LUKI-WP.Com

LUKI-WP.Com Artikel Bacaan

Sejumlah Pembicara Bedah Buku Tokoh Bangsa Papua Thom Beanal untuk Situasi Papua Saat Ini.Para pembicara saat diskusi da...
07/05/2026

Sejumlah Pembicara Bedah Buku Tokoh Bangsa Papua Thom Beanal untuk Situasi Papua Saat Ini.

Para pembicara saat diskusi dan bedah buku berjudul Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, dan Bapa Bangsa Papua di Gedung Tempo, Palmerah Barat, Jakarta, Rabu (6/5).

Sejulah pembicara dari beragam latar belakang keilmuan dan aktivitas sosial-kemasyarakatan, Rabu (6/5) tampil sebagai pembicara dalam diskusi dan bedah buku berjudul Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, dan Bapa Bangsa Papua di Lantai 8 Gedung Tempo, Palmerah Barat, Jakarta Selatan.

Para pembicara yang tampil membedah buku tersebut yaitu tokoh masyarakat Papua dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia yang juga senator asal Papua Tengah Yorrys Raweyai serta pengajar Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta Dr Budi Hernawan.

Selain itu, antropolog lingkungan Universitas Indonesia (UI) Suraya Abdulwahab Afiff, MA, Ph.D dan aktivis muda tanah Papua yang juga pengacara Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Emanuel Gobay, SH, MH.

Kemudian, intelektual muda Papua sekaligus penulis buku Markus Haluk; dan Inayah Wulandari Wahid, aktivis sosial kemasyarakatan yang juga putri bungsu Presiden keempat Republik Indonesia KH Dr Abdurrahman Wahid (Gur Dur). Diskusi dipandu moderator Basilius Triharyono.

Buku tersebut berisi tiga jilid dengan sub judul yaitu seri pertama, Persembahan dan Apresiasi ditulis tokoh muda dan intelektual Papua Markus Haluk dengan editor Basilius Triharyanto.

Seri kedua berjudul Kesaksian Keluarga dan Pandangannya bagi Gereja dan Bangsa Papua berisi karya Thom Beanal, keluarga Thom seperti Bertha K*m, Florentinus Beanal, Odisimus Beanal, Janes Narkime, Nella Kilangin, dan lain-lain dengan Markus Haluk dan Basil Triharyanto selalu editor.

Kemudian, seri ketiga berjudul Kesaksian untuk Torey Negel Amungme-Papua berisi artikel sejumlah penulis seperti Uskup Keuskupan Timika Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA dan Adérito de Jesus Soares, pejuang HAM yang kini bermukim di Dili, kota negara Republik Demokratik Timor Leste.

Diskusi dan bedah buku dihadiri ratusan tamu undangan, tokoh masyarakat, akademisi, pemuka agama, organisasi masyarakat sipil, mahasiswa, seniman, dan awak media.

Ketua Tim Kerja Penulisan Buku Thom Beanal Markus Haluk dalam sambutannya mengatakan, latar belakang acara tersebut yakni membedah dan mendiskusikan tiga serial buku ihwal sosok tokoh fenomenal Bangsa Papua Thom Beanal.

“Buku ini menyajikan ringkasan perjalanan hidup dan perjuangan Almarhum Thom Beanal, seorang putra bangsa Papua dari suku Amungme, Timika. Thom lahir pada 11 Juli 1947 kemudian menempuh pendidikan tingkat dasar hingga Akademi Teologi, lalu mengabdi sebagai guru katekis di Wamena dan Paniai serta menjadi pastor awam di berbagai paroki di Keuskupan Jayapura,” kata Markus.

Menurut Markus, saat menyaksikan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan kerusakan ekologi yang disebabkan korporasi pertambangan dunia PT Freeport Indonesia (PTFI), Thom Beanal mengundurkan diri dari tugas pastoral untuk membela masyarakat adat.

“Tahun 1994, Thom mendirikan Lembaga Musyawarah Adat Amungme, Lemasa, kemudian menggugat Freeport di Pengadilan New Orleans, Amerika Serikat tahun 1996 lalu mendorong alokasi dana 1 persen bagi masyarakat terdampak perusahaan Freeport Indonesia,” kata Markus, intelektual muda Papua lulusan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura.

Selain itu, kata Markus, pada era reformasi, Thom bersama sejumlah tokoh Papua dan mahasiswa turut mendirikan Forum Rekonsiliasi Rakyat Irian Jaya (Foreri). Thom juga diangkat sebagai Wakil Ketua Presidium Dewan Papua tahun 2000 dan Ketua Dewan Adat Papua (DAP) tahun 2002–2007. Era pemerintahan Presiden Gus Dur, Thom diangkat sebagai Komisaris PT Freeport Indonesia periode 2000–2018.

Thom diakui Markus dikenal juga sebagai sosok pemimpin rendah hati, disiplin, dan penuh metafora dalam berpikir. Bedah buku dan diskusi tersebut, lanjut Markus, bertepatan dengan tiga momentum penting yang layak direnungkan bersama saat ini dan di masa akan datang.

Pertama, bedah buku dan diskusi bertepatan dengan 27 tahun saat Thom tampil menyampaikan hasrat lurus di hadapan Presiden Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie dengan tegas menyatakan, ‘Kami ingin diakui sebagai bangsa yang merdeka, bekerja sama secara jujur, damai, dan demokratis.’

Pernyataan tersebut ditindaklanjuti dengan perjuangan jalan damai era Presiden Gus Dur melalui Musyawarah Besar (Mubes) dan Kongres Rakyat Papua. Kedua, bedah buku dan diskusi juga dalam kaitan memperingati tiga tahun Thom meninggal dunia.

Ketiga, acara bedah dan diskusi buku merupakan puncak dari proses dua tahun perjalanan tim penulis yang melahirkan buku Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, dan Bapa Bangsa Papua dalam tiga seri.

