jogja, amat sangat mahal. Jika tak ada kebijakan yang berubah seperti tahun-tahun sebelumnya, tak ada p**a inisiatif dan keberpihakan dari perusahaan, sulit bagi mereka-para pekerja dengan gaji pas-pasan memiliki rumah.
Karenanya, berbagai upaya menghadirkan koperasi, seperti yang diinisiasi oleh Koperasi Property Today Indonesia (KPTI) patut kita dukung. Koperasi yang digagas oleh sekump**an pengusahan property di Jogja dan beberapa kota di Indonesia adalah sebuah lembaga yang konsen pada penyediaan hunian melalui gerakan menabung tanah.
Lewat koperasi, setiap orang diharapkan bisa memiliki tanah dengan jalan menabung. Wadah koperasi dipilih lantaran selaras dengan jiwa masyarakat Indonesia-kegotong-royongan dan berbagi. Koperasi memungkinkan setiap orang memiliki rumah dengan jalan saling membantu.
Sampai tahun tahun 2020, Koperasi KPTI telah membantu ribuan orang memiliki rumah. Mekanisme pembelian tanah dan rumah yang diberikan oleh Koperasi KPTI amat memudahkan. Karena prinsip Koperasi KPTI adalah menghadirkan tanah murah bagi yang membutuhkan.
Menabunglah tanah, miliki tanah, pasti rumah akan terbangun kemudian. Jika semakin banyak koperasi hadir, niscaya jutaan orang yang masuk dalam data BPS tak memiliki rumah, dalam beberapa tahun angkanya akan terus menurun.
Nunung Qomariyah, Pengurus Koperasi Property Today Indonsia (KPTI)
Lulusan Pascasarjana Antropologi UGM
โฃโฃโฃโฃ
โฃโฃโฃโฃ
โฃโฃโฃโฃ
โฃโฃโฃโฃ