Markus juga melukiskan, Thom bukan sekadar pemimpin. Ia juga figur yang menenangkan namun berpikir mendalam. Senyum Thom menghidupkan harapan, dan metafora-metaforanya tak menyajikan jawaban instan namun membuka ruang bagi akal untuk mencari kebenaran.

“Dalam timbangan sejarah, Thom hadir ketika rakyat Papua tidak berada dalam keadaan baik. Kini pun, Papua masih merintih dalam rupa ancaman genosida, etnosida, dan ekosida yang terus mengintai,” ujar Markus lebih lanjut.

Menurut Markus, rintihan masyarakat suku Amungme dan Kamoro berlangsung akibat kekayaan emas digadaikan hingga tahun 2061 secara tidak beradab. Penderitaan menjadi keseharian rakyat. Karena itu, buku ini lahir bukan untuk meratapi masa lalu, melainkan untuk membaca realitas dan merajut solusi ke depan.

Dalam kesempatan tersebut, Markus juga menyampaikan enam pokok harapan sekaligus rekomendasi untuk kerja bersama ke depan. Pertama, menjadikan buku ini sebagai sumber sejarah dan referensi bagi generasi muda Papua dan masyarakat luas, agar perjuangan tokoh bangsa tidak hilang ditelan zaman.

Kedua, menggunakan momentum ini tidak untuk mengeluh atau saling menyalahkan, melainkan untuk berbicara jujur tentang realitas hari ini serta merumuskan solusi yang komprehensif dan strategis.

Ketiga, meneruskan warisan suara kenabian, profetis sebagaimana diwariskan oleh para pemuka agama khususnya para Uskup di tanah Papua seperti Mgr Rudolf Joseph Manfred Staverman, OFM (1915–1990). Mgr Staverman adalah Vikaris Apostolik Hollandia (1956) dan Uskup pertama Keuskupan Djajapura (kini Jayapura) hingga 1972 dan pendiri STFT Fajar Timur.

Begitu p**a Uskup Jayapura Mgr Herman Ferdinand Marie Munninghoff OFM yang mengabdi selama 51 tahun di tanah Papua sebelum kembali ke Belanda. Begitu p**a Uskup Emeritus Keuskupan Jayapura Mgr Dr Leo Laba Ladjar, OFM; Uskup pertama Keuskupan Timika Mgr John Philip Saklil, Pr (Almarhum).

Selain itu, imam Keuskupan Jayapura sekaligus putra asli Papua Pastor Dr Neles Kebadaby Tebay, Pr; Uskup Jayapura Mgr Dr Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr; dan dan Uskup Keuskupan Timika Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru OSA.

Berikut Presiden ke-3 RI Prof BJ Habibie, dan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang berjuang dengan jalan damai dan bermartabat menyelamatkan manusia, budaya, dan alam semesta Papua sebagai paru-paru dunia yang tersisa di kawasan Asia-Pasifik.

“Untuk itu, kita perlu bersolidaritas secara sungguh-sungguh dan bergandengan lintas agama, akademisi, organisasi masyarakat sipil, jurnalis, politisi, dan masyarakat sipil di Indonesia serta berbagai wilayah,” ujar Markus.

Keempat, menolak segala bentuk penggadaian kekayaan alam Papua oleh Pemerintah Indonesia untuk kepentingan segelintir pihak kepada bangsa asing. Pihak penulis menyerukan kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Prabowo Subianto dan para menteri terkait untuk menghentikan praktik pencurian emas dan penghancuran alam semesta bangsa Papua.

Kelima, mengakui dan menghormati hak-hak bangsa Papua atas politik, tanah, sumber daya alam, dan martabat kemanusiaan, serta menghentikan ancaman genosida, etnosida, dan kekerasan struktural.

Keenam, membangun perundingan yang jujur, damai, dan demokratis antara Bangsa Papua dan Pemerintah Indonesia, sebagaimana cita-cita yang pernah disuarakan oleh Thom Beanal di Istana Negara pada 26 Februari 1999.

“Mari kita buka ruang diskusi guna melahirkan gagasan-gagasan strategis. Bukan untuk berduka, melainkan untuk melanjutkan perjuangan. Seperti hujan yang menyambut jenazah Thom saat tiba di Bandara Mozes Kilangin Timika, tanah Amungsa, bumi Kamoro, biarlah kata-kata kita menyirami tanah perjuangan yang masih haus,” ujar Markus.
https://www.odiyaiwuu.com/sejumlah-pembicara-bedah-buku-tokoh-bangsa-papua-thom-beanal-untuk-situasi-papua-saat-ini/

semua orang
pengikut
Sorotan

07/05/2026

“ *Belajar Dari Sosok Thom Beanal untuk Situasi Papua Saat ini”*
_(Sambutan Ketua Tim Kerja Penulisan Buku Thom Beanal)_

Syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa.

Apresiasi dan hormat kami sampaikan kepada seluruh peserta yang hadir secara langsung maupun daring. Saya menyapa Anda semua:

• Amolongo, Wiwaaoo....Waaa..waaa..waaaa....
• Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
• Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus
• Om Swastiastu,
• Om Shanti, Shanti, Shanti - Namo Buddhaya
• Salam kebajikan

_Yang terhormat para pembedah buku_ secara khusus ijinkan saya menyapa: 1). Dr. Budi Hernawan, 2). Dr. Suraya Afiff, 3). Bpk. Yorrys Raweyai, 4). Ibu Inayah Wahid, 5). Emanuel Gobay. Yang kami hormati dan kasihi kontributor tulisan buku, para tokoh masyarakat, akademisi, pemuka agama, organisasi masyarakat sipil, mahasiswa, elemen solidaritas, seniman, para jurnalis, serta tim kerja bedah buku; keluarga Bapak Thom Beanal; dan seluruh hadirin yang berkumpul di Lantai 8 Gedung Tempo ini.

*Latar Belakang dan Tujuan*

_Para Hadirin yang saya Hormati_

Kita berkumpul di tempat ini untuk membedah dan mendiskusikan tiga serial buku yang kami tulis tentang sosok tokoh fenomenal Papua, Bapak Thom Beanal.

Buku ini menyajikan ringkasan perjalanan hidup dan perjuangan almarhum, seorang putra bangsa Papua dari suku Amungme, Timika. Beliau lahir pada 11 Juli 1947, menempuh pendidikan dari tingkat dasar hingga Akademi Teologi, kemudian mengabdi sebagai guru katekis di Wamena dan Paniai, serta menjadi pastor awam di berbagai paroki.

Menyaksikan pelanggaran hak asasi manusia dan kerusakan ekologi yang disebabkan oleh PT Freeport, Thom Beanal mengundurkan diri dari tugas pastoral untuk membela masyarakat adat. Pada tahun 1994, beliau mendirikan LEMASA (Lembaga Musyawarah Adat Amungme), kemudian menggugat Freeport di Pengadilan New Orleans pada tahun 1996, dan mendorong alokasi dana 1% bagi masyarakat terdampak.

Pada era reformasi, Thom Beanal bersama sejumlah tokoh Papua dan mahasiswa turut mendirikan FORERI. Beliau diangkat sebagai Wakil Ketua Presidium Dewan Papua (2000) dan Ketua Dewan Adat Papua (2002–2007). Selanjutnya, Presiden Abdurrahman Wahid mengangkatnya sebagai komisaris PT Freeport Indonesia (2000–2018).

Thom Beanal dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati, disiplin, dan penuh metafora dalam berpikir.

*Tiga Momentum Strategis*

_Para Hadirin yang kami hormati,_

Pertemuan ini tidak hanya membahas isi buku, tetapi juga bertepatan dengan tiga momentum penting yang layak kita renungkan bersama:
1. Genap 27 tahun ketika Bapak Thom Beanal tampil menyampaikan hasrat lurus di hadapan Presiden B.J. Habibie, dengan pernyataan tegas: "Kami ingin diakui sebagai bangsa yang merdeka, bekerja sama secara jujur, damai, dan demokratis." Pernyataan tersebut ditindaklanjuti dengan perjuangan jalan damai pada masa Presiden Abdurrahman Wahid melalui Musyawarah Besar dan Kongres.
2. Kita memperingati tiga tahun kepergian beliau ke pangkuan Tuhan.
3. Momentum ini merupakan puncak dari proses dua tahun perjalanan tim penulis yang melahirkan tiga seri buku: Pastor Awam, Kepala Suku, dan Bapa Bangsa Papua.

*Makna Perjuangan Thom Beanal*

Thom Beanal bukan sekadar pemimpin. Beliau adalah figur yang menenangkan namun berpikir mendalam, senyumnya menghidupkan harapan, dan metafora-metafoanya tidak menyajikan jawaban instan, melainkan membuka ruang bagi akal untuk mencari kebenaran.

Dalam timbangan sejarah, beliau hadir ketika rakyat Papua tidak berada dalam keadaan baik. Kini pun, Papua masih merintih: ancaman *genosida, etnosida, dan ekosida* terus mengintai; kekayaan emas digadaikan hingga tahun 2061 secara tidak beradab; penderitaan menjadi keseharian rakyat. Maka buku ini lahir bukan untuk meratapi masa lalu, melainkan untuk membaca realitas dan merajut solusi ke depan.

*Ucapan Terima Kasih dan Apresiasi*

Pada kesempatan ini, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada:
1. Tim inti penggerak yang menjadi pendorong utama lahirnya tiga seri buku ini.
2. Para pemuka agama, adat, dan politik atas dukungan moral dan nasihat selama proses penulisan.
3. Para penyumbang kesaksian, yakni keluarga almarhum (istri, putra-putri) serta tokoh-tokoh suku Amungme.
4. 47 penulis buku seri ketiga, yang terbagi dalam enam bagian, atas refleksi dan kesaksian yang sangat memperkaya isi buku.
5. Seluruh pihak yang hadir dan mengikuti secara daring, terutama saudara-saudara kita rakyat Papua di pengungsian yang sedang menderita. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kekuatan oleh Tuhan.

*Harapan dan Rekomendasi ke Depan*

Kami menyampaikan enam pokok harapan dan rekomendasi untuk kerja bersama ke depan:
1. Menjadikan buku ini sebagai sumber sejarah dan referensi bagi generasi muda Papua dan masyarakat luas, agar perjuangan tokoh bangsa tidak hilang ditelan zaman.

2. Menggunakan momentum ini tidak untuk mengeluh atau saling menyalahkan, melainkan untuk berbicara jujur tentang realitas hari ini serta merumuskan solusi yang komprehensif dan strategis.

3. Meneruskan warisan suara kenabian sebagaimana diwariskan oleh para pemuka agama—khususnya para uskup: Mgr. Staverman, Mgr. Monninghoff, Mgr. Laba Ladjar, Mgr. John Philip Saklil, Pastor Neles Tebay, Mgr. Yanuarius You, dan Mgr. Bernardus Baru OSA; serta Presiden B.J. Habibie dan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)—dengan memperjuangkan jalan damai secara bermartabat demi menyelamatkan manusia, budaya, dan alam semesta Papua sebagai paru-paru dunia yang tersisa di kawasan Asia-Pasifik. Untuk itu, kita perlu bersolidaritas secara sungguh-sungguh dan bergandengan lintas agama, akademisi, organisasi masyarakat sipil, jurnalis, politisi, dan masyarakat sipil di Indonesia serta berbagai wilayah.

4. Menolak segala bentuk penggadaian kekayaan alam Papua oleh Pemerintah Indonesia untuk kepentingan segelintir pihak kepada bangsa asing. Kami menyerukan kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Prabowo Subianto dan para menteri terkait, untuk menghentikan praktik pencurian emas dan penghancuran alam semesta bangsa Papua.

5. Mengakui dan menghormati hak-hak bangsa Papua atas politik, tanah, sumber daya alam, dan martabat kemanusiaan, serta menghentikan ancaman genosida, etnosida, dan kekerasan struktural.

6. Membangun perundingan yang jujur, damai, dan demokratis antara Bangsa Papua dan Pemerintah Indonesia, sebagaimana cita-cita yang pernah disuarakan oleh Thom Beanal di Istana Negara pada 26 Februari 1999.

*Penutup*
_Hadirin yang terhormat,_

Mari kita buka ruang diskusi. Mari kita lahirkan gagasan-gagasan strategis. Bukan untuk berduka, melainkan untuk melanjutkan perjuangan.

Sebagaimana penutup yang pernah beliau sampaikan:
"Seperti hujan yang menyambut jenazahnya di Timika, biarlah kata-kata kita menyirami tanah perjuangan yang masih haus."

Akhir kata, dengan memanjatkan syukur ke hadirat Tuhan, saya dengan resmi membuka acara Bedah dan Diskusi Buku Thom Beanal pada hari ini.

Gedung Tempo Jakarta, 6 Mei 2026

Hormat kami,

Markus Haluk
Ketua Tim Kerja Penulisan Buku Thom Beanal

semua orang
pengikut
Sorotan

𝐋𝐈𝐁𝐄𝐑𝐀𝐓𝐈𝐎𝐍 𝐔𝐍𝐈𝐓𝐘 𝐂𝐇𝐑𝐈𝐒𝐓𝐈𝐀𝐍 𝐈𝐍𝐃𝐄𝐏𝐄𝐍𝐃𝐄𝐍𝐓 - 𝐖𝐄𝐒𝐓 𝐏𝐀𝐏𝐔𝐀------------𝑻𝒖𝒓𝒖𝒕 𝑩𝒆𝒓𝒅𝒖𝒌𝒂 𝑲𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓𝒈𝒂 𝑩𝒆𝒔𝒂𝒓 𝑳𝑼𝑲𝑰-𝑾𝑷.Keluarga besar LUKI-...
05/05/2026

𝐋𝐈𝐁𝐄𝐑𝐀𝐓𝐈𝐎𝐍 𝐔𝐍𝐈𝐓𝐘 𝐂𝐇𝐑𝐈𝐒𝐓𝐈𝐀𝐍 𝐈𝐍𝐃𝐄𝐏𝐄𝐍𝐃𝐄𝐍𝐓 - 𝐖𝐄𝐒𝐓 𝐏𝐀𝐏𝐔𝐀
------------

𝑻𝒖𝒓𝒖𝒕 𝑩𝒆𝒓𝒅𝒖𝒌𝒂 𝑲𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓𝒈𝒂 𝑩𝒆𝒔𝒂𝒓 𝑳𝑼𝑲𝑰-𝑾𝑷.

Keluarga besar LUKI-WP, turut berduka cita atas meninggalnya 𝗣𝗘𝗟𝗧𝗨 𝗧𝗶𝗹𝗮𝘀 𝗨𝗮𝗴𝗮, pada tanggal 4 mei 2026 di kampung halamannya 𝗝𝗮𝗯𝗲𝗻𝗱𝗶𝗹𝗶, tepat pada jam 10 malam.

𝗧𝘂𝗮𝗻 𝗧𝗶𝗹𝗮𝘀 𝗨𝗮𝗴𝗮, meninggal dunia dikarenakan sakit yang di deritanya, selama almarhum hidup, almarhum turut mengambil bagian dalam 𝗢𝗿𝗴𝗮𝗻𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗣𝗲𝗿𝗹𝗮𝘄𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗯𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗣𝗮𝗽𝘂𝗮 𝗟𝗨𝗞𝗜-𝗪𝗣.

𝗣𝗘𝗟𝗧𝗨 𝗧𝗶𝗹𝗮𝘀 𝗨𝗮𝗴𝗮, semoga kebaikan dan pengorbanan yang sudah anda lalui bersama keluarga besar 𝗟𝗨𝗞𝗜-𝗪𝗣, akan kami kenang dalam sisa perjuang dan setiap proses yang akan kami tempuh untuk mendapatkan 𝗞𝗲𝗯𝗲𝗯𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗻𝗴𝘀𝗮 𝗣𝗮𝗽𝘂𝗮.

Semoga Tuhan Yesus menyambut kep**angan anda dengan sorak-sorai Malaikat Surga 𝗣𝗘𝗟𝗧𝗨 𝗧𝗶𝗹𝗮𝘀 𝗨𝗮𝗴𝗮.

Kami akan kenang selalu jerih paya yang kami lalui bersama dalam setiap proses, jika di kemudian waktu kami mendapatkan Kebebasan, kami akan mengukir setiap cerita kepada sanak saudara yang ditinggalkan. Damai Tuhan Besertamu.

𝐿𝑎𝑝𝑎𝑔𝑜, 5 𝑀𝑒𝑖 2025

01/05/2026

*WEST PAPUA ARMY (WPA) MENGGUGAT KEJAHATAN ANEKSASI ADMINISTRASI PADA 01 MEI 1963.*

*I. PENGANTAR;*
Sejarah panjang bangsa Papua Barat adalah sejarah tentang Eksistensi harga diri, ketangguhan, dan perjuangan tiada henti melawan penindasan.

Artikel sejarah politik ini ditulis sebagai refleksi kritis sekaligus deklarasi kebenaran menyambut Hari Ulang Tahun ke-7 Tentara Papua Barat (*West Papua Army* / WPA) yang jatuh pada tanggal *1 Mei 2026*.

Tulisan ini bertujuan untuk membongkar kembali lembaran kelam sejarah aneksasi (pencaplokan) administrasi yang terjadi pada 1 Mei 1963, menguraikan evolusi perlawanan rakyat Papua dari kelompok-kelompok gerilya hingga menyatu menjadi sebuah Tentara Bangsa, dan menggugat secara hukum tata cara pendudukan yang cacat moral serta melanggar hukum internasional.

*II. HAK PENENTUAN NASIB SENDIRI*;
Perjuangan untuk mencapai cita-cita luhur kemerdekaan dan kedaulatan Rakyat Papua Barat bukanlah sebuah kejahatan, melainkan **kebutuhan dasar hidup dan Hak Asasi Manusia (HAM)**.
Hak ini wajib dihormati, dilindungi, diakui, dan dipertahankan oleh setiap manusia di atas planet bumi.
Eksistensi bangsa Melanesia di wilayah *West New Guinea* (Papua Barat) adalah fakta rasial, kultural, dan historis yang tidak bisa dihapus.

Secara identitas, bangsa Papua memiliki akar antropologi yang sangat berbeda dari identitas wilayah lain yang membentuk kesatuan Indonesia.

Menurut Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Resolusi Majelis Umum PBB No. 1514 (XV), setiap bangsa memiliki hak mutlak untuk menentukan nasibnya sendiri (*Self-Determination*) demi membebaskan diri dari belenggu kolonialisme.

Sebagai referensi, sejarah dunia mencatat bahwa hak penentuan nasib sendiri ini telah diberikan kepada bangsa-bangsa seperti **Timor Leste (1999)** dan **Sudan Selatan (2011)**.
Komunitas internasional mengakui kedaulatan mereka setelah melalui perjuangan panjang melawan pendudukan asing dan krisis kemanusiaan yang mendalam.
Hal yang sama secara prinsip dan prosedur hukum internasional berlaku Sah bagi bangsa Papua.

*III. TIGA KOMPONEN UTAMA PERJUANGAN BANGSA PAPUA BARAT*.
Gerakan perjuangan Papua Barat yang telah berlangsung selama 65 tahun (1961–2026) tidak digerakkan oleh satu kelompok saja, melainkan ditopang kokoh oleh tiga pilar kekuatan utama:

1. *Kekuatan Komponen Rakyat Sipil Politik:*
Sayap Rakyat Merupakan penggerak utama di dalam negeri dan perkotaan.
Ini melibatkan mahasiswa, tokoh adat, tokoh agama, perempuan, dan rakyat sipil yang melakukan perlawanan secara damai untuk menyuarakan ketidakadilan dan hak penentuan nasib sendiri.

2. *Kekuatan Komponen Pertahanan Militer Papua:*
Sayap Militer Merupakan Perisai bangsa.
Mereka berjuang secara gerilya di hutan-hutan dengan mengangkat senjata demi mempertahankan tanah leluhur.
Tugas utama militer ini bukan hanya berperang saja, tetapi juga *melindungi alam semesta, hutan, dan tanah Papua* dari perampokan sistematis, penebangan hutan ilegal, kerusakan lingkungan hidup, hingga eksploitasi investasi asing dan oligarki kapitalis yang mengatasnamakan Negara, Pembangunan dan berkedok "Proyek Strategis Nasional". dll

3. *Kekuatan Komponen Diplomasi Politik Internasional:*
Sayap Diplomasi Merupakan ujung tombak perjuangan di luar negeri yang bertugas mencari dukungan dari negara-negara PBB dan lembaga internasional untuk membawa kasus Papua melalui Mekanisme Unternasional kemeja Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB.

Kombinasi dari tiga kekuatan ini sangatlah vital dan utama.
Di belahan dunia lain, kesuksesan perjuangan pembebasan nasional selalu bergantung pada tiga komponen ini.

Contohnya, perjuangan rakyat **Afrika Selatan** menumbangkan rezim Apartheid yang memadukan protes rakyat sipil, sayap militer *Umkhonto we Sizwe*, dan lobi diplomasi internasional (Nelson Mandela,dkk).
Ketiganya harus bergerak serentak bagai tiga tungku batu yang menyangga satu kuali besar untuk kemerdekaan.

*IV. SEJARAH PEMBENTUKAN DAN PERJUANGAN MILITER PAPUA BARAT*.
Pertahanan militer di tanah Papua lahir dari rahim rakyat yang berjuang dan telah berkorban jiwa-raga demi Papua Merdeka.

Cikal bakal pertahanan ini berevolusi secara bertahap:

1. *Sejak 1961:*
Dimulai dari pembentukan *Papua Vrijwilligers Korps* (PVK) oleh Belanda, yang melatih pemuda asli Papua menjadi tentara profesional.

2. *Sejak 1963-1964:*
Setelah masuknya Indonesia dan dibubarkannya PVK, mantan pasukan PVK yang dipimpin oleh Permenas Ferry Awom dan kawan-kawan mendirikan **Batalyon Kasuari** dan **Batalyon Mambruk** di Manokwari sebagai bentuk perlawanan bersenjata yang pertama.

3. *Sejak 16 Maret 1973:*
Pembentukan **Tentara Pembebasan Nasional (TPN-OPM)** di Markas Besar Victoria, Tanah Waris.

4. *Sejak 2005:*
Munculnya **Tentara Nasional Papua Barat (TNPB)** yang dideklarasikan di Serui.

5. *Sejak 2006:*
Pembentukan **Tentara Revolusi West Papua (TRWP)** di Blak Wara, Vanimo, Papua Nugini.

6. *Sejak 01 Mei 2019:*
Puncaknya, seluruh komando militer menyadari bahwa mereka hanya memiliki satu musuh (penjajah) dan satu tujuan (merdeka).
maka Melalui proses rekonsiliasi yang panjang, komando TPNPB, TNPB, TRWP, dan Dewan Militer TPNPB, berkoordinasi dan bersatu mendeklarasikan **Tentara Papua Barat (*West Papua Army* / WPA)** di Markas Besar Yako, Vanimo, PNG.

WPA memilih tanggal *1 Mei sebagai hari deklarasi persatuan bukan tanpa alasan.
Tanggal 1 Mei 1963 adalah hari terjadinya *Aneksasi atau Peralihan Adiministrasi **, di mana UNTEA/PBB menyerahkan administrasi Papua kepada Indonesia tanpa persetujuan Orang Asli Papua.
Oleh karena itu, lahirnya WPA pada tanggal tersebut bertujuan untuk menyatakan secara tegas penolakan dan menggugat kejahatan sejarah tersebut.

Seperti halnya *Continental Army* di Amerika Serikat saat mengusir penjajah Inggris, atau *Tentara Pembebasan Rakyat* di berbagai negara dunia, karena militer sejati adalah kekuatan yang berasal dari rakyat, dibentuk oleh rakyat, dan bertugas murni untuk melindungi kemerdekaan rakyat.

*V. PERPECAHAN DAN REKONSILIASI MILITER PAPUA BARAT*.

Intelijen militer Indonesia selama puluhan tahun memanfaatkan taktik *devide et impera* (pecah belah) untuk menghancurkan persatuan perlawanan dari dalam, menciptakan konflik agar sesama pejuang Papua saling membunuh, dan6 menjadikan perpecahan itu sebagai bahan kampanye internasional bahwa "Papua belum siap Merdeka".
Buat
* **Fase Perpecahan:** Pada tahun 1975, terjadi perpecahan internal di kubu TPN-OPM antara faksi Brigjen Seth Rumkorem (Presiden Pemerintah Revolusi Sementara / TPN-OPM MARVIK) dan faksi Yakob Prai (Ketua Senat / TPN-OPM PMK).
Perpecahan ini merambat ke seluruh daerah pertahanan di Papua.

*Fase Rekonsiliasi dan Kesadaran (2004-2007):*
Pada tahun 2004, tim kerja rekonsiliasi dibentuk. Kemudia tanggal *1 Juli 2005*, kedua pihak (TPN/OPM MARVIK dan TPN/OPM PMK) bersatu dalam format **Dewan Militer TPNPB** yang diketuai oleh Brigjen Richard Yoweni di Markas Bewani, PNG.
Keputusan paling bersejarah saat itu adalah para Pendiri dari TPN-OPM MARVIK dan TPN-OPM PMK bersepakat Bersatu serta **memisahkan Struktur Militer dari Struktur organisasi Politik OPM**, dengan argumen bahwa tentara adalah milik seluruh rakyat maupun organisasi politik di Papua Barat, bukan hanya milik satu faksi (OPM).

*Dinamika Kongres Regional:* Upaya persatuan terus dilakukan di berbafai wilayah, seperti Kongres TPN.OPM di Merauke 2004, yang mengangkat Jenderal Bernard Mawen sebagai Panglima,, Kongres TPN.OPM di Ilaga 2005 yang mengakat Jenderal Titus Murib sebagai Panglima,, Kongres TPN.OPM, di Boda 2006 yang mengangkat Jenderal Mathias Wenda sebagai Panglima,, Kongres TPN.OPM di Tingginambut 2006, yang mengangkat Jenderal Goliat Tabuni sebagai Panglima, hingga Kongres TPN. OPM di Grime Nawa 2007, yang mengangkat Mayjen Abubakar Wenda sebagai Panglima, dan juga ada beberapa Konggres Militer yang terjadi di Biak, Paniai, Manokwari, dan Sorong, dll

*Jalan Menuju WPA (2017-2019):** Kesadaran bahwa perpecahan harus segera diakhiri maka memuncak pada KTT ke-II *United Liberation Movement for West Papua* (ULMWP) di Nakamal, Vanuatu (2017). Para utusan militer dari TPNPB, (Sebby Sambom), dari TRWP, (Yalpi Yikwa), dari TNPB (Edison Waromi,) dari TPN/OPM, (Jefri Bomanak Pagawak) dan dari Dewan Militer TPNPB, (Yona Wenda, dan Nikolaus Hipohau) secara resmi meminta ULMWP menjadi mediator.

Atasa Dasar permintaan tersebut ULMWP melalui Departemen Pertahanan dan Keamanan ULMWP (Tuan Menase Tabuni selaku kepala Departemen) membentuk Panitia yang terdiri dari perwakilan setiap Markas Pertahanan untuk melakukan sosialisasi rekonsiliasi di masing-masing panglima komando pertahanan sepanjang satu tahun 2018, dan kemudia selama 4 bulan (Januari - April 2019) persiapan dan terlaksananya Kongres Luar Biasa WPA tepat pada 1 Mei 2019.

Alasan mutlak penyatuan menjadi WPA adalah:

1. Tentara berasal dari rakyat dan untuk pembebasan rakyat.

2. Setiap faksi yang berstatus kombatan adalah entitas tunggal Tentara Bangsa Papua.

3. Perpecahan adalah kelemahan kita dan keuntungan bagi musuh.

4. Militer wajib tunduk pada otoritas sipil-politik (ULMWP) serta wajib mematuhi Hukum Humaniter Internasional dalam setiap gerakannya.

*VI. TPNPB, TRWP, DAN TNPB ADALAH TENTARA BANGSA PAPUA BARAT*

Menyongsong hari esok, **Jumat, 1 Mei 2026**, Tentara Papua Barat (WPA) akan merayakan ulang tahun Persatuannya yang ke-7.

Pada momentum yang sangat bersejarah ini, WPA menyampaikan pesan khusus kepada seluruh kombatan dan rakyat bangsa Papua:
* Terus pelihara Persatuan, jaga Api Revolusi kemerdekaan agar terus menyala abadi.
* Perkuat rekonsiliasi ke bawah dan perluas Struktur Komando di seluruh wilayah tanah air.
* WPA akan terus setia mengawal perjuangan ULMWP di meja diplomasi politik internasional.

**DEKLARASI GUGATAN KEJAHATAN SEJARAH**
Pada usia yang ke-7 ini, Tentara Papua Barat (WPA) dengan tegas mendeklarasikan kepada Dunia bahwa: **PENDUDUKAN INDONESIA ATAS BANGSA MELANESIA DI WILAYAH WEST PAPUA ADALAH ILEGAL DAN CACAT HUKUM!**

Rentetan peristiwa di bawah ini membuktikan adanya rekayasa dan kejahatan sejarah terhadap bangsa Papua:

1. *19 Desember 1961:* Kejahatan Invasi Militer TRIKORA (Hanya 18 hari setelah deklarasi Manifesto Politik bangsa Papua 1 Desember 1961).

2. *15 Agustus 1962:*
Kejahatan Perjanjian New York yang sama sekali tidak melibatkan wakil Orang Asli Papua dalam Perundingan yang membahas nasib dan masa depan bangsa Papua.

3. *01 Mei 1963:*
Kejahatan Aneksasi Administrasi oleh UNTEA kepada Indonesia tanpa persetujuan pemilik dan pemegang hak adat atas tanah, ari dan udarah Rakyat Papua.

4. *07 April 1967:*
Kejahatan perampokan sumberdaya alam/ekonomi ketika rezim Indonesia menandatangani Kontrak Karya dengan PT. Freeport, jauh sebelum PEPERA 1969 dilaksanakan.

Atas dasar fakta-fakta sejarah yang tak terbantahkan tersebut, persatuan WPA bukan sekadar wacana bersenjata, melainkan wujud kekuatan hukum yang menggugat dan menolak seluruh bentuk penjajahan berdasarkan prosedur Hukum Internasional dan Resolusi PBB.

*HAL OPM Mengucapkan Selamat Merayakan Hari Ulang Tahun yang ke-7, Tentara Papua Barat (West Papua Army).*

*Satu Komando, Satu Tujuan untuk Papua Merdeka!*

By; Pemimpin Honai Aliansi Organisasi Papua Merdeka (HAL OPM)

Markas Pertahanan Wilayah Mamberamo Central.
Wanui 30 Mei 2026.

Sorotan
pengikut
semua orang

*SAMBUTAN PRESIDEN UNITED LIBERATION MOVEMENT FOR WEST PAPUA (ULMWP)****DALAM RANGKA MEMPERINGATI HUT KE-07 WEST PAPUA A...
01/05/2026

*SAMBUTAN PRESIDEN UNITED LIBERATION MOVEMENT FOR WEST PAPUA (ULMWP)**

**DALAM RANGKA MEMPERINGATI HUT KE-07 WEST PAPUA ARMY (WPA), Hari Jumat 01 Mei 2026*

**Kepada seluruh Patriot, Kombatan, dan Tentara Bangsa Papua Barat di setiap garis depan perjuangan, di rimba, di gunung, di lembah, di pesisir pantai dan di setiap Markas Pertahanan Militer Papua Barat,*

_Salam Pembebasan!_

Pada hari ini, Jumat, 1 Mei 2026, di bawah Perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa, Roh para leluhur, dan Keagungan alam tanah Papua yang terus menangis menanti keadilan, kita berdiri bersama untuk memperingati **Ulang Tahun yang ke-07 West Papua Army (WPA).**

Sebagai Pemimpin ULMWP, hati dan jiwa saya senantiasa berada bersama kalian—para pejuang gerilya yang rela mempertaruhkan nyawa, meninggalkan kenyamanan, dan mengorbankan segalanya demi eksistensi, identitas, harga diri, dan hak asasi manusia bangsa Papua untuk menentukan nasibnya sendiri.

Perjuangan kita bukanlah sebuah pemberontakan buta, melainkan sebuah panggilan suci.
Kalian adalah tameng kemanusiaan dan penjaga martabat bangsa.

*Gugatan Terhadap Kejahatan Sejarah*
Kita memilih tanggal 1 Mei bukan tanpa alasan. Persatuan WPA bukan sekadar wacana bersenjata, melainkan wujud kekuatan hukum yang menggugat dan menolak seluruh bentuk penjajahan berdasarkan prosedur Hukum Internasional dan Resolusi PBB.
Tanggal 1 Mei adalah hari di mana kita mengingat kembali rentetan rekayasa dan kejahatan sejarah yang dilakukan terhadap bangsa kita—sebuah dasar gugatan yang tak akan pernah kita lupakan terhadap Indonesia, Belanda, Amerika, dan PBB yaitu;

*19 Desember 1961:*
Kejahatan Invasi Militer TRIKORA, yang diluncurkan hanya 18 hari setelah deklarasi Manifesto Politik bangsa Papua pada 1 Desember 1961.

*15 Agustus 1962:*
Kejahatan Perjanjian New York, sebuah transaksi gelap yang sama sekali tidak melibatkan satu pun wakil Orang Asli Papua dalam perundingan yang menentukan masa depan bangsa kita sendiri.

*1 Mei 1963:*
Kejahatan Aneksasi Administrasi oleh UNTEA kepada Indonesia, sebuah penyerahan paksa tanpa persetujuan orang asli Papua sebagai pemilik sah tanah, air, dan udara Papua.

*7 April 1967:*
Kejahatan perampokan sumber daya alam dan ekonomi, ketika rezim Indonesia menandatangani Kontrak Karya dengan PT. Freeport, jauh sebelum PEPERA 1969 yang penuh rekayasa itu dilaksanakan.

Oleh karena itu, lahirnya WPA pada tanggal 1 Mei adalah sebuah deklarasi tegas: *Kita menolak tunduk pada kejahatan sejarah!*

*Evolusi, Air Mata, dan Kesadaran Menuju WPA*
Pertahanan militer di tanah Papua lahir dari rahim rakyat. Seperti halnya *Continental Army* di Amerika atau *Tentara Pembebasan Rakyat* di berbagai belahan dunia.
Militer sejati adalah kekuatan yang dibentuk oleh rakyat dan bertugas murni untuk melindungi kemerdekaan rakyat.

Sejarah mencatat bahwa cikal bakal Militer Papua telah melalui proses rekonsiliasi dan perjalanan panjang yang berdarah-darah:

1. *Pada thn 1961:** Dimulai dari Papua Vrijwilligers Korps (PVK).

2. *Tahun 1963-1964:** Lahirnya Batalyon Kasuari dan Batalyon Mambruk di bawah pimpinan Permenas Ferry Awom dan kawan-kawannya sebagai bentuk perlawanan bersenjata pertama.

3. *Tahun 16 Maret 1973:*
Pembentukan Tentara Pembebasan Nasional (TPN-OPM) di Markas Besar Victoria.

4. *Tahun 2005:*
Deklarasi Tentara Nasional Papua Barat (TNPB) di Serui.

*Tahun 2006;*
Pendirian Tentara Revolusi West Papua (TRWP) di blackwara, Vanimo. PNG.

Kita juga tidak boleh menutup mata terhadap sejarah kelam kita sendiri. Selama puluhan tahun, intelijen militer Indonesia menggunakan taktik busuk *devide et impera* (pecah belah) untuk menghancurkan kita dari dalam.
Mereka menciptakan konflik agar sesama pejuang Papua saling membunuh, bermula dari perpecahan TPN-OPM (faksi MARVIK dan PMK) pada tahun 1975, dan menjadikan darah saudara kita sebagai kampanye internasional bahwa "Papua belum siap merdeka."
Namun, kesadaran itu akhirnya tumbuh.
Melalui Kongres internal yang panjang dari 2004 hingga 2007, kita sepakat memisahkan struktur militer dari organisasi politik, menegaskan bahwa tentara adalah milik seluruh rakyat Papua Barat.
Puncaknya, melalui mediasi ULMWP setelah KTT ke-II di Vanuatu (2017), seluruh komando militer menyadari satu hal mutlak: **Kita hanya memiliki satu musuh adalah penjajah, dan satu tujuan yaitu merdeka.*

Maka Pada **1 Mei 2019**, TPNPB/OPM, TRWP, TNPB, dan Dewan Militer TPNPB berkomitmen untuk BERSATU, Mendirikan dan Mendeklarasikan diri sebagai *Tentara Papua Barat (West Papua Army / WPA)*.

*Empat Pilar Persatuan Militer WPA*
Kita menyatu di bawah payung WPA karena empat alasan yang tidak bisa ditawar:
1. Tentara berasal dari rakyat dan berjuang murni untuk pembebasan rakyat.
2. Setiap faksi kombatan kini telah bersepakat menjadi Satu entitas tunggal yaitu Tentara Bangsa Papua.
3. Perpecahan adalah kelemahan kita dan merupakan senjata paling ampuh bagi musuh.
4. Militer wajib tunduk pada otoritas sipil-politik (ULMWP) serta wajib menjunjung tinggi dan mematuhi Hukum Humaniter Internasional dalam setiap gerakannya.

WPA adalah tentara profesional kebanggaan bangsa, sejajar dengan tentara di negara merdeka lainnya.

*Deklarasi Kejahatan Sejarah dan Pesan HUT ke-07 WPA*
Hari ini, di usia persatuan yang ke-7 tahun, Tentara Papua Barat (WPA) berdiri tegap dan mendeklarasikan kepada seluruh dunia bahwa:
*PENDUDUKAN INDONESIA ATAS BANGSA MELANESIA DI WILAYAH WEST PAPUA ADALAH ILEGAL DAN CACAT HUKUM!"*

Kepada seluruh kombatan dari perwira Pertama, Menengah dan Tunggi serta komponen rakyat bangsa Papua, pada momentum bersejarah ini, saya menyampaikan tiga amanat perjuangan:
*Pertama:*
Terus pelihara persatuan WPA. Jaga api revolusi kemerdekaan agar terus menyala abadi di dalam Jiwa setiap prajurit. Jangan biarkan musuh kembali menyusup dan memecah belah kita.

*Kedua:*
Perkuat rekonsiliasi ke tingkat bawah dan perluas struktur komando di seluruh wilayah tanah air Papua Barat.
Konsolidasi adalah kunci kekuatan kita.

*Ketiga:*
WPA harus terus setia mengawal perjuangan politik ULMWP di dalam dan di tingkat diplomasi politik internasional.

Senjata kalian di hutan adalah kekuatan tawar diplomasi kita di PBB dan komunitas global.

Saudara-saudaraku, jalan di depan mungkin masih terjal, peluru mungkin masih akan meleset, namun kebenaran sejarah tidak akan pernah bisa dibungkam oleh moncong senjata penjajah.

Tetaplah berpegang dengan kehormatan teguh pada nilai-nilai kemanusiaan, moralitas, dan spiritualitas bangsa Melanesia.

Selamat Ulang Tahun yang ke-07, West Papua Army!
Tuhan memberkati perjuangan suci bangsa Papua.

*Satu Komando, Satu Tujuan untuk Papua Merdeka!*

United Liberation Movement for West Papua

*MENASE TABUNI*
Presiden Eksekutiv

pengikut
semua orang
Sorotan

Address

Jakarta
Baghdad
547621

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when LUKI-WP.Com posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to LUKI-WP.Com:

Share

Category